Question

Question
Hari Wisuda



Air mata Kania kembali mengalir memudarkan bedak yang tengah disapu oleh Mbak Nana – kerabat dekat keluarga Kania sekaligus penata rias langganan Mama Kania. Mbak Nana menghela napas, ia gusar karena harus mengulang lagi riasan Kania. Ia meletakan sejenak peralatan riasnya. Lalu memutar kursi Kania menghadapnya. Matanya menatap Kania hangat. Ditatap sedemikian perhatian tersebut, Kania langsung memeluk Mbak Nana.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Mbak Nana dengan lembut.


Kania mencurahkan segala kesedihannya kepada Mbak Nana. Tentang betapa ia merasa bersalah, tidak ada ketika Dino tengah bersedih. Tentang harapan besarnya yang ingin Dino hadir ketika wisuda nanti, sampai-sampai sulit bagi dia untuk mengerti dan menerima keputusan Dino. Tentang betapa kecewanya dia karena semakin lama harapannya semakin pudar.


Mbak Nana mengusap pelan rambut Kania, memberi waktu Kania melampiaskan segala bebannya. Segala beban yang telah menjatuhkan mental dan asa Kania.


Selang beberapa lama, tangis Kania mulai mereda.


“Sayang,” ucap Mbak Nana masih dengan kelembutan yang sama hangatnya. Kania mengangkat wajahnya menghadap tatapan Mbak Nana. Lingkaran hitam di matanya yang sembab kembali jelas terlihat. Kania tampak sangat lelah.


“Dalam kehidupan ini, tidak semua hal yang kita harapkan dapat tercapai. Sekalipun harapan itu tampak sederhana. Kita boleh jatuh, kita boleh meratap, kita boleh berkeluh kesah, menggeretui pedihnya diri ini dipermainkan oleh kehidupan.”


"Tapi kita boleh berhenti melangkah. Hidup Kania harus terus berjalan. Di depan sana, masih banyak sejuta kemungkinan dan sejuta kebahagiaan yang bisa jadi berbeda dengan yang kita harapkan, tapi mungkin itulah yang seharusnya kita jalani.”


“Kalau Kania mau membuka mata. Kania akan melihat Kania tidak hanya membutuhkan kehadiran Dino. Kania pasti membutuhkan kehadiran mama, papa, dan tentu teman-teman Kania, benar tidak?” Kania mengangguk pelan.


Segala ucapan Mbak Nana meresap di dalam hati Kania. Membasuh bara egois dalam dirinya. Ia mencoba lebih menerima kejadian yang ia alami. Berniat berdamai dengan waktu.


“Jadi Kania harus tampil cantik di depan mereka. Jangan sampai mereka kecewa dan merasa disangsikan ya oleh Kania. Kania tahu sendiri betapa tidak enaknya hal tersebut.”


Kania kembali mengangguk pelan. Mbak Nana tersenyum, lalu mulai menyapu kembali riasan yang pudar oleh tangis Kania.


***


Di teras rumah, sepasang burung cucak kutilang berterbangan kesana kemari. Kicauannya yang nyaring menyeramakkan cerahnya pagi. Di sebuah ranting mereka menepi, lalu mengibaskan bulunya yang terpecik embun. Selang berapa waktu, cucak kutilang jantan menghempaskan diri dari ranting. Cucak kutilang betina semakin nyaring berkicau seolah memanggil cucak kutilang jantan untuk kembali, tapi sayang, ia sudah lenyap dari udara.


Harapan Kania semakin sirna. Tidak ada Dino yang menunggunya di teras. Dengan mengenakan jaket jeans andalannya, tidak peduli seberapa formal acara yang ia kunjungi. Tidak ada Dino yang menawarinya helm dan membawanya ke tempat wisuda. Mama Kania mengelus bahu Kania yang henyak terpaku. Matanya berkaca, menyaratkan prihatin kepada Kania.


Sepanjang perjalanan, Kania membaringkan diri di bahu mamanya. Ia mencoba beristirahat, tubuhnya terasa sangat lelah. Sebenarnya ia ingin sekali menangis, namun keinginannya ini ia coba tahan. Kania tidak mau merusak suasana hati kedua orang tuanya dengan menangis.


