Side To Side

Side To Side
ACT 23



SIDE TO SIDE


ACT 23


Via berlari menyelusuri koridor rumah sakit, bau disinfektan terasa jelas memenuhi indra penciumannya.


Tolong Tuhan, jangan ambil mama.


Via baru saja mendapat kabar bahwa mamanya mengalami sesak nafas dan harus dilarikan ke ICU.


“Bagaiman keadaan Mama saya suster?” Via bergegas bertanya pada seorang suster yang kebetulan keluar dari pintu ICU.


“Livernya membesar dan mendesak paru-paru membuatnya sesak. Kini nyonya Riska nggak sadar dan harus dibantu alat pernafasan,” jawab suster itu.


Hati Via langsung terasa hancur, di dunia ini tinggal Mama yang menemaninya.


“Lalu tindakan dokter bagaimana?”


“Setelah kondisinya memungkinkan, mungkin akan dilakukan tindakan mengambil cairan di dalam liver yang menyebabkan livernya bengkak. Lebih lanjut mungkin bisa menghubungi dr Ethan, Nona, saya permisi.” Suster tadi beranjak pergi.


Tubuh Via seakan lemas dan tak bertenaga. Padahal selama ini Mama masih kuat, kenapa tiba-tiba jadi begini?


Via beranjak menuju ruang administrasi untuk menanyakan berapa biaya oprasi dan tindakan untuk Mamanya.


“Total biaya sampai hari ini 97 juta, dan kalau ada tindakan operasi mungkin sekitar 60 juta.” Seorang wanita paruh baya menyodorkan kertas rincian biaya kepada Via.


“Ba-baik, akan segera saya lunasi.”


“Banyak obat yang nggak ditanggung oleh jaminan kesehatan Mamamu sehingga biayanya membengkak. Saya tahu keadaanmu, Via, tapi kalau begini terus pihak rumah sakit juga tidak akan mampu menolong.” Wanita itu menggenggam tangan Via.


“Tolong jangan hentikan pengobatan Mama. Saya pasti segera melunasinya.” Mata Via berkaca-kaca.


Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum.


Via duduk lemas di depan ruang tunggu ICU, tangannya terasa begitu dingin.


Dari mana aku bisa dapat uang sebanyak itu? Sertifikat rumah sudah aku gadein ke bank. Via memejamkan matanya dan menghela napas panjang.


Via mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya. Bolehkah? Via perpikir sejenak, dan akhirnya menelfonnya juga.


“Halo Kak Andre bisa kita bertemu?”


— SIDE TO SIDE —


Andre menutup file case yang selesai di tanda tangani, Linda mengambil file itu.


“Bagaimana pergerakan perusahaan A?” tanya Andre.


“Seperti yang anda kira, mereka membeli saham kita dalam jumlah banyak sehingga bisa menaruh orang di dalam.”


“Kau tahu siapa yang akan jadi wakil mereka?”


“Nona muda mereka sendiri,” jawab Linda.


Bagus, semakin dia masuk kedalam, dia akan terjatuh semakin tinggi. Pikir Andre.


“Dia pasti sedang mencari orang untuk menjadi mata-matanya diperusahan kita.” Andre memandang Linda, seperti mengisyaratkan kalau Linda bakalan menjadi kadidat yang bagus.


“Linda, kau tahu chip yang baru aku kembangkan untuk ponsel baru kitakan? Aku mau kau bongkar semuanya pada Sinta. Pura-puralah menjadi mata-matanya.” Andre memutar kursi dengan dengan kakinya.


“Tapi Pak bukannya itu teknologi terbaru kita? Mereka pasti akan menirunya,” tanya Linda bingung.


“Ketika mereka sudah meniru teknologi itu, pastikan kau mematenkan hak ciptanya, sehingga ketika mereka launcing, mereka hanya akan launcing produk tiruan.”


“Baik, Presdir.” Linda mengangguk mengerti.


Ponsel Andre berbunyi, Andre melihat ke arah layar.


“Linda keluarlah.” Andre menyuruh sekretarisnya untuk keluar dari ruangannya.


“Baik, Presdir.” Linda sedikit membungkukan badannya sebelum berbalik dan keluar.


“Tumben Si Kucing Kecil ini menelfon duluan,” gumam Andre sebelum mengangkat ponselnya.


“Halo.” Andre berusaha bersuara senatural mungkin.


“Di mana kau mengajakku bertemu?” tanya Andre.


“Baik.”


Andre bergegas merapikan bajunya dan keluar dari Villa untuk bertemu dengan Via.


— SIDE TO SIDE —


Via menunggu dengan gelisah di depan cafe, jari jemarinya saling meremas.


“Apa yang harus aku katakan?” Via menggigit bibirnya.


Rasa cemas dan galau menyelimuti hati Via. Setelah kemarin dia menolak dan menyakiti hati Andre, sekarang malah akan meminjam uang dari Andre.


Aku benar-benar nggak tahu malu. Via membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan.


Sesaat kemudian Andre datang, dia berdiri tepat di depan Via.


“Kenapa kamu duduk di sini? Apa di dalam tidak ada tempat? Di luar sangat panas!” Andre marah karena Via menunggunya di luar.


“Aku ... ah, sudahlah kau pasti nggak akan mau mendengar alasan apapun.” Via mengurungkan niatnya untuk berdebat.


“Ayo masuk, kita bicara di dalam.” Andre mengajak Via masuk, Via hanya mengekor di belakangnya.


“Minum dulu.” Andre mengambil sebotol air mineral dan meletakannya di depan Via.


