Question

Question
Kabar Buruk (2)



Angin dingin berhembus menepa kulit Dino dan Arinta. Hembusannya begitu lirih dan menyiratkan duka. Bulu tengkuk Dino bergidik, dahinya mulai berkeringat. Ucapan Arinta seketika memberi hujaman kepada dadanya. Hatinya berbisik bahwa ini bukan sekedar omong kosong belaka. Sedari kemarin firasatnya mengatakan ada kabar buruk tentang Pak Abdul, yang selalu ia coba enyahkan namun tetap firasat tersebut tidak mau lenyap juga.


“Apaansih lo Rin,” umpat Dino namun umpatannya tidak meyiratkan seseorang yang tidak percaya.


“Di, dari dulu gue enggak pernah percaya yang kayak gini-gini ya. Tapi belakangan ini, gua emang merasakan tanda-tanda buruk dari Pak Abdul,” ucap Arinta cepat, nada suaranya seolah ketakutan.


“Kemarinan gue sempet ngobrol berdua sama dia. Ngomongin lo juga,” Arinta mengentikan ucapannya, mencoba mengingat sejenak. “Dia ngomong kalau lo dan gue masih punya banyak pilihan untuk meninggalkan dunia volunteer, beda dengan dia. Gue kan suka jengkel ya kalau dia sudah ngomong pesimis gitu. Gue tegur kan tuh dan gue tanya alasannya kenapa dia enggak punya pilihan lain.”


“Dia bilang, benar kata Mas Yon, manusia itu unik. Manusia itu bukan hanya tulang dan daging, tetapi juga roh. Dan roh yang menghubungkan kita dengan segala sesuatu yang bersifat spritual.


“Dia bilang ada suara yang memberitahu dirinya jika waktunya sudah semakin dekat,” mata Arinta berkaca. Arinta bercerita dengan begitu emosional.


“Sehabis omongan itu, gue lebih meningkatkan memeriksa dia. Kondisi tubuhnya masih seperti kemarin, namun entah mengapa gue merasa dia lebih pucat dan terang, seolah bukan dia. Omongan dia jadi terus mengganjal pikiran gue.”


“Gue terus singkirkan tapi enggak bisa. Lalu, Mas Yon menghubungi gue. Dia ingin berkomunikasi dengan Pak Abdul. Gue dengar Pak Abdul ngomong, saya ingin tidur di sini. Badan gue entah kenapa langsung lemas pas dengar kayak gitu.”


Arinta berhenti sejenak. Ia menghirup coklat panasnya. Tangannya terlihat gemetar ketika memegang cangkir.


“Gue benar-benar yakin ketika Kepala Suku yang waktu itu kita kunjungi datang ke perkemahan. Ia langsung menemui Pak Abdul dan menciumnya pipinya. Wajah Kepala Suku itu berlinangan air mata. Kebetulan gue lagi ada di samping Pak Abdul, jadi gue bisa dengar ucapannya.


“Dia mengatakan, alam di sini sangat berterima kasih kepada Bapak. Jika sudah waktunya, saya harap Bapak ingin di sini. Suatu kehormatan bisa menyambut orang semulia Bapak.”


“Gue enggak ngerti kan maksud ucapannya. Tapi Pak Abdul seolah paham, ia mengangguk-angguk, terus bilang, saya memang sudah berniat ingin di sini, namun saya ragu diizinkan atau tidak. Mendengar Bapak menyambut saya bukan main senang hati saya.”


“Lalu mereka berpelukan kembali cukup lama. Mulut Kepala Suku bergumam pelan, entah merapal apa. Tau enggak Di, gue keringat dingin ketika dengar ucapan mereka. Gue enggak tau kenapa tapi gua rasanya takut banget.”


“Sehabis Kepala Suku pergi gue tanya ke Pak Abdul maksud ucapannya tadi. Dia bilang, Rin semua manusia memiliki waktunya masing-masing. Saya beruntung bisa memilih di mana waktu saya berakhir.”


“Gue reflek meluk dia terus nangis. Gue takut banget No kehilangan dia,” tangis Arinta pecah malam itu. Dino memeluk Arinta erat, mencoba menenangkannya.


Hati Dino sedari bergetar lirih. Ia merasakan kekosongan, seolah ada sesuatu yang lepas dari tubuhnya.