
Bandara Sukarno-Hatta riuh mendadak riuh dengan teriakan volunteer. Mereka rindu kota ini dengan segala debu polusi dan padatnya lalu lintas. Mereka ingin segera pulang dan menceritakan pengalamannya kepada keluarga, teman, dan siapapun yang hendak mereka ceritakan.
Para volunteer baru dan panggilan bergantian menyalami Dino, Arinta, dan volunteer senior lainnya. Mereka berterima kasih dengan segala bimbingan mereka di sana. Mereka juga meminta untuk diajak kembali jika ada kegiatan seperti ini, bahkan ada beberapa dari mereka yang berniat menjadi anggota Basecamp.
Senyum Dino mengembang hangat kepada mereka. Dino mengucapkan banyak terima kasih ikut serta dalam kegiatan. Ia juga meminta maaf jika dirinya pernah menjengkelkan. Para volunteer baru dan panggilan serempaki menyoraki Dino dengan sebutan senior galak. Mendengar itu, wajah Dino memelas memohon maaf mereka yang disambut tawa oleh mereka. Mereka tidak benar-benar serius mengatakan demikian. Meski awalnya mereka menganggap Dino kejam terutama saat pelatihan, hari-hari selanjutnya Dino sangat baik dan perhatian. Bahkan, volunteer wanita yang pernah menangis karena kejamnya Dino, kini diam-diam naksir dengan dirinya.
Hampir satu jam mereka bersalaman, sembari menunggu jemputan masing-masing. Sekarang di bandara menyisakan Dino, Arinta, dan para volunteer senior yang menunggu jemputan dari Basecamp. Dino dan para volunteer senior akan membuat laporan dahulu baru, sedangkan Arinta berniat langsung pulang. Ia sangat merindukan ibu dan kedua adiknya.
“Lo benar Di langsung mau ke Basecamp?” tanya Arinta memastikan.
“Iya laporan dulu. Abis itu gue mau ambil libur sebentar,” jawab Dino.
“Mau ganti waktunya Kania ya,” goda Arinta sambil tersenyum getir.
Dino tertawa. “Enggak juga Rin, gue mau pulang. Udah lama enggak menengok rumah.”
“Loh gue kira lo sebatang kara. Makannya tinggal di Basecamp,” canda Arinta.
“Setengah benar,” jawab Dino ringan. “Rumah gue panti asuhan Rin.”
Arinta tersentak. Ia merasa tidak enak.
“Maaf Di.”
“Ya enggak apa-apa Rin. Enggak masalah juga.”
Arinta sebenarnya jadi penasaran dengan latar belakang Dino. Ia ingin bertanya lebih lanjut. Namun sebaiknya nanti saja. Tunggu waktu yang pas. Lagipula, jemputan mereka sudah tiba.
Mereka menghampiri mobil jemputan. Sedetik kemudian mereka beranjak dari bandara.
Sepanjang jalan, Dino menatap layar ponselnya. Ia tengah menimbang untuk mengabari Kania atau tidak. Lama ia termenung, membuat tidak sadar tengah ditatap oleh Arinta yang urung mengajak bicara dirinya. Sampai di Basecamp Dino baru memutuskan ia tidak usah mengabari Kania. Nanti sehabis dari panti saja ia ke rumah Kania dan mengejutkannya.
***
Kania terbangun karena gerah yang menderanya. Keringatnya mengucur deras di sekujur tubuhnya. Ia menyalakan kipas kecil untuk menyejukkan tubuhnya. Baru beberapa hari ia tidur di kamar kos ini, ia sudah sangat merindukan rumah lengkap dengan ranjang kesayangannya. Kemarin sempat ia mengirim pesan kepada mamanya ia tidak tahan dan meminta pulang. Kania geram bukan kepalang melihat mamanya hanya membalas emoji menjulurkan lidah seakan mengejek dirinya.
Kania membuka ponselnya. Ada beberapa pesan dari Jessica, Saras, Arman, dan pesan lainnya. Tidak ada pesan dari Dino. Kania merasa ada sesuatu yang janggal. Segera ia mengetik pesan untuk Dino, namun sedetik kemudian semua kata yang sudah ia rangkai kembali ia hapus. Biar nanti saja Dino yang mengiriminya pesan terlebih dahulu.
Benar kata Saras, Dinolah yang harus menghapus keraguannya.