
Jessica menggeleng-gelengkan kepala. Pikirannya masih belum bisa mencerna kejadian barusan. Beruntung ia masih bisa fokus mengemudikan mobilnya. Tadi ia tiba-tiba dihubungi Mama Kania yang memintanya ke rumah. Begitu sampai di rumah Kania, wajahnya berubah bingung melihat Kania dan kedua orang tuanya berada di teras rumah. Kania membawa satu tas besar dan satu buah koper berukuran sedang.
“Jess, mulai sekarang Kania sudah tidak tinggal di rumah ini lagi sampai waktu yang tidak ditentukan,” ucap Mama Kania dengan ekspresi serius dan drama yang sudah Jessica kenal.
“Kamu tolong bantu dia cari tempat tinggal ya.”
“Oh iya, kamu jangan bantu dia. Kamu tidak boleh minta dia tinggal di rumah kamu. Dan kamu juga tidak boleh minta saudara kamu mengajak Kania kerja. Kalau sampai Mama tahu, Mama marah dan kecewa banget sama kamu,” perintah Mama Kania dengan nada serius membuat Jesscia mengangguk.
***
“Gue bingung deh Ni,” ucap Jessica memecah keheningan.
“Gue tahu kalau orang tua lo emang aneh dan beda. Tapi kelakuan yang ini udah enggak normal Ni. Masa iya anak enggak salah apa-apa diusir,” Jessica terus menggerutu, ia juga terbawa jengkel seperti yang sedari tadi dirasakan Kania.
“Ya makannya. Sampai sekarang ini gue masih mikir maksudnya apa. Mana gue cuma dikasih satu juta per bulan. Itumah cuma buat ongkos ngekos doang,” gerutu Kania menimpali gerutunya Jessica.
“Tapi pasti ada tujuannya sih Jess. Dari dulu yang mereka lakukan ke gue emang buat kebaikan gue,” lanjut Kania. Kania terbayang perlakuan orang tuanya dari dulu. Meski mereka tergolong keluarga yang dapat dikatakan kaya, kedua orang tuanya jarang memanjakan Kania. Kebutuhan Kania memang selalu terpenuhi, setiap Kania meminta uang untuk keperluan yang dapat menunjang pembelajaran atau kegiatannya pasti akan langsung diberikan. Tapi kedua orang tuanya tidak pernah memberikan kebutuhan sekunder, apalagi tersier kepada dirinya. Buktinya selama kuliah ia tidak diberi kendaraan, padahal ada satu mobil dan motor yang tergeletak di garasinya. Kuncinya dikuasai oleh papanya. Dan papanya akan mengizinkan Kania menggunakan kendaraan, jika Kania sudah memberi maksud dengan jelas – itupun hanya sesekali.
Bukannya ia mengeluh, malah sebenarnya ia cukup berterima kasih dengan hal tersebut. Karena didorong untuk naik transportasi umum, ia jadi mengenal banyak sifat dan karakter orang dan jadi mudah untuk berkomunikasi dengan mereka. Lagipula, jika ia sedang malas naik transportasi umum, ia tinggal meminta Dino menjemput atau mengantar dirinya.
“Ya tapi tetap aja Ni, gue masih enggak ngerti. Inget enggak, pas kita merayakan sidang orang tua lo mohon-mohon minta Saras kerja sama mereka. Sama orang lain aja segitunya, masa sama anak sendiri malah kejam,” dengus Jessica yang sudah sedikit tenang.
Kania tersentak mendengar kata Saras. Wajah Saras berkilauan di bayangannya, menjelma malaikat yang dapat menolong dirinya. Sedari tadi sebenarnya ia bingung ingin tinggal di mana. Setahu dirinya, Saras belum berangkat ke Yogyakarta dan setahu dirinya juga masa kosnya belum berakhir.
Wajah Kania berubah ceria, dengan segera ia menghubungi Saras.
Panggilannya tersambung. Suara ketus Saras terasa bagai nyanyian di telinga Kania. Kania mulai menceritakan dirinya yang diusir dari rumah ke Saras. Dengan nada yang dibuat memelas agar Saras luluh, Kania meminta bantuannya. Masih dengan suara ketus yang sama, Saras mengiyakan permintaan Kania dan ia meminta Kania dan Jessica menunggu di kamar kosnya.