Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 18



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 18


Brian berjalan masuk ke ruangan rapat dewan besar perusahaan AH grup. Di dampingi oleh sekretaris dan pengacaranya, Elisa. Para komisaris dan pemegang saham tampak bercakap- cakap dan sedikit terheran- heran dengan pergerakan cepat dari Brian. Tak sedikit yang mendukung Brian, tapi juga ada beberapa yang mencibirnya.


“Itu proposal kerja yang saya tawarkan untuk perusahaan ini. Saya akan bekerja dengan sungguh- sungguh dan membawa perusahaan ini lebih maju.” Brian membuka rapat dewan, para staff membagikan proposal kerja di meja tiap komisaris dan pemegang saham.


“Pastikan kalian mempelajarinya. Sebelum menyanggahku.” Brian duduk di kursi tengah yang biasanya milik Andre.


Semuanya berkasak- kusuk dan mempelajari proposal Brian. Tingkat investasi dan potensi perusahaan yang berkembang naik membuat banyak pemegang saham dan komisaris tertarik.


“Papa saat ini sedang sakit dan tidak bisa mengurus pekerjaannya, kalau kursi Presdir kosong akan berdampak pada turunnya nilai saham. Aku harap kalian serius memikirkannya.” Brian menunggu reaksi semua dewan direksi.


“Dia sangat berbakat, perusahaan kecil yang di berikan sudah berkembang maju sekarang.”


“Tidak ada salahnya, toh tetep dia anak Presdir Andre.”


“Tidak ada yang salah juga.”


Semua berdiskusi dan Brian dengan tenang menunggu keputusan mereka.


“Tidak bisa!! Mr. Andre tetap pemegang saham terbesar, bagaimanapun kita perlu persetujuannya. Lagian dia hanya anak angkat, bagaimana mungkin kita menyerahkan hasil kerja keras Mr. Andre padanya.” Salah seorang komisaris mengajukan protes.


“Hei Mr. Yoan, apa kau tidak lihat kinerja anak ini saat memajukan anak perusahaan?” Sanggah kubu pembela yang lain.


“Aku tetap akan menaati Mr. Andre dan menunggunya pulang.” Mr. Yoan beranjak dari kursinya dan bergegas keluar ruangan.


“Saya hanya punya 17% saham, sisanya dari suara dukungan anda semuanya. Kalau kalian mendukung saya, suaranya akan cukup.”


“Mana mungkin Mr. Andre punya 55% lebih banyak dari kami semua.” Seru Mr. Yoan.


“Yang 20% milik Maureen. Dia sudah mewariskannya pada Renny.” Sahut Brian.


Semuanya kembali berdiskusi, saling berbisik dan mencoba menganalisa situasinya.


“Anak itu tidak bisa bekerja dan hanya bikin repot! Mana mungkin dapat bagian sebanyak itu?!” Semuanya hampir tak mempercayai keputusan Andre.


“Papa kini hanya punya 35%, dengan kepercayaan kalian aku tetap bisa naik ke kursi Presdir.” Brian melipat tangannya di depan dada.


“Dasar anak kurang ajar!! Tidak aku tidak bisa menjalankan kegilaan ini..!” Mr. Yoan keluar dari ruang rapat.


Elisa tersenyum dan mengikutinya keluar.


“Tunggu Mr. Yoan.” Panggil Elisa.


“Siapa kamu..?”


“Saya pengacara Brian sekaligus tunangannya.”


“Aku Tidak pernah dengar Brian bertunangan.” Ucap Yoan marah.


“Kenapa anda keluar?” Elisa langsung bertanya.


“Tidakkah kau merasa ini sebuah kegilaan? Seorang anak angkat menginginkan posisi ayahnya yang bahkan sedang sakit?!” Seru Mr Yoan.


“Tapi nilai saham akan hancur kalau orang tahu Mr. Andre sakit, tidak akan ada yang berinvestasi karna kursi presdir yang kosong.” Jelas Elisa.


“Tetap saja.. aku tidak bisa mentorerirnya, dia hanya seorang anak angkat.” Pria tua gendut itu berjalan lebih cepat meninggalkan Elisa.


“Tunggu komisaris Yoan.” Elisa mengejarnya.


“Apa lagi??!” Tanyanya emosi.


“Bukankah anda mencalonkan diri sebagai wali kota? Apakah posisi anda tidak akan bergoyah kalau sampi saya membeberkan semuanya??!” Elisa berbisik di telinga Yoan.


“Apa maksudmu??! Kau mengancamku??!”


“Iya Mr. Yoan. Saya tahu anda pernah mabuk dan bercinta dengan pelayan bar sampai dia hamil. Anda memberikan banyak uang kompensasi atas aborsi anak wanita itu. Dan itu dengan dana kampanye partai anda.” Elisa kembali menyeringai setelah berbisik.


