
Wajah Jessica berubah menegang. Matanya terbelalak mendengar ucapan Kania. Nyaris saja ponsel yang dipegangnya jatuh. Yoga menangkap perbincangan ini sepertinya serius. Kak Kania sepertinya ada masalah, duganya dalam hati.
Ingin Yoga menanyakan dugaan itu kepada Jessica, namun sepertinya tidak mungkin ia memperoleh jawabannya. Melihat kerut di dahi Jessica sudah cukup menyatakan perbincangan ini tidak boleh dipotong.
“Tunggu-tunggu Ni. Ini serius Arman ngelakuin hal itu?” tekan Jessica. Memastikan pendengarannya tidak terganggu. Memastikan kejadian yang diceritakan Kania benar terjadi.
“I-iya,” terdengar jawaban Kania lemah berpadu dengan sedu tangisnya yang lebih mereda dari sebelumnya.
“Brengsek,” umpat Jessica reflek. Yoga tersentak mendengar Jessica mengumpat. Ia semakin canggung ketika melihat wajah Jessica mereka dan ekspresinya tampak menyeramkan. Yoga kehabisan akal bagaimana menenangkan Jessica.
“Gue **** banget ya Jess. Gue bener-bener udah jadi manusia *****. Gue enggak tau harus ngapain Jess,” Kania meronta.
“Udah Ni. Please tenangin diri lo dulu ya. Nanti kita cari solusinya, gue akan temenin lo apapun yang terjadi.”
“Gue akan bicarain ini sama Arman. Udah lo tenangin diri dulu. Bye,” tutup Jessica. Terdengar Kania berteriak “jangan!” sebelum panggilan itu ditutup. Selang beberapa detik, ponsel Jessica kembali bergetar, Kania menghubunginya kembali. Namun, Jessica tidak menjawabnya. Sebaliknya ia malah terlihat mengetik sesuatu dengan terburu-buru. Yoga menduga itu pesan untuk Arman.
“Yoga maaf ya malam ini Yoga enggak jadi nginep. Jessica perlu ketemu Arman,” ucap Jessica masih dengan amarah yang memuncak.
“Kakak tenangin diri dulu sedikit ya, baru berangkat. Bahaya bawa mobil ketika emosi,” balas Yoga, lalu berdiri dan mendudukkan Jessica di kursi belajar. Ia kemudian menuangkan air dan menyuguhkannya kepada Jessica.
Jessica meneguknya cepat, lalu menghela napas panjang. Tampak ketegangannya lebih melunak.
“Makasih ya sayang.”
***
Arman mendengar pintu apartemennya diketuk dengan keras. Terus berulang, seakan orang di balik pintu itu benar-benar ingin memangsa dirinya. Ia membuka pintu. Tampak di sana Jessica dengan wajah yang tegang dan memerah. Alisnya berkerut berpadu dengan tatapan tajam yang ditujukan kepadanya.
Arman sudah menduga Jessica akan bereaksi demikian. Pesan dari Jessica sebelumnya telah menggambarkan semuanya. Arman menghela napas, mengingat kembali pesan Jessica tadi.
KANIA CERITA SAMA GUE. UDAH GILA YA LO! GUA KE APARTEMEN LO. JANGAN KE MANA-MANA!
Baru Jessica hendak membuka suara, tangan Arman mendekap bibirnya. Arman lalu menarik Jessica ke dalam ruangan dan mendudukkannya. Jessica melihat di depannya sudah ada segelas air. Pasti ditujukan untuknya. Jessica meneguknya cepat, tenggorokannya memang terasa kering, sepanjang perjalanan emosinya sedikit demi sedikit kembali memanas dan tanpa sadar ia berteriak mengumpati Arman dengan bahasa kasar dan nama-nama binatang yang tidak terhitung jumlahnya.
“Menurut lo gue salah?” tanya Arman. Suaranya terdengar berat menandakan ia tidak main-main. Jessica yang sedang meneguk air sambil menatap tajam ke arah Arman sampai tersedak. Bagaimana bisa Arman bertanya seperti itu.
“Gila ya lo. Lo masih nanya lo salah atau enggak?!” Jessica berteriak meradang. Dan kembali Jessica mengutuki Arman dengan bahasa kasar dan nama-nama binatang tidak terhitung jumlahnya yang tadi ia sebutkan sepanjang perjalanan. Arman hanya diam mendengar umpatan Jessica. Arman cukup mengerti pertanyaan ini akan memantik amarah Jessica dan memang niatnya seperti itu. Ia ingin Jessica mengeluarkan semua amarahnya. Baru ketika amarahnya reda, ketika sudah bisa terpantik kembali, ketika otaknya kembali sadar, Jessica lebih mudah mendengar perkataannya. Suatu trik psikologi yang selalu berhasil ia praktikan.
Cukup lama Jessica meradang, sebelum akhirnya suaranya mulai melemah dan lelah. Sampai akhirnya ia kehabisan tenaga untuk mengumpati Arman, ia hanya menatap sinis ke arah Arman dengan napas terengah.
