
Keringat bercucuran membasahi wajah Kania, menjadikan wajahnya terlihat berkilau. Kania menguncir rambutnya dengan model ponytail agar angin dapat menghembus lehernya. Anak-anak sudah bersiap pulang dan para volunteer baru tengah sibuk merapikan ruangan yang selalu akan berantakan jika disinggahi anak-anak. Kania dan Dino ikut membantu para volunteer baru merapikan ruang. Tawa mereka menyegarkan suasana, cukup aneh mereka bisa tertawa begitu puasnya padahal wajah mereka tampak lelah.
“Capek,” ratap Kania sambil meregangkan kakinya. “Tapi seneng, kangen banget Kania sama anak-anak.”
Dino mengambil sebuah botol mineral yang memang sudah dia siapkan untuk Kania. Kania meneguknya dengan tergesa sampai nyaris habis.
“Iya memang, ini mengapa aku mencintai pekerjaan ini Ni. Di mana lagi kau bisa merasakan kesenangan setelah habis bekerja,” ucap Dino. Ucapanya terasa sangat dalam dan serius.
“Tapi aku merasa belum cukup Ni.”
“Aku yang sekarang masih belum cukup berbuat lebih. Suatu saat mereka akan bertambah besar dan pasti kebutuhan hidupnya juga semakin bertambah. Tidak ada yang menjamin Basecamp bisa terus menanggung kebutuhan hidup mereka. Aku harus berubah. Kehidupanku harus meningkat, jika aku tidak ingin mereka atau semua hal yang aku cintai,” ucapan Dino terasa begitu emosional. Kania menyimak Dino dengam penuh perhatian.
“Termasuk untukmu,” Kania tersentak mendengar dirinya disebut.
“Aku?” tanya Kania menegaskan. Dino mengangguk pelan.
“Tidak Ni, Mama gak salah. Ucapan Mama itu benar. Memang sudah waktunya aku merencakanan hubungan kita. Selama ini aku larut dan beranggapan kita akan selamanya bisa seperti ini. Khayalku sangat kekanakan Ni, tidak ada yang bisa menjamin kita bisa terus bersama.”
“Tapi kau tahu, aku tidak bisa meninggalkan duniaku ini. Dunia ini sudah menyatu dalam napasku. Maafkan aku belum bisa membahagiakanmu dalam waktu dekat ini. Maafkan aku juga jika rumah impian kita nanti mungkin sulit terwujud. Aku akan berusaha lebih dari diriku yang sekarang, namun aku minta jangan tunggu aku. Jika kau mendapat pria yang baik yang jauh bisa memperlakukanmu dengan baik, jangan ragu untuk pergi Ni, aku..,” ucapan Dino terpotong oleh ciuman Kania yang lembut menyentuh pipinya. Ciuman itu terasa lama, seakan detik berhenti dan membuang segala beban Dino yang membuncah di dadanya.
“Aku cinta kamu Di. Aku gak peduli bagaimana masa depan aku nanti asal aku bisa bersamamu aku pasti bahagia,” ucap Kania. Terdengar sangat tulus.
Dino merapatkan wajahnya mendekati wajah Kania. “Ni akan ada banyak kesedihan yang akan kau lalui nanti, kau akan mengalami sepinya sendiri seperti saat kau tidak mendapat kabar dariku,” bisik Dino dengan penuh kelemahan.
“Kalau begitu, kau harus lebih berusaha jangan sampai aku merasa seperti itu lagi,” ucap Kania dengan lugunya. Jawaban lugu Kania terasa benar. Dino seolah menemukan jawaban yang selama ini ia cari.
Kania kembali mencium bibir Dino, yang dibalas Dino dengan ciuman tak kalah hangatnya. Lidah mereka saling bertaut, menyampaikan kasih sayang dalam diam. Namun, ciuman mereka terpaksa harus berhenti karena anak-anak yang baru akan pulang ramai bersorak, memergoki mereka ketika berciuman. Rona merah memenuhi wajah Kania dan Dino.