Side To Side

Side To Side
ACT 22



SIDE TO SIDE


ACT 22


Malam dingin menyambut kepulangan Via. Langkahnya terhenti saat melihat Leo sudah menunggunya di depan rumah.


“Leo??” Via mengangkat alisnya kaget.


Leo yang menyadari kedatangan Via tersenyum dan bergegas menyambut Via.


“Hei.”


“Hei.”


“Sudah makan?” tanya Leo.


Via menggelengkan kepalanya dengan lemas.


“Mana semangatmu yang biasa? Ayuk aku traktir, kita makan cilok dan ceker super pedas.” Ajak Leo.


“Ceker pedas kelihatannya menarik.” Via akhirnya tersenyum.


Nggak bisa di pungkiri kalau selama ini Leo yang selalu menjaganya, selalu membuat Via merasa nyaman, dan selalu memberi Via semangat saat ia mulai terpuruk.


“Kau mau bertaruh denganku?” Leo menggulung lengan bajunya yang panjang, membuat tato ditangannya terlihat jelas.


“Sudahlah kau pasti kalah.” Via menggulung tangannya juga.


Mereka berdua bersiap memakan ceker naga buatan Mang Ujang, biasanya mereka berlomba, siapa yang bisa makan paling banyak dialah yang menang.


“Sial pedas banget.” Leo mulai berkeringat, Via masih menikmatinya dengan semangat.


“Ayo mengaku kalah!”


“Huuu ... haaa ... ingin rasanya aku berkata kotor!” Leo bercanda sangking pedasnya, bibirnya mulai merah dan wajahnya penuh keringat.


“KOTOR!!” teriak Via menanggapi candaan Leo.


“Apaan itu? Jayus ah,” ledek Leo.


Via hanya tertawa.


— SIDE TO SIDE —


Andre duduk menikmati secangkir latte bikinan Leo, menunggu Via datang. Atmosfirnya terasa dingin karena Andre dan Leo saling memberikan pandangan nggak suka.


“Pagi.” Akhirnya Via datang.


“Ngapain kamu disini?” Via kaget saat melihat Andre.


“Menikmati kopi.”


“Kami belum buka.” Via memandang ke arah jam, memang biasanya para pegawai datang lebih awal untuk membersihkan ruangan, dan menata meja kembali.


“Memangnya nggak boleh pemilik menikmati kopi di kedainya sendiri?” Andre menjawab.


“Apa maksudmu, Kak? Jangan bilang kalau ....” Via tercekat.


“Yup!! Aku beli Cafe ini.” Andre tersenyum penuh kemenangan lagi membuat Via menghela napas panjang.


“Ayo kita bicara.” Andre menarik lengan kecil Via, membuat Via meringis kesakitan.


“Hei!” Leo mencoba mencegah ajakan Andre.


“Kau jangan ikut campur.” Andre memberikan peringatan pada Leo.


“Kalau menyangkut Via aku pasti ikut campur.” Leo berdiri di samping Via.


“Leo, sudahlah.” Via menarik lengan kemeja Leo, membuat Andre semakin panas.


“Kau aku pecat!!” Andre memecat Leo secara sepihak, karyawan lain berbisik- bisik di belakang.


“Hah???” Via kaget.


“Aku juga nggak mau bekerja di sini lagi.” Leo melepaskan apronnya.


“Leo kamu tenanglah, dan Kak Andre ayo kita bicara!” Via melerai kedua lelaki di depannya itu.


Akhirnya Andre mengajak Via masuk ke dalam ruangan untuk berbicara 4 mata dengannya.


“Kau beneran nggak menelfonku atau chat dan membaca pesanku???” Andre memepet Via ke tembok.


“A—Aku sibuk,” jawab Via.


“Tapi kau masih bisa makan dan mengobrol dengan dia semalam.” Andre menunjuk ke arah Leo yang terhalang partisi kaca.


“Kau masih mengikutiku?? Kenapa sekarang kau begitu menyebalkan!” Via kaget Andre tahu kalau semalam dia pergi dengan Leo.


“Aku menyebalkan!” Andre mulai terlihat emosi.


“Iya.l, kamu menyebalkan, aku benci caramu! Kenapa semua orang kaya selalu mengandalkan uang untuk memuaskan ego kalian sendiri!” Via marah karena Andre membeli semua properti tempat dia bekerja dan bahkan memecat Leo.


“Kau dan Sinta sama saja!” seru Via lagi.


Andre diam sesaat, alisnya bersatu, perasaan hina dan marah keluar saat Via mengucapkan nama Sinta.


“Via, kamu tahu nggak apa yang aku alami setelah kau pergi?? Kamu kira aku menjalani hidup enak dengan Sinta??” Nada suara Andre mulai meninggi.


“Keluargaku bangkrut dan papaku depresi! Aku kabur keluar negeri dengan alasan belajar, setiap tahun aku kembali dan mencarimu karena rasanya dada ini mau meledak! Tapi sepertinya kau sama sekali tidak menyukai pertemuan kita.” Andre memukul tembok.


“Jadi selama ini hanya hatiku yang sakit, hanya aku yang merindukanmu? Kau sama sekali nggak merasakan hal yang sama?” Andre menarik tubuhnya menjauh pergi dari Via.