Dering ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk. Dengan enggan ia membuka ponselnya. Tampak Dino mengriminya pesan.


Kania semakin memejamkan matanya. Duka memuncak dalam dirinya, sampai-sampai ia tidak bisa menangis. Dino sudah menyerahkan keputusan hubungan ini kepadanya. Ia mulai menjajaki perasaannya satu per satu. Ia merenungi kehadiran Dino dalam hatinya. Kehadirannya masih sangat berarti dalam hidupnya. Tapi apakah kehadiran Dino sedemikian penting sampai ia rela menelan kekecewaan seperti ini. Lalu sampai kapan ini berlanjut?


Kania mengetikan sesuatu, membalas pesan Dino.


Dino, Kania sangat mencintai Dino.


***


Saras menarik lengan Kania yang terkulai lemah. Membawanya masuk ke aula wisuda. Di dalam, pembawa acara mulai menyebutkan susunan acara. Saras menatapi Kania yang sangat lelah. Jessica sebelumnya sudah memberitahu dirinya tentang Arman yang menyatakan perasaannya kepadanya. Dan Saras juga menyadari tidak ada tanda kehadiran Dino tadi. Dengan segala masalah tersebut, Saras menilai betapa depresinya Kania belakangan ini. Saras sudah memancingnya dengan pertanyaan tentang Dino, berharap Kania mencurahkan perasaannya dan menjadi lebih lega. Tetapi Kania hanya menggelengkan kepala, lalu kembali memejamkan mata. Ia sepertinya masih ingin sendiri. Karena bingung harus bagaimana, Saras membuka ponselnya lalu membuka aplikasi permainan, mencoba menyibukkan diri sambil tetap melirik Kania. Menunggu Kania bicara.


***


Acara wisuda telah berakhir. Pintu aula wisuda dibuka. Kania keluar ruangan. Tampak para hadirin wisuda tengah menunggui wisudawan. Kania melirik sekitar, berharap ada Dino di sana. Sayangnya, harapannya kembali sirna. Saras yang melihat Kania kecewa segera menarik lengan Kania dan mengajaknya foto bersama rekan-rekan angkatannya yang lain.


Teman-teman Kania hadir satu per satu menyalami Kania. Kania memasang senyum yang tampak dipaksa. Jangan sampai tangisnya berderai merusak suasana. Mama tadi sebenarnya mengajaknya untuk segera pulang jika memang suasana hatinya masih tidak enak. Namun, Kania menolaknya. Ia harus bisa tidak egois. Ia malah menyilakan mama dan papanya untuk pulang terlebih dahulu. Wajah mereka sudah tampak sangat lelah. Nanti ia bisa meminta Jessica mengantarnya pulang. Dan yang disebut namanya kebetulan datang bersama Arman di belakangnya.


Jessica langsung memeluk Kania dan Saras dengan erat. Ia sangat bahagia kedua sahabatnya sekarang sudah menjadi Sarjana. Arman mengulurkan tangannya menyalami Kania. Kania menyambut uluran tangan tersebut dengan senyum getir. Ada kecanggungan merayapi mereka. Jessica yang menyadari hal tersebut, langsung mengajak mereka semua foto bersama.


Menjelang siang, tempat sidang masih dipenuhi para hadirin dan wisudawan. Kania melihat banyak sekali pria yang hadir merayakan kelulusan pasangannya. Ada pria yang membawa sebuket bunga dan kotak hadiah yang langsung dipeluk oleh kekasihnya. Ada pria yang datang dengan mengenakan hoddy hitam dan celana jeans yang robek di bagian lututnya tampak sedang diceramahi oleh orang tua pasangannya. Ada yang hanya datang tidak membawa apa-apa, tapi pasangannya terlihat sangat senang.


Tidak ada Dino.


Hati Kania berdegup, ia sudah tidak kuat lagi menahan perasaannya. Ia mengajak Jessica dan Saras menepi ke tempat yang lebih sepi. Arman mengekor di belakang mereka.


“Gue enggak kuat,” ratap Kania sambil menangis sejadinya.


Tangis Kania terdengar sangat pilu di telinga Arman. Hatinya bersumpah ia tidak akan pernah meninggalkan Kania.


Bagian Satu berakhir


Tapi Kisah ini masih jauh dari selesai