Question

Question
Hadirmu adalah Anugerah dalam Hidupku



“Lo lagi ada masalah sama Kania?” tanya kembali Arinta dengan aksen yang sebisa mungkin dibuat biasa, padahal sedari tadi ia sudah nyaris mati penasaran.


Dino masih terdiam. Ia menghela napas, menimbang menceritakan ganjalan yang ada di pikirannya ini atau tidak. Dino memang jarang curhat dengan siapapun. Ia sangat protektif dengan urusan pribadinya. Sepanjang hidupnya, ia hanya terbuka dengan Pak Abdul – itupun setelah Pak Abdul berhasil memancingnya untuk bercerita. Mata Dino menatap lekat Arinta. Ada perasaan yang mendorong dirinya untuk bercerita, mencurahkan isi hatinya pada wanita di depannya ini. Dino terngiang perhatian Arinta yang berhasil menenangkan kesedihannya ketika ditinggal Pak Abdul. Sejak dari Kalimantan, Dino merasa hubungannya dengan Arinta menjadi lebih dekat. Dengan sikap Arinta yang juga berubah menjadi lebih lembut, ia merasa jarak mereka lebih dekat. Lebih hangat.


“Bukan ada masalah sih Rin. Ada sesuatu yang gue pikirin,” mulai Dino, menuruti hati yang sedari tadi mendorong dirinya.


“Gue merasa Kania berubah. Gue merasa di hati Kania bukan hanya ada gue. Seperti dulu,” Dino berhenti sejenak. Mengatur napasnya yang terasa semakin sesak.


“Dia sepertinya punya hubungan dekat sama cowok lain, ditambah sekarang ia sibuk sama pekerjaannya. Tapi gue enggak mau protes atau mempermasalahkannya. Kania sudah banyak sekali merasa kecewa karena sikap dan kesibukan gue yang sering ninggalin dia, larut sama kerja.”


“Dengan semua itu, rasanya enggak adil kalau gue protes sama kesibukan Kania sekarang,” Dino menghela napas panjang. Menghempaskan segala keluh kesahnya agar terbawa udara.


“Termasuk curiga lu Kania punya hubungan sama cowok lain?”


“Ya,” tanggap Dino. Lidahnya terasa kelu.


“Gue nunggu Kania cerita semuanya.”


“Kenapa?” sergah Arinta, tidak mengerti maksud hati Dino.


“Karena enggak adil kalau gue mempermasalahkan.”


“Loh tapi kan lo enggak pernah dekat sama cewek lain.”


“Masalahnya bukan di situ Rin. Masalahnya adalah gue yang kurang bisa membahagiakan dia. Kalau gue bisa buat dia bahagia, enggak mungkin ada cowok lain yang masuk. Ngerti kan letak enggak adilnya kalau gue protes?”


“Enggak,” tanggap Arinta. “Lo ribet Di, kalau cemburu tinggal bilang cemburu kali.”


Dino tersenyum, lalu memegang kepala Arinta. Tidak sadar sikapnya itu membuat wajah Arinta memerah.


“Jadi cowok emang ribet Rin,” balas Dino sambil tersenyum.


“Lagipula, gue lebih memilih seperti sekarang. Biarpun enggak enak. Gue enggak mau mengambil kebahagiaan Kania sekarang."


"Kania itu udah baik banget Rin. Hadirnya dia adalah anugerah dalan hidup gue."


***


Senja hampir lenyap disangsikan bulan yang perlahan menyembul malu-malu. Langit mulai tampak menggelap, menyisakan warna ungun kehitaman. Awan tebal berarak memutari bumi di bawahnya. Seakan nyaris tidak bisa menahan hujan yang hendak jatuh membasahi tanah di bawahnya.


Arman tiba di kedai miliknya. Ia melihat papan nama kedainya yang baru. Hatinya berdegup. Baru tersadar kedai yang dibuatnya sebagai tempat pelarian dan tempat mengenang segala kisahnya dengan Laras berubah menjadi sebuah mimpi baru dan cerita indah yang menyesakkan hatinya.


Sebenarnya ia enggan untuk ke kedai. Arman masih dirundung kecewa yang terus menggumpal membebani tubuhnya. Ia tidak ingin bertemu Kania dahulu, Kania yang telah membangun sekaligus menghancurkan harapannya. Kania yang seolah bermain dengan rasa cintanya. Ingin sekali ia protes dan melemparkan segala kecewanya kepada Kania, agar Kania tahu dirinya sakit. Namun ia tidak bisa. Arman sadar ialah yang memulai semua ini dan ini semua adalah risiko yang harus ia tanggung. Jadi ia lebih memilih diam dan mengambil jarak sejenak.


