Question

Question
Maaf Dino, Kania Egois



Malam semakin larut. Sehabis merapihkan peralatan, Jessica dan Saras mohon pamit pulang. Mereka mencium tangan kedua orang tua Kania penuh hormat, lalu beranjak keluar diantar oleh Kania dan Dino sampai halaman depan rumah. Sehabis mereka pergi, Kania dan Dino kembali ke teras. Raut wajah Kania berubah menjadi serius.


“Duduk!” perintah Kania dengan ketus. Dino mengangguk, lalu segera duduk di lantai.


“Kok duduknya di lantai,” gerutu Kania melihat tingkah Dino.


“Biar kalau kamu meluk sampai jatuh, aku gak terlalu sakit,” ledek Dino sambil tersenyum.


Wajah Kania memerah, candaan Dino melunakan amarahnya, namun ia tetap harus bersikap marah. Malu jika ketahuan mudah sekali luluh.


“Cih, Kania enggak sudi meluk Dino” balas Kania dengan ketus.


Raut wajah Dino berubah menjadi serius. Matanya diarahkan ke halaman depan, namun tatapannya terasa sangat jauh. Kania tahu, sikap Dino yang seperti ini menandakan ia akan berbicara serius.


“Tadi sore aku sudah kasih tahu kamu kan ada yang mau aku omongin,” Kania mengangguk, ia ingat memang tadi Dino meminta waktunya. Berarti Dino memang tidak bermaksud merahasiakan sesuatu darinya. Seketika amarah Kania sirna.


“Kamu tahu kan Pak Abdul. Tahu bagaimana kedekatan aku dengannya. Selain Bunda, Mama, dan Om, Pak Abdul sudah aku anggap sebagai orang tua aku sendiri. Dari tiga minggu kemarin aku dapat kabar kalau Pak Abdul drop. Dan terakhir aku dengar kondisi kesehatannya semakin buruk. Namun ia masih memaksa untuk bekerja. Aku khawatir Ni. Aku takut sekali ia sakit parah. Aku memutuskan untuk kembali ke Kalimantan lusa nanti. Aku ingin membujuk kalau harus memaksa Pak Abdul untuk kembali ke Jakarta, ia harus beristirahat. Kalau ia bersikukuh masih mau di sana, setidaknya aku bisa menggantikan pekerjaannya. Jadi ia bisa total beristirahat,” ucap Dino begitu emosional.


“Dino enggak lama kan ke Kalimantannya?” tanya Kania penuh cemas. Berharap Dino menjawab iya.


Dino menghela napas. Raut wajahnya terasa sangat lelah.


“Maaf Ni. Aku akan lama berada di sana. Kembali atau tidaknya Pak Abdul, aku harus menggantikan pekerjaannya, minimal sampai Mas Yon kembali dari Sumatera. Dan aku tidak bisa memprediksi kapan Mas Yon akan kembali,” jawab Dino lemah.


Jangkrik terdengar berderik, suaranya seakan menjadi musik yang menambah luapan lelah kedua kekasih ini.


“Dino,” ucap Kania lembut. Air mata berlinang membasahi wajahnya. “Dino, Kania mohon Dino bisa datang ya ketika Kania wisuda, tapi kalau memang tidak bisa, hmm, hmm,” tangis Kania memecah malam. Ia terkulai di bahu Dino.


“Maaf Dino, Kania egois. Kania mau bilang gapapa, tapi Kania ingin sekali Dino hadir di wisuda Kania,” sambung Kania masih dengan menangis.


Dino memeluk tubuh Kania. Ia mencium kepala Kania dengan dalam. “Iya Kania akan aku usahakan,” ucapnya serak dan parau.


Bukan jawaban yang memuaskan, Dino sangat takut untuk berjanji. Lebih tepatnya takut tidak bisa menepati janjinya.