Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 15



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 15


Kisna menatap lengan Jay yang terihat sangat sexy, sesekali dia senyum- senyum sendiri.


“Lengan cowok itu memang yang terbaik.” Pikir Kisna senang.


Jayden berbincang sebentar dengan ayah Kisna sebelum kembali menemui Kisna.


“Sudah selesai. Aku pulang dulu ya.” Pamit Jayden.


“Terimakasih kak Jay. Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Kisna malu- malu.


“Nggak usah, nanti Renny berfikir yang tidak- tidak.” Tolak Jay.


“Ah cewek jahat itu lagi, ngapain sih pake ungkit dia lagi?” Kisna tampak nggak suka.


“Kalau gitu aku traktir kopi ya kak. Karna sudah bantuin papa.” Kisna kembali meminta Jay menemaninya.


“Sory Kisna, aku harus pulang. Aku ada kencan dengan Renny.” Jayden meninggalkan Kisna.


“Oke hati- hati ya kak.” Kisna berusaha tersenyum saat Jay pergi meninggalkannya padahal hatinya terasa sangat sakit.


“Sialan!!! Apa bagusnya Renny??!” Kisna memukul boneka teddy dan merebahkan dirinya ke atas kasur.


“Ah aku ada ide.” Kisna tersenyum senang dan bergegas menelfon semua temannya.


“Jadi gitu deh, menurut kalian bagaimana?” Kisna meminta pendapat teman- temannya setelah mengutarakan niatnya.


“Kelihatannya bakalan seru.” Mira menjawab dengan senang.


“Aku yang beli peralatannya.” Mika menimpali.


“See you tomorrow gaes...” Kisna menutup video grup nya.


“Salahmu nggak mau ninggalin Jay, jadi jangan salahin aku kalau berbuat lebih jahat.”


.......................


“Aduh capek banget.” Renny menghela nafas karna lelah. Bersandar di lemari loker ruang karyawan.


Setelah seharian bekerja akhirnya jam kerja Renny berakhir, Renny membuka loker dan mengambil baju gantinya.


“Ah aku ada kencan dengan Jay hari ini.” Renny kembali menemukan semangatnya.


Renny bergegas pulang untuk mandi, hari ini Jayden punya banyak kerjaan di bengkel jadi dia nggak pulang. Mereka berjanji bertemu di depan pasar malam.


“Pakai baju apa ya??” Renny tampak bingung memilih- milih bajunya.


“Ini..ini..itu..hmm..nggak..hng..yang ini?? E..yang itu?” Renny membongkar hampir semua baju di lemarinya.


“Ah ini saja.” Akhirnya Renny memilih atasan model sabrina berwarna merah dengan kerutan di bawah dada, dipadukan dengan celana jean panjang berwarna biru tua, memperlihatkan perutnya yang ramping. Renny memakai sepatu barunya dan sling bag berwarna senada.


“Semprot semprot.” Renny menyemprotkan minyak wangi ke seleuruh tubuhnya.


“Cup..cep..cup..” Renny meratakan liptint di bibirnya, membuat warna ranum yang menggoda.


“Oke sudah siap, berangkat ah.”


Renny melihat Jayden sudah berdiri di depan loket, Renny tersipu melihat wajah Jayden yang lebih tampan dari biasanya. Mungkin karna model rambutnya yang berbeda, Jayden menggunakan pomade untuk membuat rambutnya lebih tertata dengan rapi. Jayden memakai celana jean rapped, untuk bajunya Jayden memakai kaos polos berwarna hitam dipadukan dengan kemeja kotak- kotak. Tak lupa spatu kets biru navy dan bum bag berwarna senada.


“Aih ganteng banget.” Renny serasa ingin meleleh.


“Kak tukeran nomer donk, kakak ganteng banget.” Seorang cewek mendekati Jayden dan memberikan ponselnya.


“Sory aku nungguin pacarku.” Tolak Jayden.


“Ah sayang sekali. Sudah punya pacar ya.” Cewek itu terlihat kecewa.


“Ahahahaha.. benar aku pacarnya, pergi sana..! Hush hush...” Pikir Renny dalam hati.


“Jay..!” Teriak Renny, lalu mendekat dan merangkul lengan Jayden.


“Renny?!” Jay memandang ke arah Renny yang baru saja datang.


“Halo Jay..” Renny tersenyum.


“Apa- apaan bajumu??” Jay tampak kaget dengan baju Renny.