Arman membuka pintu perlahan. Kania yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di meja segera menoleh ke arah pintu. Hati Arman tersayat melihat mata Kania yang sembab dan sendu. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya tidak akan membuat air mata Kania jatuh. Arman meminta pramusaji dan barista menutup kedai lebih cepat. Pramusaji dan barista mengangguk dan segera merapihkan pekerjaannya masing-masing sambil sesekali melirik ke arah Bos dan atasan barunya itu.


Kania tidak mampu berucap apa-apa. Tadi ia banyak menyiapkan penjelasan atau apapun itu untuk menenangkan kesedihan Arman. Namun kata-kata seakan lenyap dari pikirannya. Mulutnya tercekat oleh rasa bersalah yang semakin menggumpal ketika Arman berada di hadapannya. Bahu Kania bergetar, air mata tumpah membasahi wajahnya yang segera ia benamkan di meja.


Arman mengusap kepala Kania perlahan. Jemarinya dengan lembut menelusup helai demi helai rambut Kania. Rasa sedihnya sudah lenyap entah ke mana. Ia sekarang mencari cara menenangkan Kania.


“Sudah Ni. Aku yang salah,” bisik Arman mendekatkan wajahnya ke dekat Kania, sehingga Kania dapat merasakan hembus angin suara Arman menerpa telinganya.


“Maaf,” Ucap Kania sambil menangis.


“Aku jahat.”


“Enggak Ni. Kamu enggak jahat,” suara Arman terdengar lembut menerpa telinga Kania.


“Aku jahat Mas. Aku udah mainin perasaan Mas. Aku cewek enggak baik,” Kania meronta. Melepaskan ssmua keluh kesah dan rasa bersalahnya. Tangisnya terdengar makin kencang.


“Enggak Ni. Kamu enggak mainin perasaan siapa-siapa. Kamu enggak salah. Aku yang terlalu terburu-buru. Aku yang salah sangka dengan perasaanku. Dengan harapanku sendiri.”


“Mas bohong!” sergah Kania. “ Kenapa Mas seharian diamin aku. Mas kecewa kan sama aku. Aku udah jahatin Mas kan.”


Arman tersentak. Mulut Arman tercekat. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan. Arman tidak bisa merasa baik-baik saja. Rasa kecewanya hari ini benar-benar dirasakannya. Ia merasa bodoh. Padahal ia sudah dewasa, namun masih saja bertindak berdasarkan perasaannya, sampai membuat wanita yang ia cintai ini bersedih seperti ini.


Waktu berjalan lambat. Detaknya terdengar memenuhi ruangan berpadu dengan suara tangis Kania yang belum mereda. Para pekerja sebisa mungkin tidak membuat suara, takut menganggu masalah mereka. Ditambah mereka juga penasaran dengan lanjutan kisah cinta Bosnya itu. Arman diam, sambil terus mengusap kepala Kania. Entah mengapa ia senang Kania menangisi dirinya. Ia yakin keberadaannya berarti dalam hidup Kania.


Selang berapa lama, tangis Kania mulai mereda. “Ni,” ucap Arman lembut.


“Hemm,” sahut Kania pelan.


“Coba lihat aku,” Kania menggeleng. Ia masih membenamkan wajahnya di meja.


“Kania.”


“Angkat kepalanya dulu.”


“Aku mohon,” Kania perlahan mengangkat kepalanya. Matanya semakin sembab dan wajahnya basah oleh air mata.


Arman dengan cepat menarik wajah Kania ke hadapannya. Bibir Arman menyentuh bibir Kania. Kania terkejut tidak menyangka tindakan Arman, namun hanya perlu beberapa detik ia dapat mengontrol dirinya. Bibirnya terbuka, menyambut bibir Arman yang mendekap bibirnya. Wajah Arman ikut basah oleh sisa tangis Kania. Namun, ia tidak peduli. Bibir Kania sudah menyeretnya ke alam yang garib, yang purba, di mana ia merasa sempurna menjadi manusia.


"Kamu enggak jahat Ni. Kamu itu adalah anugerah dalam hidupku."


Bibir mereka kembali saling bertautan. Tanpa disadari, Dino menyaksikannya dari balik jendela.