Side To Side

Side To Side
SPECIAL EPISODE 2



SIDE TO SIDE


SPECIAL EPISODE 2


“Brian bangun.. Brian..!” Elisa membangunkan Brian yang tertidur nyenyak di sofanya.


“Err...Elisa..sory aku tertidur.”


“Pulanglah Brian, istirahatlah di rumah...” Elisa berjalan menuju pantry.


“Bagaimana kakimu?” Tanya Brian. Tangannya merenggang ke atas untuk melenturkan otot-ototnya.


“Nggak apa-apa, kau lihat aku bisa berjalan dengan baik.” Elisa mengambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas.


“Mau aku bantu?” Brian bangkit dan mendekati Elisa.


“Duduklah aku bisa memasak sendiri.” Elisa meracik sayur dan bumbunya.


“Kemarikan..” Brian membantu Elisa memotong sayuran.


“Te..terima kasih..” Jantung Elisa berdegup kencang karena tubuh mereka terlalu berdekatan.


“Aku harus pindah ke apartemen yang lebih luas.” Pikir Elisa gugup.


“Kau nggak pulang??”


“Nggak.. akukan sudah janji akan bertanggung jawab.”


“Habis makan kau pulang saja.” Usir Elisa.


“Hm..aku sudah telefon Carl untuk mengirimiku pakaian ganti.”


“Kau???!!!!” Elisa kehabisan kata-kata.


“Duduklah, biar aku yang memasak.” Brian menggandeng Elisa duduk di kursi tinggi dekat meja pantry.


“Ah sudahlah, ini lebih baik dari pada harus berdempetan dengannya.” Elisa menghela nafas, membiarkan Brian memasak.


“Kau bisa masak?” Tanya Elisa..


“Enggak. Tapi segala sesuatu pasti bisa dipelajari.” Jawab Brian enteng.


“Dasar anak orang kaya..” Elisa tertawa.


“Aku cek di internet dulu.”


Brian mengeluarkan ponselnya, membaca beberapa paduan resep dan menghafalkan caranya. Dengan cekatan Brian memasak dan menghidangkannya pada Elisa.


“Sudah matang.. tumis daging pedas, lalu ada semur kentang dan brokoli. Cobalah.” Brian sepertinya sangat antusias menunggu penilaian Elisa.


“Wah.. gila.. nggak kaya orang yang baru pertama kali memasak. Kau Hebat!!” Seru Elisa sambil mengambil garpu di dekatnya.


“Rasanya?”


“Enak..ini enak..” Elisa menyuap sekali lagi makanan di depannya.


“Not bad.” Brian menyicipi masakannya juga.


“Emang ya, IQ 200 itu berbeda, coba sekali saja langsung berhasil.” Puji Elisa, wajahnya terlihat senang.


“Good food good mood.” Brian senang melihat senyuman Elisa.


“Habiskan!!” Elisa berteriak senang.


Ting tong..


“Kelihatannya bajuku datang. Aku akan mandi.” Brian berjalan menuju arah pintu keluar.


“Ah.. Aku lupa harus menyuruhnya pulang.” Gara-gara makan makanan enak Elisa melupakan hal ini.


“Elisa kau punya handuk? Carl lupa membawakannya.” Brian bertanya.


“Cari saja di lemari, di dalam laci sebelah kanan.” Elisa berteriak.


“OK.”


Tiba-tiba Elisa menghentikan suapannya.


“Eh..semua pakaian dalamku ada di situ..!!” Pikir Elisa.


Dengan secepat kilat Elisa kembali masuk ke dalam kamarnya dan berusaha mencegah Brian mbuka lemari. Tiba-tiba saja kakinya yang terluka tak terasa sakit karena terlalu panik.


“Jangan buka lemarinya.” Elisa mencoba menutup lemari dan membuat kepala Brian terantuk..


“Aduh..!” Pekik Brian.