“Udah?” tanya Arman tenang.
“Oke sekarang ijinin gue membela diri,” ucap Arman. Jessica hanya diam sambil tetap menatap sinis Arman. Ia sudah kehabisan tenaga dan kata-kata untuk menyerang Arman.
“Jess, lo pasti udah dengar detail kejadiannya dari Kania. Gue akuin gue salah, gue udah lancang mencium orang yang sudah punya kekasih. Tapi gue enggak sepenuhnya salah Jess. Gue cinta Kania. Dan Kania tahu itu. Bahkan, dia membalas ciuman gue,” dalih Arman membela diri.
“Hanya karena Dino kekasihnya, bukan berarti Kania jadi miliknya. Dia belum menikah sama Kania. Gue dan Dino masih di posisi yang sama, masih memperjuangkan Kania.”
“Lo tau enggak kalau Dino ngelihat kalian ciuman?” desis Jessica. Arman tersentak mendengar ucapan Jessica. Tapi ia tidak terlalu terkejut karena Arman sudah memprediksinya.
“Enggak, tapi gue bisa menduga. Karena setelah itu gue melirik ponsel Kania, ada chat dari Dino.”
“Itu kebresengkan lo Man. Lo enggak usah sok arogan nguliahin gue tentang status pacaran atau nikah. Bisa enggak sih lo melihat dari perasaan Dino. Gimana perasaannya ketika orang yang dicintainya dicium sama orang lain. Lo pernah ngerasain perasaan tersebut Man. Lo pernah jatuh enggak berdaya melihat Laras bermesraan sama cowoknya.”
“Gue tanya sama lo, apa lo harus jadi orang yang sama brengseknya seperti cowoknya Laras cuma buat ngedapetin Kania?”
Arman terdiam mendengar ucapan Jessica. Kali ini ia yang tidak mempunyai kata untuk membalas ucapan Jessica. Setiap kata yang dilontarkan Jessica tadi membawa kembali kenangan menyedihkan tersebut. Ketidakberdayaan dan sesak yang memilukan kembali mengiris hati Arman. Tubuh Arman terkulai menyandar pada kursi. Ia menatap pijar lampu putih di langit-langit. Namun tatapannya terasa sangat jauh dan kosong.
Arman sadar Dino mirip dengannya dalam hal mencintai. Dino pasti telah memberikan cinta yang murni, perasaan yang hanya ingin mengasihi dan menyayangi orang yang dicintai. Menghabiskan diri demi kebahagiaan orang itu. Arman sadar, itulah cinta Dino. Itu yang pasti membuat Dino tidak menghajar dirinya yang sudah lancang mencium Kania. Cinta itulah yang memilihnya untuk pergi dari kedai. Cinta yang mengikhlaskan, yang tidak berdaya untuk mengatakan “tidak”. Dan Arman tahu pedihnya hal tersebut.
Ia yang selalu bangga dengan cinta murni yang pernah ia berikan kepada Laras. Ia yang menganggap cinta adalah bunga-bunga dan hamparan taman yang indah, yang polos, yang lugu, layaknya sepasang merpati yang hanya murni bercinta. Ia, sejak kapan ia menjadi sebrengsek ini. Sebrengsek cinta pacar Laras yang penuh trik licik dan kebusukkan yang membuatnya jijik.
Lama Arman termenung. Matanya pun tampak mulai merah, entah karena terlalu lama menatap lampu di langit atau rasa sesak yang menderanya menginginkan Arman untuk menangis. Jessica pun pergi tanpa pamit, meninggalkan Arman yang terkulai lemah di sofa. Jessica yakin ucapannya telah tertancap di hati Arman. Dan ia yakin Arman akan bertanggung jawab dengan masalah yang ia buat. Karena begitulah saudaranya.
Baru ketika sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci dari pengeras masjid, tanda waktu akan memasuki waktu subuh. Jessica yang baru akan tidur melihat ada notifikasi masuk di ponselnya. Ia melihat Arman mengiriminya pesan.
Lo benar Jess. Gue sudah jadi orang yang brengsek. Gue akan bicara sama Dino. Itu keputusan gue, ngerti ya ini cara gue bertanggung jawab.
Jessica tidak membalasnya. Jessica yakin keputusan Arman bukan tindakan yang gegabah. Ia yakin Arman sudah memperhitungkan dan menghadapi segala kemungkinannya. Lalu ada pesan masuk kembali dari Arman.
Tapi gue enggak mau mundur. Diam begini membuat gue sadar jika hati gue udah terlalu jatuh tertambat di Kania. Gue ingin berusaha lebih jauh, tentu dengan cara yang lebih terhormat dibanding sebelumnya.
Jessica mengetikkan sesuatu.
Caranya?
Pesan masuk kembali dari Arman.
Kania akan ketemu orang tua gue. Orang tua lo, dan keluarga kita yang lain. Tunggu di acara keluarga nanti.
Jessica tidak percaya apa telah dibacanya. Kepalanya yang sedari tadi terasa pening semakin berdenyut. Malam ini benar-benar melelahkan.