“Kau wanita ular!!”


“Saya masih lebih baik dari pada anda bajingan gendut yang tega membunuh anaknya sendiri. Saya melakukan ini untuk tunanganku, apa salahnya??!” Elisa membetulkan kemejanya.


“Kau jalang...!!” Mr. Yoan kehabisan kata- kata.


“Jadi kembali atau tidak ke ruang rapat itu terserah anda.” Elisa berbalik dan meninggalkan komisaris Yo.


Elisa kembali masuk ke ruang rapat di ikuti Mr. Yoan.


“Kamu kembali Mr. Yoan.” Tanya Brian dengan senyum penuh kemenangan.


“Ehem.. Aku tidak punya pilihan, aku juga tidak ingin hartaku hilang.” Mr. Yoan berdehem dan kembali duduk.


“Baiklah. Kita tutup sidang direksinya. Terimakasih atas kepercayaan kalian.” Brian sedikit menundukan kepalanya dan berjalan keluar dari ruang sidang. Diikuti oleh sekretaris Kim dan juga Elisa.


“Akhirnya kau memiliki perusahaan ini, jangan lupa janjimu padaku.” Elisa berbicara, langkahnya masih menyesuaikan langkah kaki Brian.


“Sure, kau akan segera mendapatkan perusahaan Kinsley.” Brian tersenyum.


“Terimakasih.” Jawab Elisa, namun jauh di dalam hatinya dia merasa kecewa. Begitu hubungan timbal balik ini berakhir, maka berakhir pula statusnya sebagai pacar Brian.


Entah kenapa waktu yang di habiskannya bersama Brian belakangan ini membuat hatinya gundah. Elisa sudah mengerem semua perasaannya, tapi entah kenapa hatinya masih terus melaju dan mencari sosok seorang pria yang biasa menjaganya itu.


“Nona nona, anda melamun?!” Panggilan Sekretaris Kim membuyarkan lamunan Elisa.


“Tidak, aku hanya lelah.” Tepis Elisa.


“Tuan muda meminta saya mengantarkan anda pulang.”


“Aku bisa pulang sendiri.”


“Bukankah anda kelelahan? Tuan muda menyuru saya mengantarkan anda, dia cemas anda akan mengantuk di jalan.” Pak Kim membukakan pintu mobil untuk Elisa.


“Berhentilah Brian.. berhentilah memberikan perhatian kepadaku..! Atau aku akan menyalah artikannya.” Pikir Elisa sedih.


“Nona..?”


“Baik pak Kim.” Elisa masuk ke dalam mobil.


.......................


“Papa mama berangkt dulu ya sayang.” Via mencium kening Renny sebelum masuk ke dalam mobil.


“Tunggu sebentar Via aku ingin bicara dengan Renny.” Andre meminta ijin kepada istrinya untuk bercakap- cakap dengan Renny sebelum berangkat menuju ke bandara.


“Renny, apapun yang terjadi papa dan mama sangat menyayangimu. Jangan lagi punya pikiran kami tidak sayang padamu.” Andre mengelus pipi putrinya.


“Iya Pa. Maafin Renny ya.” Renny memeluk erat Tubuh Andre.


“Hah.. padahal belum lama papa masih mengusap ingusmu. Sekarang kau sudah tumbuh sebesar ini.” Andre membalas pelukan Renny.


“Jangan ungkit masalah ingus, kaya Jay aja.” Renny sebal karna dua pria yang di cintainya hanya mengingat- ingat ingus saat memeluk dirinya.


“Ingat hlo ya!! Nggak boleh sekamar!! Nggak boleh!!” Andre mewanti- wanti.


“Nggak janji.. emang dulu papa dan mama nggak gitu??!!!” Ejek Renny.


“Hah.. papa mamakan sudah dewasa!!” Andre mencubit pipi Renny dengan sedikit keras.


“Adududuh...baik..siap siap boss..” Renny kesakitan.


“Oke see you soon baby.”


“See you papa. Kamu harus sembuh.”


Kisna saat itu sedang berjalan ke sekolahan melihat pemandangan itu.


“Wah, hebat Renny barengan sama Om kaya.” Kisna bergumam dan mengabadikan moment itu dengan kamera ponselnya.


“Bakalan Jadi berita hangat nih.” Senyum Kisna dan kembali berjalan menuju ke sekolahnya.


Setelah berpisah dan berpamitan dengan papa dan mamanya Renny kembali memanggil Jay untuk pergi ke sekolah.


“Pipimu masih sakit Jay?” Renny mengelus pipi Jayden.


“Nggak terlalu, bengkaknya sudah hilang, tapi masih ada noda lebam.” Jay memegang tangan Renny.


