
Mata Jessica mendelik tajam menatap Arman. Wajahnya tegang, ia kesal dengan tingkah saudaranya ini. Arman menyadari Jessica menatapnya dengan penuh amarah, namun ia tidak harus memelas atau memohon maaf karena ia tidak merasa bersalah.
“Lo sih Man, gue bilang jangan ungkapin perasaan dulu,” ucap Jessica meledak, jengkel karena pria di depannya ini sedari tadi hanya diam.
“Kan lo lebih dewasa Man, bisa menentukan situasi yang sesuai. Sekarang coba lihat akibatnya. Kania jadi kayak gini kan, tiba-tiba enggak bisa dihubungi,” amarah Jessica semakin bergejolak.
“Pesan dari lo pun enggak dibalas Jess?” tanya Arman terkejut. Jessica mengangguk, ia mengigit bibirnya sendiri, menahan kekesalan dan kekhawatiran yang sudah tercampur aduk.
Batin Arman bergetar, terbesit pikiran-pikiran buruk menimpa Kania.
Sehabis pernyataan cintanya kepada Kania, pesannya tidak pernah dibalas oleh Kania. Arman mengerti ia sangat tergesa, sehingga Kania sulit memahami semuanya. Begitu tahu Kania tidak meresponnya, ia juga tidak langsung mencecar Kania. Kania mungkin sedang butuh waktu sendiri, pikirnya. Tetapi ia tidak menduga jika Kania benar-benar menutup diri dari siapapun, sampai-sampai sahabat baiknya sendiri tidak dapat menghubunginya.
“Jess, coba tolong ke rumahnya. Gue khawatir. Gue pengen banget ke sana, tetapi gue enggak mau memperkeruh masalah,” ratap Arman. Nada suaranya begitu lirih dan menyedihkan.
“Enggak lo jangan ke sana dulu, lo jangan nambah perkara ya Man,” balas Jessica sengit. Tangannya sampai reflek menunjuk Arman.
Arman menunduk, bingung harus melakukan apa.
Jessica diam sejenak. Sebenarnya ada ucapan lain yang disampaikan Mama Kania kepadanya. Mama Kania yang sedari awal tahu Jessica mengenalkan saudaranya ke Kania dan mereka mulai berhubungan. Dan Mama Kania sendiri yang memberitahunya kemungkinan saudaranya itu mengungkapkan perasaannya ke Kania. Sepulang dari pasar malam, wajah Kania tampak sangat lelah dan kelam. Matanya terlihat mengembang. Mama Kania tahu anaknya habis menangis. Ia menduga Arman mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dijawab oleh Kania.
“Kamu enggak perlu merasa bersalah ya Jess. Memang sudah takdirnya Kania mengalami semua ini. Biarkan Kania sendiri dulu. Biarkan dia merenungi semuanya. Semoga sehabis ini Kania bisa lebih dewasa,” hibur Mama Kania kepada Jessica yang gundah dan merasa bersalah.
Sehabis itu, ia langsung mencecar Arman untuk memastikannya. Amarah Jessica meledak ketika Arman mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Ia langsung menumpahkan amarah tersebut kepada Arman yang tidak mengindahkan peringatannya.
“Ada lagi Jess?” tanya Arman memecah lamunan Jessica.
“Ada dan lo enggak perlu tahu,” jawab Jessica ketus. Arman hendak memohon Jessica memberitahu ucapan lain itu, namun setelah melihat tatapan marah Jessica ia mengurungkan niatnya.
Hening menjalar di udara. Mengutuk Arman dan Jessica yang didera rasa bersalah.
Dering ponsel Jessica memecah lamunan Arman dan dirinya. Jessica melihat layar ponsel, terpampang nama Dino di sana. Wajah Jessica berubah gugup, ia bingung harus menjawab telepon tersebut atau tidak. Sedari sidang skripsi Kania, Jessica terus merasa bersalah kepada Dino.
Dering ponselnya berhenti. Jessica menarik napas lega. Namun sedetik kemudian Dino kembali meneleponnya. Pasti ada sesuatu yang penting, pikir Jessica. Ia segera menjawab panggilan Dino.