
Pak Abdul berhenti sejenak, ia mengatur napasnya kembali yang mulai tersengal.
“Jalan kehidupan ini sangat banyak pilihan. Dan dunia yang kita hendak jalani sangat beragam. Namun ada satu hal yang pantas untuk kita perjuangkan di setiap jalan dan dunia itu. Cinta. Rasa cinta yang menghantarkan kita pada perbuatan baik merupakan dasar dari setiap jalan dan dunia.
Rasa cinta dan perbuatan baik yang membuat Tuhan tergerak untuk menyapa kita dan memperlihatkan jalan menuju kepadaNya.”
“Jadi saya harap kalian bisa sadar akan panggilan dan peran kalian masing-masing. Kalian mengenal diri dan proporsinya. Sehingga kalian dapat menentukan pilihan yang tepat. Ambil contoh saya, saya adalah orang yang tidak sadar akan pilihan yang saya buat. Dan betapa menderitanya saya karena hal tersebut. Saya mungkin beruntung, di tengah ketidaksadaran ini ternyata saya berada di jalan yang tepat,” Pak Abdul kembali berhenti berbicara. Napasnya terputus. Air muka tegang tampak dari semua pasang mata yang menatapnya.
“Dan hiduplah, temukan kemanusiaan dan rasa cintamu,” ucapnya terakhir.
Bulatan cahaya itu tepat berada di atas dada Pak Abdul. Pak Abdul tersenyum seolah menyambutnya. Kepala Suku duduk di sisinya. Ia mencium tangan Pak Abdul yang terkulai lemah dengan lama. Menunjukkan rasa hormat kepadanya.
“Selamat jalan Bapak,” ucap Kepala Suku sambil meletakan kembali tangan Pak Abdul dengan pelan dan hati-hati.
Air mata pecah mengaliri setiap pasang wajah yang ada di dalam tenda. Arinta pingsan setelah sebelumnya meratap dengan keras. Ratapan Arinta menggema sampai keluar tenda, ratapan terasa pilu untuk setiap hati yang merasakan. Mereka tahu, sosok yang mereka butuhkan untuk membimbing mereka, sosok yang semangat dan pengabdiannya pantas mereka contoh, saat ini telah meninggalkan mereka. Air mata berlinangan membahasahi wajah-wajah mereka. Mereka menangis dalam diam terpaku, rasa kehilangan yang mendera ini terasa sangat besar.
Senja ini, Pak Abdul meninggalkan dunia.
Kepala Suku keluar tenda. Ia menatap langit senja yang memudar terbalut awan-awan abu yang masih terus mengeluarkan rintiknya. Lalu ia menatap pepohonan yang bergoyang pelan ke bawah, seperti menunduk.
Alam pun juga kehilangan, batinnya takzim.
***
Kepala Suku memanggil orang-orang yang membawa keranda untuk mendekati tenda. Tadi Kepala Suku sudah berbicara dengan dua orang volunteer senior, ia memohon agar jenazah Pak Abdul bermalam dahulu di desa, dan akan dimakamkan esok paginya, karena tidak etis memakamkan jenazah malam hari, ditambah cuaca juga kurang merestui. Kedua volunteer senior itu meyetujui usul Kepala Suku, mereka juga ingin mengirimkan doa terakhir untuk Pak Abdul sebelum dimakamkan.
Dengan diiringi rintik yang membasuh tubuh, mereka berjalan beriringan menuju desa. Langkah kaki mereka terasa berat. Mereka masih berat melepas kepergian Pak Abdul. Hanya derap kaki orang-orang desa dan Kepala Suku yang terdengar. Sambil membawa keranda yang tampaknya cukup berat mereka berjalan dengan mantap.
Sekitar beberapa meter dari perkemahan, Kepala Suku berhenti. Ia menghampiri iringan volunteer di belakangnya.
“Melepas seorang yang hebat bukan dengan tangisan. Melepas seorang yang hebat harus dengan kebanggan. Jadi kuatlah, teman-teman. Jangan kau luapkan tangismu yang bisa memberatkan Pak Abdul,” ucap Kepala Suku pelan, tetapi terkesan tegas. Mendengar ucapan tersebut, para volunteer terpantik semangatnya.
Mereka memantapkan hati, lalu berjalan dengan tegar.