“Maaf..maaf.. nggak sengaja!! E... aku saja, aku ambilkan handuknya.” Elisa membuka perlahan lemari pakaiannya, Brian mundur beberapa langkah ke belakang.


“Ini handuknya, maaf hanya ada yang berwarna pink.” Elisa terkikih.


Sebenarnya ada banyak warna lainnya, tapi hanya motif bunga berwarna pink yang paling lebar. Elisa juga ingin membayangkan tubuh kekar Brian yang memakai handuk warna pink. Pasti terlihat sangat manis.


“Trims..”


“Sama-sama..”


“Oh ya Elisa.. apa kau selalu memakai yang seperti itu?” Brian menunjuk ke arah pakaian dalam Elisa yang penuh dengan corak leopard dan berrenda.


“Nggak!! Cepetan mandi!!” Teriak Elisa sebal. Padahal sudah berusaha di tutupin, kenapa masih ada aja yang kelihatan.


Elisa tertatih-tatih dan mengelus pelan kakinya yang linu karna bergerak cepat..


“Sialan..ada Brian bukannya membaik malah lebih sakit!!” Elisa menautkan alisnya.


Belum sampai di sini saja cobaan yang di alami Elisa.


“Ah..mandi air hangat memang yang terbaik.” Brian keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya.


Elisa tercengan dengan pemandangan ini.


“Kau??!! Kau??! Kenapa nggak pakai baju??!!” Elisa memalingkan wajahnya yang semerah kepiting rebus.


“Oh, baju bersihku ada di sofa, aku akan mengambilnya.” Brian tenang saja dan melangkah keluar kamar.


“Aku sudah nggak tahan lagi Ya Tuhan.. aku benar-benar bisa mati karna sakit jantung!!” Pikir Elisa.


Elisa bangkit berdiri dan mendorong tubuh Brian keluar dari pintu apatermennya.


“Wei wei tunggu, apa yang kau lakukan Lisa??” Brian tampak kaget dengan kelakuan Elisa.


“Pulanglah..!!” Elisa melemparkan paper bag berisi baju Brian.


“Elisa??!”


BLAM.. pintu tertutup.


“Elisa buka pintunya.” Brian menggedor-gedor pintu.


“Nggak mau!! Pulang!!”


“Setidaknya biarkan aku pakai baju dulu!!” Teriak Brian.


“Pakai saja di kamar mandi lobby.” Teriak Elisa dari dalam.


“Lisaa.. Buka!!”


Beberapa tetangga keluar untuk melihat ada keributan apa. Mereka terpesona dengan tubuh Brian yang hanya memakai handuk pink. Brian menggigit bibirnya sebal, sekaligus menahan malu.


“Berapa no kode rumahnya?? Tanggal lahir?” Brian memencet no sesuai urutan tanggal lahir Elisa.


“Bukan!? Digit terakhir Ponsel juga pasti bukan, apa tanggal lahir ibunya??” Brian mengingat-ingat, untung saja otaknya mampu menyimpan banyak angka.


“Bukan juga!!! Sialan dingin banget!!!” Brian masih memikirkan kode masuk ke dalam kamar Elisa.


“Masa sih??!” Brian mencobanya, biasa dia memakai tanggal lahir Renny untuk masuk ke apartemennya.


“Nggak ku sangka berhasil.” Brian mengepalkan tangannya senang.


Brian mengangguk pada para tetangga Elisa dan bergegas masuk kembali ke apartemennya.


“Uhuk...Bagaimana kau bisa masuk?!” Elisa kembali syok, air minumnya meluber keluar mulut.


“Kau kejam sekali?!” Brian mendekati Elisa.


“Oke tolong pakai bajumu dulu.” Pinta Elisa.


Brian kembali masuk ke dalam kamar dan memakai bajunya. Rambutnya masih sedikit basah, membuat kegantengannya naik 200%.


“Ganteng banget ya Tuhan..!” Elisa serasa ingin menangis.


“Aku nggak akan pulang!!”


“Kau harus pulang!!”