Andre meninggalkan Via yang berjongkok dan menangis sendirian. Leo segera berlari masuk kedalam, Leo memang nggak pernah mengerti apa yang pernah terjadi dalam hidup Via dan Andre dulu. Tapi hatinya sakit saat melihat Via menangis. Peristiwa barusan membuat Leo sadar kalau Via masih memendam rasa pada Andre selama ini.


“Jangan menangis.” Leo masuk dan menemani Via duduk.


“Kali ini biarkan aku menangis.” Via membenamkan wajahnya ke lipatan lengannya yang kurus.


Leo mengurungkan niatnya untuk mengelus rambut Via.


“Jadi selama ini kau nggak pernah membalas perasaanku itu semua karena dia.” Leo menghela napas.


“Maafkan aku. Maafkan aku yang terlalu mencintainya.” Via terisak pelan.


— SIDE TO SIDE —


Andre menendang dan memukul lawannya sekuat tenaga, saat ini ia menyalurkan amarahnya lewat kick boxing seperti biasanya. Keringat mengucur membasah i otot-otot tubuhnya, rambutnya mulai terlihat basah karena keringat.


“Boss, Linda bilang proyek kita sudah ada investor yang masuk.”


“Siapa?”


“Perusahaan A, besok wakilnya akan datang kemari.” Nicky memberikan handuk kepada bossnya.


Perusahaan milik Sinta? Pikir Andre dalam hati.


“Oh iya kau sudah membeli vila yang aku minta kemarin?” tanya Andre.


“Sudah, Boss, sudah di renovasi dan prabotannya telah di pesan sesuai permintaan anda kemarin.” Lapor Nicky.


“Baik kau boleh pergi.” Andre menyuruh Nicky meninggalkannya.


“Padahal aku ingin memberikanmu sebuah rumah, tapi kau malah membela laki-laki lain.” Andre bangkit dan melanjutkan olah raga kick boxingnya.


— SIDE TO SIDE —


Mobil sport berwarna oranye memasuki kawasan proyek resort milik Andre. Seorang wanita cantik keluar dari dalam mobil. Rambutnya yang panjang bergelombang bercat ombre dengan perpaduan warna abu-abu dan pink, nampak serasi dengan jumpsuit warna moka dan kaca mata hitam.


“Nona, silahkan.” Linda menyambut kedatangannya dan mengajaknya bertemu dengan Andre.


Andre memandang pemandangan alam yang indah di depannya sambil meminum kopi. Wanita itu datang dan langsung duduk di samping Andre.


“Lama nggak bertemu, kau tambah tampan.” Sinta memuji Andre.


“Kau juga terlihat semakin cantik.” Andre membalas pujiannya.


“Apa kau tahu, aku semakin menginginkanmu? Ayahku pun cukup bersemangat ingin menjadikanmu menantunya.”


“Kau sudah tahu jawabannyakan. Jangan merendahkan harga dirimu sendiri.”


“Kau sama sekali nggak berubah. Dingin dan tampan. Siapa yang sanggup menolak pesonanya??”


Andre tak menggubris rayuan Sinta dan bangkit berdiri.


“Aku langsung mencarimu begitu tahu kamu kembali ke negara ini.” Sinta menyentuh cangkir teh dengan jari-jemarinya yang lentik. Kukunya berhiaskan nailart bergambar kucing.


“Kau nggak takut aku menjatuhkan perusahaanmu? Kenapa kau mengajukan ikut proyek ini?” Andre ingin menyudahi basa-basinya.


“Perusahaanku bukan di bangun satu dua tahun Andre. Dan juga aku yakin kau bukan orang bodoh yang mencampurkan antara bisnis dengan masalah pribadi.” Sinta tersenyum dengan manis.


“Siapa tahu?” Andre mengangkat bahunya.


Sinta diam saja dan tetap tersenyum manis.


“Jangan sampai kesombongamu membawamu ke dalam kehancuran.” Andre membalikan badannya, meninggalkan Sinta yang masih menikmati tehnya.


Br3ngsek!! Semakin kau menolakku semakin aku menginginkanmu. Sinta mengumpat geram dalam hatinya.


— SIDE TO SIDE —


Leo mengambil beberapa gumpal tanah liat dan membentuknya di atas meja yang berputar pelan. Sesekali tangannya meratakan bibir tanah liat yang masih basah. Ketika telah terbentuk sesuai yang ia inginkan Leo memahat, dan memberikan ukiran dengan sudip pada beberapa tempat sebagai hiasan.


Rambutnya menutupi headset yang terpasang di telinga, alunan musik jazz selalu menemani saat-saatnya berkarya.


“Permisi.” Suara seorang wanita mengagetkan Leo. Leo berhenti memutar mejanya, membasuh tangan lalu berjalan keluar.


“Halo, Kak Leo.” Sapa Meddy.


“Hei Meddy, ada apa malam- malam begini?” tanya Leo ramah.


“Aku tadi memasak tim ayam, aku mengantarnya sedikit untuk Kakak.” Meddy mengulurkan rantang makanan.


“Hah??” Leo kaget mendengarnya, selain Via belum pernah ada wanita yang mengiriminya makanan.


“Dihabisin ya, Kak.” Meddy tersenyum.


“Terima kasih, ya,” ucap Leo.


“Sama-sama, aku pamit dulu, Kak.”


“Hati-hati, ya.” Leo membalas senyuman Meddy.


— SIDE TO SIDE —


LOVE LIKE COMMENT VOTE!!