Question

Question
Curhat



Serius, Yoga junior kita?” tanya Kania dengan suara yang keras. Kania tidak percaya dengan yang ia dengar.


“Ya siapa lagi Ni,” Saras membalas.


“Yang culun itu?” tanya kembali Kania. Ia mencoba meyakinkan dirinya.


“Jahat ya lo,” Jessica mencubit lengan Kania sambil tersenyum malu.


“Udah ah, gue cabut dulu,” pamit Jessica lalu segera beranjak keluar.


“Jangan lupa nanti malam anterin gue lagi, besok gua berangkat soalnya,” sergah Saras mengingatkan.


“Siap bos.”


Begitu Jessica pergi, Kania menghadapkan tubuh Saras ke depannya. Wajah Kania tampak sangat serius.


“Itu beneran Jessica sama Yoga, kok bisa?” cecar Kania.


“Ya bisa lah Ni. Wong Yoga itu sepertinya sudah lama suka sama Jessica. Tugas-tugas Jessica saja dibantu sama dia. Mungkin baru belakangan ini Jessica sadar dan rasanya itu anak juga tertarik sama Yoga. Saya sering kok melihat mereka ngobrol berdua di taman kampus,” jelas Saras.


“Masa sih, kok gue enggak tau,” keluh Kania. Bibirnya cemberut. Ia jengkel, merasa kedua sahabatnya ini tidak terbuka.


“Deh dia ngambek. Sampeyannya dari kemarin ke mana aja. Sibuk banget sama cowok, udah dikasih satu masih tambah juga. Saya saja dari pertama masuk enggak ada-ada Ni,” sindir Saras sama jengkelnya seperti Kania.


“Apasih Sar. Lonya aja yang gila belajar. Muka lo jadi kaku sama serius banget. Coba pasang manja sedikit, perlihatkan aura sensual lo. Kasian noh si Ilham lo gantungin terus,” komentar Kania dengan ketus.


“Semprul,” Saras memukul dahi Kania, gemas dengan kelakuan sahabatnya ini.


“Dibilanginnya,” ucap Kania sambil mengaduh sambil mengusap dahinya.


Kania menghela napas. Ia membuang pandangnya ke samping. Menatap sela-sela ruangan dengan tatapan kosong.


“Enggak tau Sar,” jawabnya parau. Wajah Saras berubah lembut melihat Kania seperti ini. Ia yakin Kania sedang dalam masalah.


“Sar gue boleh cerita,” Saras mengangguk nenyilakan Kania memulai cerita.


Kania menceritakan segala rasa yang ada mengganjal hatinya belakangan ini. Ia mulai merasa hubungannya terasa datar. Rasanya semakin lama semakin sulit untuk dipertahankan. Ia tidak tahu apakah ke depannya ia akan terus bersama Dino atau tidak. Sedangkan hatinya belum siap berpisah dengan Dino. Beberapa kali ia coba tampik perasaan ini – ia coba berpikir mungkin karena rasa kecewanya yang terlalu egois selalu minta dituruti. Nanti juga hilang, pikirnya. Tapi bukannya hilang, perasaan ini justru semakin menderanya.


Kania bersandar di paha Saras dan memeluknya erat. Saras diam tidak menanggapinya, ia henyak mendengar keluh kesah Kania. Tatapannya sangat perhatian seperti layaknya seorang ibu. Sesekali tangannya menyisir rambut Kania perlahan. Membasuh resah Kania dengan ketenangan.


“Gue harus gimana Sar?” ucap Kania pilu.


Detik terasa melambat. Hening merayap di udara. Saras masih diam sambil mengusap pelan kepala Kania. Memberi waktu Kania menghabiskan helaan napas keluhnya agar lebih lega.


“Ni,” ucap Saras setelah merasa Kania sudah lebih tenang.


“Saya kan tidak pernah pacaran ya. Jadi saya tidak tahu bagaimana cara menjalani hubungan. Terlebih di situasimu sekarang. Tapi bukan berarti saya tidak tahu hangatnya detak hati ketika bersama orang yang kita cinta."


“Saya rasa detak hati ini sangat penting dalam berhubungan.”


“Sebaiknya kamu jangan ambil keputusan dulu Ni. Kamu tunggu Dino. Kalau nanti ketika kamu menatapnya hati kamu masih berdetak. Dan saya rasa itu sudah menjadi alasan yang sangat kuat Ni untuk mempertahankan hubungan."


“Dan saya rasa juga. Ini memang tugas Dino untuk menghapus keraguanmu Ni,” tutup Saras. Mata Kania tampak berkilau. Ia menambat setiap kata yang keluar dari bibir Saras.


Inilah jawabannya.