
Jessica dan Saras tiba di kamar kos Saras. Jessica langsung menghempaskan tubuhnya di kasur Saras. Melihat Jessica terlentang dengan sembarang, Saras menggelengkan kepala.
“Cah ayu, cah ayu, tidurnya kok begitu, ndak pantes,” ucap Saras menyindir posisi tidur Jessica.
Mendegar sindiran Saras, Jessica malah menjadi. Posisi tidurnya ia rubah menyamping sambil memperlihatkan paha dan tatapan sensual layaknya model majalah dewasa. Saras langsung mengambil bantal dan melemparanya Jessica, gemas dengan kelakuan sahabatnya itu. Yang dilempari bantal hanya tertawa puas sudah mengerjai Saras.
“Gimana skrispi Lo Sar, tadi sudah disetujui?” tanya Jessica.
“Sudah dong,” jawab Saras senang. “Tadi saya juga dapat bocoran kira-kira sidang sekitar dua minggu habis ujian akhir,” Saras terdiam sejenak, seperti ada yang terlupakan olehnya.
“Oh iya, Saya lupa kasih tahu Kania dia tadi dicari sama Pak Bambang, dosen pembimbingnya,” Saras segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas, lalu mulai mengetik sesuatu di sana.
Ruangan terasa sepi. Jessica henyak menatap Saras yang tengah sibuk berkomunikasi dengan Kania. Rasa sedih akan kehilangan dua sahabatnya merayapi sekujur tubuhnya.
“Sebentar lagi Lo sama Kania udah gak ada ya. Gua ditinggal sendiri deh,” ucap Jessicah memecah sepi. Suaranya begitu lirih.
Saras seketika menghentikan jemarinya, ia menghampiri Jessica dan langsung memeluknya. “Sayangg, jangan sedih ya,” peluk Saras dengan erat. Tangis Jessica pecah ketika Saras memeluknya.
“Gue sendirian,” Jessica berbicara dengan tersedu sehingga tidak jelas kata yang keluar dari mulutnya. Tangis Saras ikut pecah, terbawa kesedihan Jessica.
Kedua sahabatnya itu saling berpelukan dalam linangan air mata. Meskipun ia pasti datang, perpisahan memang selalu terasa menyakitkan.
***
“Ndak Jess, saya mau mengabdi di kampung saja. Rasanya di sana saya lebih bermanfaat. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ndak jadi manfaat kan,” ucap Saras dengan nada yang sangat serius. Tangisnya juga sudah berhenti.
“Lagi kamu tenang Jess. Sekarang kan jaman Whastapp, Instagram, Twitter, Tik-Tok, kita masih bisa komunikasian. Dan Kania juga masih ada Jess, saya yakin mau dia sudah luluspun dia ndak akan lupa sama kita kok,” sambung Saras menghibur Jessica.
"Kalau buat Tik-Tok pakaiannya jangan terbuka ya Sar. Nanti gue sama Kania malu," tanggap Jessica masih dengan nada yang sedih.
"Bodo amat," jawab Saras ketus.
“Kamu kan juga dekat sama dia. Jalan ke kafe berdua, saya ditinggal di kosan sendiri,” gerutu Saras yang jengkel melihat beberapa kali postingan Kania dan Jessica berdua di kafe Agape.
“Lo udik banget sih Sar, gue sama Kania jadi malu kalau mau ngajak ke mana-mana,” Jessica menunduk seolah-seolah menyesal.
Saras mendekapkan wajah Jessica pada bantal. Ia heran ada orang yang bisa menyesal namun masih bisa mengejek.
“Tapi gimana hubungan dia sama Dino Jess?” tanya Saras. Jessica terkejut mendengar pertanyaan Saras. Bayangan Arman terbesit dalam benaknya.
“Heeh baik Sar,” jawab Jessica ragu.
Mata Saras mendelik, merasa ada sesuatu yang tidak benar. “Kamu gak ada yang disembunyikan kan?” tanya Saras penuh selidik.
Jessica diam sejenak. Pikirannya tengah menimbang menceritakan kesalahannya atau tidak. Sampai akhirnya ia memutuskan bercerita. Raut wajah Saras gusar mendengar cerita Jessica.