
Matahari mulai berjalan menaiki langit. Sekitar beberapa jam lagi ia akan tiba di puncaknya, memendarkan cahaya dan hawa panas ke seluruh penjuru semesta. Ke gedung-gedung, jalan-jalan, rumah-rumah, dan tentu rumah Kania tidak luput dari sengatannya. Sedari tadi, cahaya matahari menemani Kania yang terpaku menatap layar ponselnya. Kantung matanya tampak tebal, menjadikan wajahnya menyerupai panda. Dari semalam, ia belum tidur, membaca penjelasan Dino dan permohonannya maafnya. Melihat beberapa kali Dino meneleponnya yang tidak pernah ia indahkan.
Ni, maaf. Maaf telah membuatmu merasa sendiri. Aku memahami amarahmu. Aku harusnya ada di sampingmu. Menemani dirimu melewati fase terpenting dalam langkahmu. Namun, aku tidak ada di sana. Maaf. Hanya itu yang bisa aku katakan Ni.
Pesan terakhir yang Dino kirim untuknya – yang sudah kesekian kali ia baca menusuk kembali hatinya.
Matanya berkaca, air mata hendak turun dari sana. Kania menyesal. Tidak sepatutnya ia bereaksi semenyebalkan ini. Harusnya ia lebih berpikir kemungkinan-kemungkinan yang yang lebih positif dibanding menuruti emosinya. Air mata mengalir deras dari matanya.
Jemari Kania begemeratak mengetuk layar ponselnya. Kata muncul dengan cepat, kata menjelma kalimat, kalimat yang mengungkapkan penyesalan kepada Dino. Kania tinggal mengirimnya, namun seolah ada yang menahan dirinya untuk mengetuk gambar pesawat kertas tersebut. Waktu seakan berhenti, menanti Kania mengirim pesan tersebut. Hening menyeruak memenuhi udara, sedetik kemudian jemari Kania bergerak. Ia kembali menghapus isi pesan yang tadi sudah sangat siap untuk dikirim. Rasanya sangat tidak pantas menyelesaikan masalah ini lewat pesan. Kania juga takut jawaban yang keluar dari Dino. Ia takut Dino meninggalkan dirinya. Tangisnya kembali pecah, tangis yang sedari semalam entah sudah berapa kali keluar.
Kamu telepon Kania, hati Kania berbisik kepadanya. Ide yang bagus, hanya saja Kania terlalu takut untuk mencobanya.
Ayo Kania, telepon Dino, ini Dino Kania. Malaikat yang dikirim Tuhan untukmu. Yang tidak pernah menyakiti hatimu, bisik hatinya kembali.
Bisikan hatinya yang ini menenangkannya. Benar juga dirinya, ia mengenal Dino. Dino yang tidak pernah sengaja membuatnya bersedih.
Pintu rumah terdengar diketuk. Kania merasa enggan untuk beranjak, kakinya terasa tidak mempunyai daya. Terlebih ia juga tidak mau orang menatap mukanya yang sudah tidak karuan akibat tangis dan begadang semalaman. Kania semakin menekan bantal yang ada di mukanya. Tidak peduli dengan ketukan yang ada di pintu.
Sayangnya, ketukan itu tidak juga mau menghilang. Orang dibaliknya benar-benar gigih. “Ma, Pa, ada orang tuh,” teriak Kania dari kamarnya. Namun, tidak ada respon dari kedua orang tuanya. Pintu masih diketuk. Kania juga tahu jika kedua orang tuanya sudah sedari pagi berangkat kerja. Ia saja yang bodoh telah berteriak demikian.
“Kaniaa,” samar terdengar suara yang memanggil namanya. Suara yang ia sangat ia rindukan. Suara Dino. Namun, Kania ragu jika itu benar-benar suara Dino. Bagaimana bisa orang yang tengah jauh di Kalimantan tiba-tiba datang mengetuk pintu rumahnya. Mungkin ini tidak nyata, harapannya saja yang sudah membuatnya menjadi gila.
“Kaniaa,” suara itu kembali memanggilnya. Suara itu memberi daya pada kakinya yang terkulai lemah. Dengan masih tidak percaya ia bergegas keluar kamar dan membuka pintu rumahnya. Tidak peduli dengan wajah yang bentuknya sudah tidak karuan.
Di hadapannya, tampak seorang pria dengan berkulit coklat dan berambut ikal tengah menatapnya. Matanya yang dalam dan tajam tampak sendu. Rindu yang menggumpal dalam dirinya merangsek untuk keluar.
“Maaf,” ucap Dino lirih.
Kania langsung menubruk Dino, membuat mereka terjerembab di lantai. Dengan bermandikan cahaya matahari, mereka berpelukan dengan eratnya.