Question

Question
Haruskah Aku Pulang?



Dino mulai merobohkan tenda penginapan. Ia harus berganti lokasi ke wilayah lain karena tugasnya di sini sudah selesai. Dino bekerja tanpa tanpa istirahat, ia terlihat semangat hari ini. Alasannya adalah ponselnya yang hilang sudah ditemukan. Ponselnya ternyata tertinggal di salah satu mobil pick up ketika ia ikut mengambil bibit pohon dari Perhutani Pontianak. Dan ia mendapat kabar kalau ponselnya dititipkan di wilayah yang akan ia tempati nanti. Bayangan Kania menari dalam pikirannya. Akhirnya ia bisa berkomunikasi kembali dengan Kania. Menanyakan kondisinya dan itu yang sangat Dino ingin tahu. Mimpi buruknya tentang Kania sangat mengganjal hatinya.


Ketika matahari mulai tergelincir dari puncaknya, Dino dan timnya selesai berkemas. Mobil yang mengangkut dirinya juga sebentar lagi tiba. Sambil menunggu, Dino dan yang lainnya be merebahkan diri, beristirahat sejenak, menikmati hangatnya sore di alam terbuka yang asri, seolah kedamaian menyeruak di udara. Mereka tersenyum melihat bibit-bibit kecil yang menyembul malu-malu di hamparan padang. Hati mereka bergetar. Bergetar dengan kepuasan dan kebersyukuran. Diri mereka seolah ringan dan penuh energi. Hal inilah yang biasa mereka rasakan setiap habis melakukan kebaikan.


Pak Abdul menghampiri mereka yang sedang bercanda. Semua candaan seketika berhenti. Bukan karena mereka takut oleh Pak Abdul, sikap mereka lebih mengarah ke rasa hormat kepadanya.


“Tadi saya dapat kabar dari Basecamp, mereka akan mengirimkan volunteer lain sebagai bantuan. Kalau di antara kalian ada yang ingin pulang, kalian kabari saya saja ya,” ucap Pak Abdul. Ia berbicara sambil menatap matanya pada Dino. Seakan mengisyaratkan Dino untuk kembali ke Jakarta.


Akhirnya sampai mobil pengantar tiba, Dino belum menemukan jawabannya. Ia tunggu jawabannya ketika ia melihat ponselnya nanti. Sepanjang perjalanan, Dino hanya diam ditemani gelisah yang mengusik hatinya. Baru pertama kali ia mengalami dilema seperti ini. Biasanya ia akan dengan mudah memilih kegiatan sosial dibanding urusan pribadinya. Mengesampingkan urusan pribadinya demi kepentingan orang banyak. Tetapi, rasanya sekarang masalah ini tidak sesederhana biasanya. Dino seolah dihadapkan pilihan antara orang banyak dan Kania. Mereka seolah berdiri bersebrangan. Dan Dino harus memilih salah satu sisinya. Memilih antara orang banyak atau Kania. Atau memilih antara keinginannya atau perasaan Kania. Kita ini adalah makhluk yang paling egois, kata-kata Pak Abdul yang ia dengar tempo hari mengejutkan dirinya. Kepalanya terasa lebih sakit. Mengapa semua berjalan menjadi rumit seperti ini, gumamnya.


Pak Abdul sedari tadi memperhatikan kegelisahan Dino. Pak Abdul mengetahui bahwa Dino berada dalam situasi dilematis di mana ia dipaksa memilih dan mengobarkan salah satu. Namun, Pak Abdul hanya diam saja, tidak terdorong membantunya. Ia pernah merasakam perasaan yang sedang Dino rasakan dan ia merasa mengambil pilihan yang salah sehingga ia kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Pak Abdul gagal, sehingga ia merasa tidak berhak memberikan pendapatnya.


Pak Abdul memejamkan mata, lalu mulai bergumam. Kita, manusia. Terus berperang dengan diri sendiri. Dengan nurani dan egois. Sampai kita lupa, meraba cahaya yang membimbing kita dalam gulita.