“Kakimu semakin bengkak.” Brian berjongkok di depan Elisa.


“Semua karena kamu ada disini?!”


“Makanya biarkan aku merawatmu.”


“Kau malah membuatnya semakin buruk Brian.”


“Kenapa?”


“Kau keluar kamar mandi tanpa memakai pakaian.. aku wanita kamu pria..!!!” Elisa merasa sebal, haruskan hal seperti ini di jelaskan pada orang yang sudah dewasa.


“Ah..maaf.. aku terbiasa hidup sendiri, jadi tanpa sadar aku mengulang kebiasaanku saat di rumah.” Jawab Brian.


“Tetap saja ini tidak baik untuk jantungku.” Elisa bergumam lirih.


“Kenapa dengan jantungmu?”


“Bekerja terlalu keras.” Gerutu Elisa kesal kenapa cowok ini nggak peka banget.


“Oke. Aku papah kamu ke kamar.”


“Stop!! Aku bisa sendiri.” Elisa menahan tubuh Brian mendekat.


“Ngeyel banget sih..! Apa perlu aku gendong lagi??!” Brian nekat.


“Huft.. oke papah aku saja.” Elisa menyerah.


Brian tersenyum dan membantu Elisa berjalan masuk ke dalam kamar.


“Aku akan tidur di sofa, kalau ada apa-apa kamu panggil aku saja.” Brian menutup pintu kamar Elisa.


Elisa mengambil ponselnya.


Elisa:


Renny suru kakakmu pulang!!!


Renny:


Nggak ah, nikmati aja berduaan dengan dirinya.


Elisa:


Aku tak bisa melakukan apapun, bergerak saja bingung..


Renny:


Kau salah tingkah?


Elisa:


Bagaimana mungkin tidak


Kalau ada pria yang kau cintai tinggal di rumahmu


Bahkan kentutpun tidak bisa!!!!


Renny:


Hahahahaha...


Sudah ya. Aku lagi kencan dengan Jay


Selamat bersenang-senang.


Elisa menghela nafas menerima keadaan dan mencoba tertidur.


.....................


Di lain tempat.


Jay dan Renny sedang berjalan di sekitar laut, ingin mencoba menikmati hidangan laut.


“Jay kau mau makan ini?” Renny menunjuk seekor kepiting besar.


“Kasihan..” Jay melihat mata kepiting itu membesar lalu mengecil saat Renny mecolok-coloknya.


“Tapi enak..”


Cring..


“Ada chat..” Renny mengeluarkan ponselnya.


“Siapa? Kenapa kau ketawa sendiri?” Jay kepo.


“Elisa. Brian di sana.. memaksa tinggal di rumahnya.” Jawab Renny.


“.....” Jay diam sesaat, heran kenapa sifat satu keluarga sama semua.


“Aku kasihan dengan Elisa.” Ucap Jay.


“Kenapa? Bukankah ini hal baik.” Renny mengangkat kepitingnya.


“Nasibnya sama denganku.”


“Oh..jadi dulu kamu tersiksa saat aku tinggal denganmu?” Renny ngambek.


“Sedikit..” Ledek Jay.


“Jay...!!” Renny sebel.


“Hahahaha.. bercanda.. aku suka saat kau tinggal denganku.. tapi benci dengan godaannya.” Jay mengecup pipi Renny.


“Aku memang cantik dan menawan.” Senyum Renny.


“Sedikit bodoh gak masuk hitungan ya?” Goda Jay lagi.


“Sekarang aku sudah pintar.. pintar merebut hatimu Jay.” Renny balas menggoda Jay.


“Aduh,..” Jay memegang dadanya, berpura-pura seakan-akan ada panah cinta yang menancap di dada.


“Paan sih, lebay..” Renny terkikih.


“Jadi makan kepitingnya? Kasihan dia sudah meronta-ronta di tanganmu.” Tanya Jay.


“Jadi donk.”


...........................


Hallo


Hallo..tetap nantikan ceritanya ya


Makasih Readers❤️❤️