Question

Question
Hari Bersama Dino



Dino dan Kania tiba di kantor sekretariat Komunitas Sosial yang sering disebut sebagai Basecamp tempat Dino bekerja. Dino membuka gerbang, tampak sebuah bangunan model rumah dua lantai yang cukup luas. Bangunan ini merupakan pusat segala administratif, ruang rapat, aula kegiatan, gudang dan masih banyak lagi, di lantai duanya digunakan sebagai mess untuk volunteer tetap atau panggilan. Di samping bangunan utama, berdiri bangunan dengan model dan tinggi yang sama namun luasnya cukup kecil. Bangunan itu digunakan sebagai ruang berkumpul, penyuluhan, atau acara-acara rutin seperti yang hendak mereka akan datangi.


Dino dan Kania memasuki aula utama bangunan itu. Bau purba kayu yang tertambat di dinding dan lantainya sangat dirindukan oleh Kania. Kedatangan mereka disambut oleh sekumpulan anak-anak yang langsung mengelilingi mereka. Mereka adalah anak-anak yang ada di perkampungan sekitar Basecamp. Anak-anak itu berasal dari lingkungan dengan ekonomi bawah, yatim-piatu, bahkan ada juga yang ditelantarkan. Basecamp menanggung kebutuhan mereka, dari mulai kebutuhan harian sampai pendidikan. Basecamp juga menyediakan tempat bernaung bagi anak-anak yang ditelantarkan keluarganya. Salah satu pekerjaan Dino adalah mengurus segala hal yang berkaitan dengan mereka, dari mulai kebutuhan harian, pendidikan, sampai kegiatan edukasi nonformal yang rutin diadakan setiap akhir pekannya. Pekerjaan ini membuat Dino sangat dekat dengan mereka. Dan mereka juga sangat akrab dengan Kania yang sering menemani Dino jika ia tidak sibuk dengan urusan kampus.


“Kak Kania ke mana aja, aku kangen sama Kak Kania,” ucap seorang gadis yang rambutnya dikuncir dua. Senyumnya mengembang, memperlihat gigi depannya yang tanggal.


“Kak Kania makin cantik deh,” ucap seorang anak laki-laki sambil malu-malu.


“Bagus deh Kak Kania kesini, dari kemarin Kak Dino deket sama cewek lain tuh,” goda seorang anak laki-laki yang memang dikenal nakal di kalangan mereka. Mendengar ucapan tersebut, wajah Kania memerah. Dahinya berkerut dengan pipi yang mengembung. Reflek ia mencubit kencang lengan Dino.


“Bohong Ni,” bela Dino sambil menahan cubitan Kania yang memang menyakitkan. Anak-anak itu tertawa melihat kehangatan mereka.


Volunteer baru seperti wanita itu selalu diminta mengurus kegiatan rutin anak-anak, sebagai bekal awal mereka bekerja dalam bidang relawan. Mereka harus merencakan konsep yang menarik dan edukatif yang dapat bermanfaat untuk anak-anak tersebut. Sesekali Dino mengajak mereka mengunjungi rumah anak-anak, agar mereka dapat lebih memahami anak-anak dan lebih menumbuhkan empati dalam diri mereka.


Seperti sekarang, mereka sedang belajar membuat kalung dan gelang dari manik-manik yang rencananya akan mereka jual pada saat car free day minggu depan, sambil mengajak anak-anak tersebut berolahraga pagi. Tentu bukan anak-anak itu yang nanti akan berjualan dan tentu uang hasil penjualan sepenuhnya milik anak-anak.


Wajah Kania tampak sangat serius, antusias merangkai gelang dengan bagus. Kania tidak tampak layaknya seorang wanita volunteer, ia justru seperti anak-anak yang ada di sana. Anak kecil yang berukuran besar. Seorang anak ada yang membantu Kania merangkai gelang.


Dino menatap wajah Kania yang sedang serius.


Semoga Kania mau menerima keputusanku, hatinya bergumam.