
SIDE TO SIDE - JAKA
MI AYAM
Hari yang cukup panas dan melelahkan. Jay, Enzo, El, dan Arron telah bekerja keras seminggu penuh untuk mewujudkan usaha mereka sendiri. Arron membeli segala peralatan bengkel dengan uang dari tabungannya, Jay mempersiapkan dan mengatur posisi peralatannya, El dan Enzo sibuk dengan peralatan air brush mereka.
“Besok uda mulai bisa buka.” Kata El.
“Iya, mesti segera buka biar bisa segera balik modal.” Arron yang paling mempertaruhkan segalanya saat ini.
“Gw laper.. nge-mi yuk!!” ajak Kenzo.
“Ayuk..”
Mereka berempat duduk di emperan jalan, membeli mi ayam legendaris langganan Kenzo. Letaknya nggak jauh-jauh amat dari sekolahan. Dan rasanya nganggenin banget.
“Kang, mi ayam 4, nggak pake lama..!” teriak El.
“Oke siap.”
Nggak lama 4 mangkok mi ayam tersaji di depan mereka. Air liur mulai memenuhi mulut saat aroma sedap dari rebusan kental kaldu ayam bercampur dengan daging kecap. Aroma daun jeruk dan rempah bumbu meresap ke dalam daging ayam, belum lagi ceker ayam yang tersaji di atas mi, melengkapi keindahan semangkok mi ayam pada tangan mereka masing-masing. (Sumpah author laper pas nulis.)
“Lo pernah makan kaya gini, Ron?” ledek Enzo.
“Pernahlah!!”
“Kalo elu, Jay?” Enzo kembali bertanya, di antara mereka ber empat, Jay dan Arron adalah Tuan Muda.
“Pernah. Gw nggak pilih-pilih makanan kok.” Jawab Jay.
“Lo nggak nanya gw?” El nimbrung.
“Kagak, males gw.” Jawab Enzo.
“Uda ayo makan!! Keburu dingin.” Jay menengahi.
Mereka ber empat makan dengan lahap. Perut mereka sangat lapar karena bekerja seharian, menata gudang dan juga bengkel. Gudang Arron memang terletak di tempat yang strategis dan cukup luas juga untuk sebuah bengkel. Lantai dua yang dulunya untuk kantor di sulap menjadi tempat tinggal Arron dan juga basecame mereka.
“Rokok mau?” Kenzo menawari teman-temannya. Jay dan Arron bergeleng, cuma El yang nerima.
“Uhuk..uhuk..” El terbatuk.
“Lo baru pertama ya?” Tanya Enzo, ia terkikih melihat El terbatuk-batuk.
“Iye, gw penasaran. Ternyata nggak enak, kok lo doyan sih?”
“Pertama iseng-iseng ikutan temen, lama-lama kebiasaan. Tapi gw uda nggak banyak kok, paling cuma 3x sehari.”
“Kaya makan aja tiga kali sehari.”
“He he he..”
“Sayang ah duit di bakar.”
“Ah bodo amat.” Kenzo menghisap lagi rokoknya sampai abis.
“Lo tau anak baru yang namanya Lenna nggak, Ron? Sekelas ama elo kan?” Tanya El.
“Tau, kenapa emang?” Arron penasaran.
“Dulu Gw pas di kantor kepala sekolah wawancara masuk ketemu sama dia, dia juga lagi wawancara.”
“O.. trus lo suka gitu?” Arron to the pont.
“Ogaklah, boro-boro suka, kenal aja enggak.” Jawab El.
“Trus? Ngapain lo nanya-nanya.”
“Gw cuma penasaran aja, pas itu gw lihat di sepanjang lengannya tu noda bekas cutter banyak banget. Gw sampe heran plus ngilu, apa nggak sakit?!” El bergidik.
Deg..
Hati Arron langsung ambles, mengingat fakta bahwa keluarganyalah yang telah menghancurkan keluarga Lenna membuat Arron tertegun.
“Ron!! Arron?!” El mengibaskan tangannya di depan Arron yang melamun.
“Oh sory,, gw cengoh..” jawab Arron.
