Question

Question
Masih Terasa Sama



Sebuah motor tua terpakir di depan pintu gerbang kos Kania. Lamunan Arman terpecah, ia segera masuk ke dalam mobil sambil tetap memperhatikan pria tersebut. Pria itu melepas helmnya, tampak rambut ikalnya mengembang. Pria itu mengenakan hoddy abu dengan celana jeans hitam dan sandal. Mirip seperti anak kuliah, namun Arman tahu bahwa pria itu bukanlah mahasiswa. Arman mengenali pria itu. Dino.


Dino terlihat membawa bungkusan yang Arman duga sebuah makanan. Dahi Arman berkerut, membayangkan mereka sarapan berdua di tempat pribadi Kania. Rasa iri dan cemburu memuncak di kepalanya, ingin rasanya ia menginjak gas lalu pergi dari sana. Namun, Arman kakinya seolah tertahan, rasanya ia harus tetap berada di sini. Tidak mungkin Kania nanti tidak melihatnya dan ia akan tahu bagaimana sikap Kania kepadanya.


***


Dino mengetuk pelan pintu Kania, agar Kania tidak terlalu terkejut saat bangun. Cukup lama ia mengetuk, namun belum ada respon dari Kania. Dino mencoba menarik kenop pintu. Terbuka. Ia menghela napas panjang.


“Kebiasaan kamu Ni,” gerutunya.


Di depannya tampak Kania masih tidur dengan lelapnya. Bantal dan guling telah tergeletak di pojok-pojok ruangan. Piyama yang dikenakan Kania tampak terkancing secara asal. Dino kembali menggelengkan kepala. Untung sayang, gumamnya.


Dino melirik jam, pikirnya waktu masih pagi – masih bia ia berbenah sebelum membangunkan Kania. Dino mengambil sapu, lalu mulai membersihkan debu-debu yang ada. Setelah selesai, ia mengambil peralatan makan dan menyiapkannya di dekat Kania yang masih terlelap.


“Ni bangun,” ucap Dino sambil mengusap pelan pipi Kania.


“Hmm,” gumam Kania sebagai tanggapan ucapan Dino yang terus terdengar di telinganya.


“Kamu kan kerja,” balas Dino dengan halus.


Kania membuka mata dengan enggan. Pandangannya masih terasa samar, ia belum mengenali orang di sisinya ini. Perlahan cahaya masuk ke dalam mata, membuatnya melihat dengan jelas. Kania terkejut ternyata orang tersebut adalah Dino.


Kania memejamkan mata, lalu membukanya kembali. Benar sosok di depannya adalah Dino.


“Kok Dino ada di sini?” tanyanya masih tidak percaya Dino ada di depan matanya. Pasalnya Kania tidak membalas pesan Dino. Kania sudah terlalu lelah dengan banyaknya kejadian kemarin. Ia baru mau meminta maaf nanti ketika ia bangun tidur.


“Ya aku inisiatif aja mau membangunkan kamu. Aku yakin kamu kalau tidak dibangunkan akan kesiangan,” ledek Dino. Kania tidak merasakan nada marah atau bete dalam ucapan Dino.


“Kamu mau makan dulu atau mandi?” ucap Dino sambil menata piring untuknya dan Kania.


Hati Kania bergetar, Dino benar saman sekali tidak mempersoalkan masalah kemarin. Padahal ia sudah bingung mencari alasan apa, belum sanggup ia menceritakan hubungannya dengan Arman. Dino seakan mau mengerti tanpa perlu bertanya.


“Mau cium,” ucap Kania. Dino tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kania. Sedetik kemudian, bibir mereka saling berpagutan. Membentuk tautan yang terasa manis, kenyal, dan sejuta rasa lainnya. Mendesirkan darah yang mengalirkan perasaan hangat dan nyaman dalam diri.


Cukup lama kedua bibir itu merekat, sampai akhirnya Dino melepasnya.


“Udah Ni, ingat kerja,” pipi Kania mengembung dengan bibir yang cemberut.


“Ah bete ah sama Dino,” ia melipat kedua tangannya, lalu menoleh ke samping, seakan benar-benar ngambek.


Dino tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang masih terasa sama. Selalu bisa membuat ceria hidupnya. Ia mengacak rambut Kania, ingin rasanya ia memeluk tubuh dan wajah yang menggemaskan ini dan selamanya tidak akan ia lepaskan.