
Dino bertanya kembali kepada Bapak Layla, memastikan semua sumbangan Basecamp sudah sampai kepada mereka. Bapak Layla menangguk dengan mantap dan mengatakan semuanya tidak ada yang kurang. Seperti biasa, Dino menutup tugasnya dengan mengingatkan Bapak dan Ibu Layla jangan takut untuk melaporkan kepadanya apabila ada volunteer yang curang dan menekan mereka. Bapak dan Ibu Layla mengangguk dan meyakinkan Dino akan menuruti peringatannya.
“Baik Pak. Nanti beberapa hari lagi Arinta akan kesini untuk mengecek keadaan Layla,” tutup Dino, sambil meletakan kembali buku sakunya ke dalam tas.
“Kak Arinta pasti nanti datangnya sama Kak Dino ya?” tanya Layla dengan semangatnya. Kania tersentak. Matanya tajam menatap Dino. Dino mengangkat matanya ke atas, mengisyarakatkan tidak ada sesuatu yang perlu dicemburui.
“Emang Kak Dino sering kesininya sama Kak Arinta ya La?” selidik Kania sambil tetap menatap tajam ke arah Dino.
“Iya Kak,” jawab Layla dengan ceria, tidak sadar jawaban lugunya ini memantik amarah Kania. “Eh iya Kak, kok sekarang Kak Arinta berubah ya Kak. Sekarang jadi lebih lembut, apalagi kalau berbicara dengan Kak Dino,” tanya Layla kepada Dino.
“Oh gitu,” Kania mengangguk-angguk wajahnya sudah merah menahan gumpalan amarah di dalam tubuhnya.
“Apasih La,” tanggap Dino datar. Lalu ia beruluk salam kepada Bapak dan Ibu Layla, hendak pamit. Kania mengikuti Dino beruluk salam, lalu mengekor Dino keluar dari ruangan.
***
Dino dan Kania melepas lelah di sebuah sebuah kedai kopi tidak jauh dari rumah Layla. Mereka memesan es jeruk yang pasti rasanya sangat menyengarkan di siang yang terik ini. Dentingan es batu berputar di dalam gelas, seakan menggoda mereka untuk segera meneguk dan menghabiskan air di dalamnya. Dan memang tidak butuh waktu lama, mereka hampir menghabiskan es jeruk yang baru disediakan.
“Ni jangan marah. Layla tadi hanya mau menggoda kamu,” pinta Dino dengan lembut.
“Iya Dino. Kania enggak marah. Lagian juga sudah biasa kamu disukai sama cewek-cewek di Basecamp. Dinonya saja yang tidak peka dan masih bersikap manis ke mereka,” tanggap Kania dengan biasa. Kania memang jengkel tadi, tapi emosinya cepat larut karena ia percaya Dino tidak akan macam-macam.
Terlebih ketika Arman hadir dalam hidupnya sekarang, Kania merasa tidak pantas mengomeli Dino jika ia sedang bersama perempuan lain.
“Iya maaf,” ucap Dino dengan pelan dan menundukkan wajahnya.
“Ni,” sapa kembali Dino memecah lamunan Kania.
“Ada yang lagi kamu pikirkan ya?”
“Iya Di,” jawab Kania lemah. Ia menimbang kembali jadi atau tidak ia meminta pendapat Dino. Tidak lama, ia membulatkan tekad hendak menceritakan semuanya.
Kania menceritakan jika ada temannya yang menawarinya dua pilihan kerja yang ditawarkan kepadanya. Pertama, temannya ingin merekomendasikan dirinya kerja di kantornya jika ada lowongan yang sesuai dengan jurusannya. Kania menceritakan untung ruginya pilihan pertama ini. Pilihan kedua, temannya meminta Kania menjadi admin media sosial di kafenya. Kania bercerita sedikit sekali kerugian pilihan kedua ini dan hatinya lebih kerasan pada pilihan kedua. Namun, ia tidak menceritakan kerugian pilihan kedua karena berkaitan dengan perasaan Arman kepadanya.
“Kania tadi memperhatikan Dino bekerja. Dino terlihat sangat bersemangat dan bergairah. Dino terasa sangat hidup. Kania berpikir inilah cerminan orang yang kerja sesuai dengan hatinya. Kania ingin seperti Dino. Makannya Kania lebih tertarik dengan tawaran kedua, tapi,” Kania menahan ucapannya. Ia kembali mempertimbangkan hendak menceritakan semua atau tidak kepada Dino.
“Tapi apa?” selidik Dino. Kania masih diam. Wajah Dino mendekati wajah Kania. Ia memegang tangannya meminta Kania kembali bercerita.
“Kania takut punya hutang budi kepada teman Kania,” ucap Kania dengan berat.
Dino menghela napas. “Ni kalau hati kamu memang yakin di sana, jangan ragu lagi. Kamu tinggal pastikan apakah teman kamu itu beritpikal pamrih atau tidak. Kalau iya, menurut aku lebih baik jangan karena nanti kamu akan mempunyai beban,” jelas Dino. Kania masih diam dan menundukan wajah, tapi ia menyimak semua ucapan Dino ini.
“Memang siapa teman kamu itu, Arman ya?” selidik Dino. Kania tersentak mendengar tebakan Dino.
“Dia kayaknya suka sama kamu."
Dua bulir keringat menghias di dahi Kania. Hembus angin jatuh di tengkuknya, membuat Kania bergidik menambah perasaannya yang sudah tidak karuan. Takut jika semua terbongkar dan Dino pergi meninggalkan dirinya.