
Wajah Kania tampak lebih segar, meski matanya terlihat masih sembab dan sendu. Kania melepas ikatan rambutnya, rambutnya jatuh menutup lehernya. Tampak rambut hitam legam yang lurus pada bagian atas, namun bagian bawah terlihat kusut.
“Ni kamu kayak kuntilanak,” goda Arman.
“Biarin, rasanya lebih enak jadi hantu,” tanggap Kania sambil cemberut.
Tangan Arman menyisir rambut Kania dengan tangannya. Kania diam tidak menampik sentuhan Arman.
“Ni meski kamu sedang depresi, kamu harus tetap menjaga sikap dan penampilan. Itu syarat awal menjadi dewasa,” jelas Arman dengan lembut.
“Biarin, kalau jadi dewasa serumit itu. Aku tetap seperti ini saja, kayak aku enggak punya masalah saja mikirin begituan,” sergah Kania masih dengan cemberut dan sinis.
Arman menghentikan tangannya. Wajahnya berubah dari lembut menjadi lebih serius.
“Oke, kita bicara tentang pekerjaan kamu,” mulai Arman dengan nada suara yang lebih tegas.
“Aku menawari kamu dua pilihan. Pertama, aku bisa merekomendasikan kamu di tempat kerjaku. Kalau kamu mau, kamu tinggal menyiapkan berkas-berkasnya nanti berikan kepadaku. Tapi..,” Arman menghentikan sejenak ucapannya. Ia menatap Kania memastikan Kania menyimak dirinya.
“Tapi Apa?” tanya Kania. Suaranya tidak sedatar tadi. Kania menjadi lebih antusias.
"Tapi aku tidak bisa menjamin kamu diterima atau tidak. Yang bisa aku pastikan adalah kamu punya kesempatan lebih dibanding pelamar lain. Sisanya kembali pada kemampuan kamu, bisa tidak bersaing dengan mereka.”
“Satu lagi. Untuk pilihan pertama ini mungkin kamu harus menunggu lagi sedikit lebih lama. Kan aku tidak tahu lowongan apa yang sedang tersedia. Jadi kalau kamu tertarik dengan pilihan ini, mulai besok aku akan mengabari kamu bidang lowongan yang sedang terbuka. Kalau kamu ingin bekerja di bidang tersebut, kamu berikan berkasmu ke aku.”
Dahi Kania berkerut. Kania menimbang untung rugi pilihan pertama ini.
“Pilihan kedua adalah kamu bekerja di sini – di kafe Agape. Aku berencana meningkatkan penjualan lewat iklan di media sosial. Tapi kan aku tidak mengerti market plan di medsos itu seperti apa, maklum sudah tua.”
“Singkatnya aku ingin kamu mengurus media sosial kafe Agape,” tutup Arman.
Mereka terdiam sejenak. Kania menunggu penjelasan Arman lebih lanjut.
“Ta-pi?” tanya Kania dengan mata mendelik.
“Tapi apa, kalau pilihan yang ini enggak ada tapinya Ni. Toh aku sendiri yang jadi bos. Kalau kamu mau, kamu besok bisa langsung kerja,” tawar Arman sambil menyesap kopinya. Ia mencoba sebisa mungkin bersikap biasa.
Kania kembali terdiam. Kembali menimbang dan dan membandingkan kedua pilihan yang ditawarkan Arman. Secara pragmatis, jelas pilihan kedua lebih masuk akal untuk ia ambil. Terlebih ia sudah akrab dengan deskripsi kerja yang dijelaskan Arman tadi. Ia sudah bisa membayangkan harus melakukan apa saja. Ditambah pilihan kedua ini tidak ada kerugiannya. Tidak secara teknis.
“Mas kasihanin aku ya. Mas gunain perasaan pribadi Mas ya?” selidik Kania. Nada suaranya terdengar sangat serius.
Arman terdiam sejenak, mencari kata yang pas untuk menjawab Kania. “Aku enggak kasihani kamu Ni. Tapi bohong aku tidak menggunakan perasaan. Kamu tahu kalau aku mencintaimu,” ungkap Arman.
“Tapi tidak sepenuhnya aku menggunakan perasaan aku. Biar bagaimanapun aku sedang berbisnis. Dan aku tahu sendiri bisnis akan hancur jika menggunakan emosi.”
“Rencana ini sudah aku pikirkan lama. Aku menawari kamu karena secara teknis jurusan kamu masih relevan dengan bidang kerjanya,” jelas Arman. Kania terhenyak. Jawaban Arman benar masuk akal, meski Arman juga tidak menampik ia menggunakan perasaan pribadinya.
“Mas, boleh aku pikirkan dulu.”
Arman mengangguk. Hatinya berharap Kania menerima tawarannya.