“Terima kasih.” Via masih menundukan kepalanya, menghindari tatapan tajam Andre.


“Apa yang mau kau katakan padaku?” tanya Andre tanpa basa-basi.


“Bo—bolehkah aku meminjam sedikit uang?”


“Berapa?” tanya Andre.


“Ti ... tiga ratus juta.” Via agak terbata-bata.


Andre diam sesaat, baginya uang tiga ratus juta bukanlah uang yang besar. Namun muncul pertanyaan untuk apa Via butuh uang sebanyak itu.


“Tolong, Kak. Aku pasti mengembalikannya.” Via membuang harga dirinya dan memohon pada Andre.


“Cuma 300 juta?”


“I—iya.”


“Apa jaminan dari pinjamanmu? Bagaimana kau membayarnya? Kau bahkan sekarang keluar dari semua pekerjaanmu.” Andre mencoba mencari jawaban.


Via hanya terdiam, sudah nggak tahu apa lagi yang mesti dia jaminkan.


“Aku seorang bisnisman, Via. Aku nggak mau mengalami kerugian.” Andre kembali menatap Via.


“Apa saja, apa saja yang kau inginkan, asalkan uang itu boleh aku pinjam.” Mata Via berkaca-kaca.


“Baik, temani aku malam ini. Aku berikan uangnya tanpa harus kau pinjam.”


“Maksudmu?” Via kaget mendengarnya.


“Katanya kau rela memberikan apa saja. Kalau setuju datang ke sini.” Andre meninggalkan secarik kertas bertuliskan alamatnya sebelum kembali masuk ke dalam mobil.


Kenapa dia butuh banyak uang? Andre memandang Via dari dalam mobil sebelum melaju meninggalkannya.


— MUSE S5 —


Via menelan ludahnya sebelum meninggalkan rumah, setelah perperangan hebat dalam batinnya akhirnya Via menyerah. Lagi pula apa lagi yang dia punya selain tubuhnya.


Via kaget melihat Villa besar yang berdiri nggak jauh dari rumahnya. Padahal baru beberapa minggu ini Villa itu direnovasi, sekarang sudah berdiri megah seperti istana.


“Permisi bolehkah aku masuk?” Via menekan bel di sebelah pos satpam.


Seorang satpam datang dan mempersilahkan Via masuk ke dalam kediaman Andre.


“Kau boleh pergi.” Andre membaca sebuah majalah di ruang keluarga.


“Baik, Tuan, silahkan, Nona.”


Via mengangguk dan berjalan perlahan mendekati Andre.


Kucing kecil ini kesini juga, kenapa dia mau menjual tubuhnya demi uang 300 juta? Apakah dia juga akan melakukannya kalau bukan denganku? Pikir Andre dalam hati, Andre kecewa dengan tindakan Via.


“Kemari.” Andre menarik tangan Via dan menjatuhkannya dalam pelukan.


“Kak, tolong jangan begini.” Via merasa malu dengan tindakan Andre.


“Kenapa?”


“Banyak orang-orang yang melihat.” Via menarik tubuhnya untuk duduk di sebelah Andre.


“Kalian pergilah.” Andre menyuruh para pelayan meninggalkan ruang keluarga.


“Baik, Tuan.”


Tubuh Via terasa begitu tegang, hatinya masih bertanya-tanya apakah keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang benar.


Andre memandang Via yang duduk di sampingnya, rambutnya dikuncir ala ponytail, menyisakan rambut halus di sekitar lehernya yang jenjang. Walaupun hanya menggunakan tshirt dan jeans, namun terlihat begitu cantik di depan Andre.


Andre melingkarkan tangannya pada pinggang Via, membuat Via tersentak kaget.


“Jangan melawan, Via.” Andre berbisik di telinga Via.


Bisikan Andre terasa begitu panas dan geli, Via merasakan bibir Andre yang mulai menyentuh leher dan turun ke pundaknya. Walaupun terasa geli namun tak dipungkiri ada rasa yang begitu dia rindukan.


Andre menarik dan menggendong Via naik ke atas, menuju kamarnya. Dengan lembut Andre merebahkan tubuh Via ke atas kasur.


“Jadilah miliku malam ini.” Andre mencium lembut bibir Via.





“Rileks saja sayang,” bisik Andre.


Via merasakan geli yang luar biasa saat Andre menciumnya. Membuat Via mencoba untuk mendorong tubuhnya.


“Kak Andre tolong berhentilah, ku mohon.” Via mulai menitikan air mata.


Andre menghentikan aksinya dan memandang wajah Via yang terlihat takut.


“Via, apakah benar kau sudah tak lagi mencintaiku?” tanya Andre dengan wajah yang memerah.


“A—aku, aku nggak tahu.” Via memalingkan wajahnya.


“Aku tahu kau masih mencintaiku.” Andre membuat Via memandang wajahnya yang tampan.


“Kak Andre.” Via memelas. Andre kembali memandangnya lembut dan mencium bibir Via


“Kau nggak menolaknya, mulutmu mengatakan kau melupakanku. Tapi tubuh dan hatimu tak pernah menolakku.” Andre memeluk Via.


Keringat membasahi tubuh Andre dan Via, aroma mawar bercampur dengan aroma tubuh Andre yang manis. Menghanyutkan Via pada perasaan yang terus dia rindukan selama ini.


“Aku mencintaimu Via. Jangan tinggalkan aku.”


“Kak Andre.”


“Semuanya bisa aku berikan padamu. Jadilah milikku.”


—SIDE TO SIDE —