
SIDE TO SIDE
JAKA
Siapa yang mau ambil alih gendongan si Bambang dan ngerawat dia sampai besok pagi??
Kemungkinan harus ada yang mengalah untuk merawat Bambang. Mereka semua sudah tidak sanggup lagi mengasuh seorang bayi.
“Gimana donk??”
“Bawa pulang aja, Zo!” usur Arron.
“Gile lu, Ndro!! Bisa di gantung nanti sama mamaku!”
“Terus gimana? Rere? Lo yang paling pinter urusin bayi.” Arron usul, Lenna sudah tidur di paha Arron karena lelah mengurus bocil.
“Nggak bisa, gue tinggal di kos-kosan! Kalau bayinya nangis dan bikin penghuni kos pada protes ga bisa tidur gimana?” jawab Rere, kalau sudah urusan pekerjaan dia mesti propesional.
“El?”
“Alasannya juga sama, ngekos.” El menimpali.
“Jay? Di mana tu anak?? Jangan bilang dia kabur duluan!!” Arron celingukan, Jayden sudah nggak kelihatan lagi batang hidungnya.
“Ya elah, nggak mungkin Jay bisa ngerawat Bambang sendirian. Kamu aja sama Lenna, Ron. Biar Lenna belajar jadi mama yang baik buat masa depan kalian.” Rere menyerahkan Bambang ke dalam gendongan Arron.
Wajah Arron bersemu kemerahan, membayangkan mereka seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia membuat wajah Arron menghangat. Ya ampun Arron, bikin gemas Othor aja.
“Mikir mesum pasti!” ledek El.
“Hahaha …” Kenzo ngakak.
“Diem kalian. Menyebalkan.” Arron mendengus karena ketahuan aibnya.
“Ya udah, semalam ini biar babynya tidur di sini. Besok kita cari solusi lagi.”' Arron menyerah, tak ada pilihan lain.
“Untung aja besok weekend jadi kita libur. Kalau enggak gimana coba? Masa bolos sekolah?” Arron yang merupakan seorang siswa teladan tak mungkin kan membolos? Bisa rusak reputasinya.
“Ya sudah, mumpung si Bambang tidur. Cepetan tidur juga biar nggak terlalu lelah. Kami pulang dulu, kalau ada apa-apa jangan telepon kita!” Rere nyengir.
“Iya! Sana balik ke kandang kalian!!” usir Arron kesal.
Rere dan kawananan anak kuda nil meninggalkan gudang tempat Arron tinggal.
...— JAKA —...
Sementara itu, sebuah apartemen mewah di tengah ibu kota. Cellena, diam-diam pergi untuk mengunjungi anak semata wayangnya. Mumpung suaminya Julius sedang dinas ke luar kota.
Lenna sangat sedih saat Julius mengusir anak tunggalnya pergi dari rumah. Jadi selagi ada kesempatan dia memesan penerbangan ke ibu kota malam ini juga.
“Sudah malam, silahkan beristirahat. Besok saya akan mengantarkan Anda ke rumah Tuan Muda Arron.” Seorang bawahan yang bertugas mengantar jemput Lenna menjawab kebimbangan Lenna.
Putranya pasti sangat kurus dan tidak terrawat. Arron terbiasa hidup serba mewah, berkecukupan, limpah kasih sayang. Kini ia harus hidup sendiri di kota orang, pas-pasan, dan bahkan harus bekerja untuk menyambung hidup.
“Oh, malangnya anakku yang punya papa sepertimu!!” Lenna menujuk-nunjuk ke arah foto Julius yang begitu besar berada di dinding apartemen. Foto keluarga itu menunjukkan betapa harmonisnya keluarga mereka, dan harus terpisah karena kekejaman sang kepala keluarga.
“Besok aku akan menemui anakku!!” tandas Lenna dengan mengepalkan tangan di depan dada, menekan perasaan rindu yang membuncah.
.
.
.
Keesokan paginya, Lenna menuruni mobil. Sopir membantu membukakan pintu untuknya. Lenna tampak cantik dan elegan dengan dress berwarna maroon. Ia memakai sepatu flat berwarna hitam dan tas besar senada. Sopir menurunkan beberapa box karton berisikan bahan makanan dan juga pakaian.
“Benar di sini rumahnya?” Lenna melihat plakan bengkel milik para PerJAKA. Gudang tua itu telah berubah fungsi menjadi bengkel motor. Namun karena masih pagi, bengkel motornya masih tutup.
“Benar, Nyonya Lenna. Di sini tempat tinggal Tuan Muda Arron.”
“Oke, Pak. Saya naik dulu. Bapak bawa kotaknya ya.” Lenna memberi perintah.
Lenna menaiki tangga besi setapak demi setapak menuju ke tempat tinggal Arron yang berada di lantai dua. Namun saat tiba di atas, suara tangisan bayi terdengar sangat keras.
Oeeekkk!!
Oeeekkkk!!!
“Eh?? Bayi??” Wajah Lenna mengeryit, masa ada suara tangisan bayi di tempat tinggal anaknya?? Anaknya kan tidak punya bayi. Oh … tunggu!!! Apa dia membuat bayi selama satu tahun tak pulang ke rumah??
“Ah … mana mungkin! Arronku anak yang baik.” Lenna menepis pikirannya yang berkecambuk dengan sangat hebat di dalam otak dan dadanya.
Hati ibu mana yang tidak hancur kalau sampai anak yang ia bangga-banggakan menghamili perempuan di luar nikah??
“Cup!! Cup!! Cup!! Diem ya Bambang sayang!! Bentar lagi susunya jadi kok!” Suara Arron terdengar panik dari balik pintu.
Lenna menghentikan keinginannya mengetuk pintu dan langsung saja membuka pintunya.
Begitu pintu di buka, terihatlah Arron yang sedang menggendong Bambang, dan Lenna yang sedang membuatkan susu formula untuk Bambang.
Wajah Mama Lenna kaget, pucat.
Wajah Arron sama …
Wajah Lenna apa lagi.
“ARRON!!” seru Lenna lantang.
“Bi … bisa Arron jelasin, Ma!!!” Arron terlihat panik.
...— JAKA —...