“Kenapa dengan bajuku?” Tanya Renny bingung.


“Itu pusarmu kelihatan.” Jay menunjuk ke arah perut Renny yang ramping.


“Ini fashion.” Renny berputar.


“Tutupin.. atau kita pulang dulu ganti baju..!” Jay menggandeng tangan Renny.


“Nggak mau. Kan bajunya bagus, bajunya cantik.” Renny merenggek dan menarik tangannya dari cengkraman Jayden.


“Ganti..! Atau nggak jadi pergi..” Ancam Jay.


“Nggak mau.”


Jayden sedikit sebal dengan kelakuan Renny.


“Oke, lihat ini.” Jayden membuka kaosnya, menunjukan otot perutnya yang kencang. Semua cewek- cewek yang berada di situ langsung melirik ke arah Jayden.


“Apaan sih Jay!!” Renny menarik kaos Jay agar kembali menutup.


“Kau nggak sukakan kalau semua orang menatapku!!?”


“Iya nggak suka.”


“Aku juga begitu!! Aku nggak suka semua cowok melirik ke arahmu.”


“Jay..” Renny masih menarik kebawah kaos Jayden.


“Pakai ini.” Jay melepaskan kemeja kotak- kotak lengan panjang miliknya.


Dengan menurut Renny menerima dan memakainya.


“Padahal kencan pertama pengennya tampil menarik. Jadinya malah kaya gini.” Renny melihat lengan kemejanya yang kepanjangan.


“Itu lebih baik, ayo jalan.” Jayden menggandeng tangan Renny dan menggenggamnya erat.


“Kamu mau ini?” Jay menawarkan permen kapas kepada Renny. Berharap Renny kembali ceria.


“Waw lucu banget..” Renny terkesima melihat bentuk permen kapas, ada ayam, kepala panda, kepala beruang, kepala anjing, hello kitty.


“Kau mau yang mana?”


“Semuanya...!” Seru Renny senang.


“Kau tidak takut gendut?”


“Nggak!!”


“Pak mau beli semuanya.” Jay meminta pada penjual permen kapas.


“Uwwweee....!” Tiba- tiba seorang anak kecil yang antri di belakang menangis.


“Mama kaka itu jahat sekali.. dia membeli semua gulalinya.”


“Weeekk!! Kan aku duluan yang dapat.” Renny menjulurkan lidahnya.


“Ihdih.. sekarang kamu bikin anak orang menangis..!” Jay terkikih geli.


“Ini..” Jay memberikan sebuah permen kapas untuk anak itu.”


“Makasih kak, kakak baik deh. Ganteng lagi.” Seru anak kecil itu.


“Sama- sama.” Jay membungkuk dan mengelus rambut gadis kecil itu.


“Kalau kakak yang ini jahat!!” Cibir anak itu ke arah Renny.


“Tapikan aku cantik, jadi selalu di maafin.” Renny mencubit hidung gadis kecil tadi.


“Kakak kamu pacaran sama cewek narsis ini? Pacaran denganku saja kak..”


“Hahahahaha... boleh.” Jawab Jay senang.


“Nggak boleh, Jay cuman milikku.” Renny menarik Jayden pergi.


Jayden dan Renny mengelilingi seluruh area pasar malam, Renny mengerem langkahnya di lapak penjual pernak pernik.


“Antingnya cantik..” Renny berhenti dan sibuk melihat- lihat.


“Kau tidak pakai anting Jay?”


“Nggak nanti terlihat seperti cewek.”


“Kan fashion.. ada kok anting yang nggak perlu di tindik.” Renny mencari anting model itu.


“Coba aku lihat telingamu Jay.” Renny berjinjit untuk memasangkan anting di telinga Jayden.


“Agak aneh rasanya.” Jay membiarkan Renny memasang anting di telinganya.


“Wah kegantenganmu naik 200%!” Renny menaruh cermin di depan wajah Jay.


Wajah Jayden memerah mendengar pujian Renny.


“Aku juga mau beli, kita kembaran ya.” Renny tersenyum dan membeli anting dengan model yang sama.


“Wah pasangan yang serasi.” Pegawe toko menyapa mereka.


“Pasti mau nawarin barang..?” Tebak Renny, marketing model gini dia sudah sangat hapal saat menjadi tuan putri di kediaman Hartono.


“Hahahaha.. tau aja sih.” Senyum pegawe toko.