“Sudah berpamitan?” Jay kembali bertanya.


“Sudah Jay. Terima kasih ya sudah sabar menghadapi papa mamaku.” Renny senang.


“Sekarang aku ngerti kenapa kamu senekat itu.” Jayden mengusap poni rambut Renny.


“Ayo berangkat..!” Ajak Renny.


Renny dan Jay masuk ke dalam kelasnya, banyak anak- anak yang ribut dan mengelilingi meja Renny.


“Kenapa sih?” Renny tampak bingung dan mendekati mereka.


“Renny.. mejamu.” Seorang teman sekelas Renny menatap Renny iba.


“Kenapa dengan mejaku?” Renny semakin menerobos masuk.


Terdapat banyak coretan dan goresan dari benda tajam bertuliskan


CEWEK MATRE


PENCURI


PELACUR


MATI SAJA!!


Renny memandang meja itu sebentar.


“Kenapa?” Jay mendekatinya.


“Ada fans aku Jay.”


“Fans apaan ini ma haters kali.”


“Fans dan Haters itu beda tipis Jay. Sama- sama terus mengingatku di setiap lamunan mereka.” Renny kembali dengan analoginya yang ngawur.


“Tukar saja dengan mejaku.” Jay menukar meja Renny dengan mejanya.


“Wah pangeranku... pacarku Jay.” Renny menatap Jay dengan mata berbinar.


“Jangan seperti itu malu- maluin.” Wajah Jay memerah.


“Gantle banget Jay..!!!” Sorak semua anak- anak sekelas.


“Jayden bikin iri aja.”


“Siapa yang berani berbuat seperti ini?! Aku harus menemukan pelakunya sebelum Renny terluka.” Pikir Jay dalam hatinya.


Malah Renny sendiri tak ambil pusing dengan perkara ini. Hatinya terlalu senang karna telah bertemu dengan papa mamanya.


Siangnya banyak foto- foto Renny memeluk mesra seorang lelaki separuh baya. Dari outfit dan mobilnya terlihat seseorang yang sangat kaya.


“Renny muncul berita kamu punya sugar daddy..” Seorang teman sekelas Renny menunjukan foto di ponsel mereka.


Anak- anak yang lain berkumpul mengerubungi Renny.


“Wuih.. kenapa ambil fotonya pas ingusku keluar..” Renny malah mengkhawatirkan hal yang lain.


“Ini beneran kamu Renn??” Tanyanya lagi.


“Iya itu aku.”


“Bersama laki- laki tua ini??” Tanya yang lainnya


“Iya dia sangat kaya,,,! Ganteng lagi, Belum tua bangetlah.” Renny terkikih.


“Renny???! Gosip ini bener??” Temannya melongo tak percaya.


“Itu bukan sugar daddy aku, tapi beneran daddy aku.” Renny tersenyum senang.


“Sory..Bukankah kamu miskin Ren? Katamu sendiri kamu harus kerja sambilan buat biaya hidup.”


“Ahahaha..iya ya.. pantes aja muncul gosip kaya gini.” Renny tertawa sangat lantang.


“Renny...? Seriusan?? Satu sekolah heboh hlo!!”


“Namaku Maureen Hartono. Search aja di laman pencarian..” Renny mengeluarkan ponselnya.


Muncul profil dirinya dan foto- foto Renny saat menjadi putri kolongmerat di negri kangguru.


“Ah aku masih cantik banget.. imut banget..” Renny narsis.


“Jadi kamu beneran.. beneran kaya..”


“Nggak donk.. bukan beneran kaya.. tapi super kaya.” Entah kenapa hidung Renny terlihat panjang saat menyombongkan diri.


“Renny..” panggil yang lain senang.


“No..no..no.. call me Princess.. Princess Renny.” Renny tertawa, disambut gelak tawa seluruh teman- temannya.


“Oh iya.. kalian lihat Jay nggak?” Tanya Renny.


“Kelihatannya dia keluar terburu- buru.” Jawab yang lain.


“Mungkin kebelet pipis.”


“Ah.. kok ngak ajak- ajak sih.”


“Mau pipis masa ngajakin?!”


“Kan biar bisa bantuin pegangin!!”


“Iiuuuhhh...porno banget.”


“Kenapa kan punya pacar sendiri? Alah kalian ga usa sok suci deh.” Renny memasang lirikan menggoda.


“Emang udah pernah pegang, Ren?”


“Belom.. sedihnya..” Renny menaruh dagunya di meja.


....................


Hallo readers..


Sudah crazy update ya (walau hanya 2 episode) ><


Semoga kalian suka.


Tetep dukung saya ya.. like dan commen juga + fav


I lap yu gaes.. ❤️