
Satu per satu peserta sidang memasuki ruang sidang. Sampai peserta terakhir, tidak ada yang menangis seperti halnya Kania. Para dosen penguji hanya mengerjai Kania. Wajah Kania memerah menahan malu karena sudah menangis, ia pasti akan dikenal sebagai maskot angkatannya dan terus dibicarakan ketika mereka reuni.
Mereka semua tengah mengambil foto di taman kampus yang entah sejak kapan sudah menjadi destinasi wajib mahasiswa yang merayakan kelulusannya. Dino dan Jessica bergantian bertugas menjadi fotographer dadakan. Sesekali Jessica ikut mereka berfoto yang langsung diledek oleh teman-temannya karena ia belum lulus. Namun entah bagaimana bisa terjadi, bulying yang Jessica terima seketika lenyap. Mereka menyambut Jessica dengan hangat bahkan terkesan akrab.
Mereka semua terus berfoto sampai satu per satu pergi dan menyisakan Kania, Jessica, Saras, dan tentu Dino.
Ketiga sahabat tersebut masih sibuk berfoto. Mereka ingin membuat kenangan sebanyak-banyaknya sebelum mereka berpisah. Sampai akhirnya Kania meminta foto berdua dengan Dino. Kamera beralih ke Jessica. Saras mendekorasi posisi bunga sedemikian rupa. Kania mendekap di samping Dino Kedua tanganya dikalungkan pada lengan Dino yang sedikit ia angkat. Sekilas mereka seperti tengah melakukan foto pra wedding.
“Nanti aku mau foto seperti ini lagi ketika wisuda. Dan terakhir ketika nikah,” ucap Kania penuh harapan.
“Iya,” Dino mengangguk pelan. “Kania, sehabis ini ada yang mau aku bicarakan ya,” sambung Dino dengan nada yang serius. Kania mengangguk, pikirannya menyelidik apa yang hendak dibicarakan Dino.
“Oh iya Jess, Arman benar gak datang?” tanya Kania ke Jessica. Jessica terkejut mendengar pertanyaan polos Kania. Ia melirik ke Dino yang menatapnya penuh tanya.
“I-iya Ni, Arman tidak bisa datang. Ada dinas ke luar kota,” jawab Jessica terbata.
“Hmm, dia enggak mengabari. Katanya dia mau datang,” keluh Kania. Wajah Dino makin penuh tanya, penasaran dengan seseorang yang disebut Arman.
“Arman siapa sih?” tanya Dino yang sudah tidak sabar sedari tadi penasaran.
Jessica dan Saras menarik napas panjang. Mereka menunggu bagaimana Kania menjelaskan Arman ke Dino. Otak mereka berputar bersiap membantu Kania.
“Oh iya, Kania belum cerita ya ke Dino. Waktu itu aku kenalan sama saudaranya Jessica, namanya Arman. Dia itu ternyata pemilik kafe Agape yang pernah aku kasih tahu kamu. Orangnya dewasa dan perhatian, enak diajak sharing. Dino harus ketemu dia kapan-kapan,” Kania menjelaskan dengan antusias kepada Dino. Tidak memahami raut wajah Dino yang berubah tidak senang.
“Lalu?” tanya kembali Dino dengan ketus.
“Lalu apa?” Kania kembali bertanya, bingung dengan pertanyaan Dino.
Dino diam sejenak. Ia melihat Jessica dan Saras yang wajahnya seperti ketakutan. Ia menjadj tahu ada yang disembunyikan darinya. Dino yakin Kania tidak menyembunyikan apa-apa, namun ia juga yakin kedua sahabat Kania tengah merahasiakan sesuatu.
Ponsel Kania berdering, memecah ketegangan. Ada panggilan masuk dari Mamanya. Kania menepi sedikit, lalu menjawab telepon tersebut. Jessica dan Saras menjadi tegang, khawatir Dino mencecar mereka dengan pertanyaan.
“Dino, Mama minta kita pulang sekarang. Mama meyiapkan perayaan di rumah. Oh iya Jessica sama Saras ikut ya. Mama gue minta lo berdua datang,” Jessica dan Saras mengangguk serempak mendengar permintaan Kania. Mereka merasa diselamatkan dari situasi tegang tadi.