“Ini cincin produk baru dari kami, khusus untuk pasangan. Namanya blood ring, dari titanium, di tengahnya ada kaca kecil, kalian bisa mengisinya dengan air berwarna warni, pasir, atau bahkan dengan darah.” Terang pegawe toko.


“Creepy juga, tapi aku suka konsepnya.” Jay melihat cincin itu dengan seksama.”


“Kau mau membelinya Jay?” Tanya Renny.


“Kalau kamu mau aku beliin.” Jawab Jayden.


“Ayo kita beli.”


“Baik kami ambil satu pasang.”


“Terimakasih. Ini cincinnya dan ini lem juga kaca segelnya. Setelah kalian masukan darah kedalamnya dan mengering kalian bisa menutupnya dengan kaca ini.”


“Hahaha..serem juga.”


“Oke terima kasih.”


“Sama- sama kak, semoga langgeng.”


Renny tampak senang dan mengamati cincin yang melingkar di jari manisnya, ada darah Jay di situ, dan di cincin milik Jay ada darah Renny di dalamnya.


“Aku seneng banget Jay.” Renny bergumam.


“Perih juga ya.” Jay memlester jari tangannya dengan hansaplas.


“Aku lapar ayo makan sesuatu.” Jay menggandeng tangan Renny.


Mereka duduk di taman kota, ada sungai yang mengalir di depan mereka. Penjual keliling masih dengan sigap menjual dagangannya.


“Kau mau bakso? Sate? Soto?”


“Aku mau makan kamu aja Jay..” Goda Renny.


“Kamu habisin gulalinya sendirian jadi nggak laparkan.” Jay mengusak asik rambut Renny.


“Hehehe.. aku minum aja deh.” Pinta Renny.


Jay kembali dengan 2 kaleng softdrink, membukanya dan memberikan kepada Renny.


“Thanks.” Renny menerimanya dengan gembira.


“Bayangan bulannya terpantul di sungai.”


“Cantiknya..” Renny merebahkan kepalanya di pangkuan Jayden.


“Cincinnya juga sangat cantik.” Renny melihat kembali cincin titanium yang melingkar di jarinya.


“Baguslah kalau kamu suka.” Jay meminum soft drinknya.


“Bintangnya sangat banyak, rasanya sangat bahagia. Aku ingin seperti ini terus Jay.” Renny tersenyum dan memandang wajah Jayden.


“Iya.. aku akan selalu menyayangimu Renny, menjagamu, dan memberikan kebahagian untukmu.” Jayden membungkukkan badannya untuk mencium bibir Renny. Renny memejamkan matanya menikmati ciuman itu.


....................


“Boss, pesawatnya sudah siap, anda bisa segera naik.”


“Thanks Nicky.” Via menggandeng Andre dan berjalan keluar.


“Aku tidak apa- apa, kalau begini aku terlihat tua Via.”


“Kau bilang pinggangmu kumat lagi.” Mata Via berkaca- kaca.


“Kenapa kamu menangis?” Tanya Andre


“Aku takut kau meninggalkanku.”


“Aku tidak akan meninggalkanmu. Tiap tahun kita mengalami inikan. Lagian badanku juga sehat kok.” Andre merangkul Via.


Andre dan Via duduk di pesawat jet pribadi mereka menunggu giliran take off.


“Boss, Linda menelfon. Katanya Brian mengajak rapat dewan komisaris dan pemilik saham.”


“Oh ya? Untuk menggantikanku?” Tanya Andre.


“Iya boss, Brian tahu anda sedang sakit. Dia mengumpulkan suara untuk mendukungnya menggantikan anda.”


“Hahahaha.. anak itu, aku benar- benar membesarkan seekor srigala.”


“Jangan pikirkan Brian, kita pikirkan dulu sakitmu.” Via mengelus wajah Andre yang terlihat lesu.


Setiap tahu Andre menjalani pengobatan dan penyuntikan steam cell untuk memperbarui fungsi ginjalnya. Karna pernah tertabrak mobil ginjal Andre rusak, walaupun sudah mendapatkan tranplantasi ginjal, namun karna usia pendonor yang sudah tua mengakibatkan fungsi ginjalnya juga semakin menurun.


“Kita temui Renny dulu.” Pinta Andre.


“Nicky jangan ke Jerman, kita ke Indo dulu.” Perintah Via.


“Siap nyonya boss.”


....................