“Pulang yuk, uda sore.” Ajak Jayden.
Mereka berempat kembali ke gudang Arron, hanya Jay yang berpisah di tengah jalan, ia kembali ke apartemennya.
“Hei El, gw boleh minta tolong nggak?”
“Paan?”
“Gw beneran pengen ngomong sama Rere. Pliss deh, lo bilang ke dia buat nemuin gw.” Pinta Kenzo, wajahnya memelas.
“Sebenernya kenapa sih dengan kalian?” El juga terlihat penasaran.
“Ntar kapan-kapan gw ceritain, soalnya panjang banget ceritanya. Kalau gw cerita sekarang ntar gw laper lagi, sia-sia mi ayam gw.” Jawab Kenzo.
“Oke gw coba. Tapi nggak janji orangnya mau.”
“Oke, thx ya.”
Nggak lama mereka sampai ke gudang, El pergi ke utara dan Kenzo menaiki motornya pergi ke arah berlawanan pulang ke rumahnya.
“Gw pamit ya Ron..!” Lambai Kenzo dari atas motor.
“Hati-hati!!”
“Gw juga..” teriak El.
“Yoik.”
>>> JAKA <<<
Arron masih asyik memantau pergerakan pasar saham, sudah hampir seminggu ini dia melirik pangsa pasar uang itu. Soalnya uang tabungannya menipis dan saku dari Papanya cuma seuprit, kalau nggak di puterin di pasar uang bisa-bisa Arron puasa makan indo**e tiap hari.
“Main obligasi apa reksadana ya?” Arron menimbang-nimbang, akhirnya pilihannya berakhir pada reksadana yang lebih minim resiko dan nilainya nggak mahal-mahal amat.
Sambil tiduran Arron melirik ke arah jam dinding, sudah hampir jam 7 malam dan dia belum makan malam. Arron menutup laptopnya dan menyahut jaket.
“Cari makan apa ya?” Arron berjalan di sepanjang pertokoan dan resto, bingung memilih antara makanan cepat saji atau food court.
BRUK..
Arron menabrak seorang gadis, ia memakai topi baseball untuk menyembunyikan wajahnya. Topi itu terlempar saat menabrak Arron dan rambut panjang yang dibekuknya langsung terurai keluar dari dalam topi.
“Sory.. sory.. gw jalan nggak liat-liat.” Arron meminta maaf, ia membantu gadis itu mengambil topinya.
“Nggak papa.” Jawabnya.
“Lenna???” Arron mengenali gadis itu, dia adalah Lenna, teman sekelasnya juga teman masa SMPnya dulu.
“Erm.. gw harus pergi.” Lenna mencoba menerobos tubuh Arron di tengah keramaian.
Arron keheranan melihat Lenna yang berlari penuh dengan keringat, ia terlihat seperti sedang di kejar oleh sesuatu. Dan benar saja beberapa orang berstelan hitam terlihat sedang mencari seseorang. Mereka menunjukan foto Lenna pada setiap orang yang melintas.
“Lihat gadis ini, Dik?” Salah seorang dari mereka memperlihatkan foto Lenna pada Arron.
“Ng..nggak.. emangnya kenapa bang?” Arron memberanikan diri bertanya tentang masalah apa yang menimpa Lenna.
“Dia membohongi bos kami. Kami harus menangkapnya atau kami akan di pecat.”
“Membohongi?”
“Iya, dia harusnya melayani bos kami untuk membayar hutang Ayahnya. Sudah, nggak ada gunanya juga gw ngomong sama lo, dek. Pergi sana kalau nggak tahu.”
Arron terkejut, otaknya masih mencerna kata-kata bodyguard itu. Membayar hutang Ayahnya? Melayani? Maksudnya?
“Sialan..!” Arron membalik langkah kakinya dan berlari mengejar Lenna.
>>> JAKA <<<
YO LIKE DAN COMMENT SAYANGKUH..
Bagi VOTE BILA BERKENANG..
Jangan lupa ada event giveaway di NOVEL SAYA YANG JUDULNYA MUSE!!
Buruan baca!! Buruan vote!!
MAKASIH ❤️❤️