
Larisa melepas bibirnya. Lalu menatapku yang sedari tadi bingung harus bersikap apa.
“Sudah aku bilang, kamu itu terlalu polos,” tangannya menyentuh pipiku. Sekali lagi ia menangkap diriku. Aku sangat yakin Larisa tahu bahwa yang tadi adalah ciuman pertamaku. Aku sangat malu sudah tertangkap olehnya.
Larisa kemudian menuju balkon kamarnya. Ia mengambil sekotak rokok dari kantung celananya, lalu menyulutnya. Sambil menghembuskan asap yang tadi ia hisap, Larisa menawarkan kotak rokoknya. Aku mengambilnya, namun hanya aku genggam.
“Beginilah hidupku Man. Sedari kecil, aku sudah menyaksikan keburukan di sekelilingku. Keburukan yang tidak hanya aku saksikan dari lingkungan luar rumah. Di dalam rumahpun aku sudah melihatnya. Padahal seharusnya rumah adalah tempat terakhir di mana kita merasa aman. Merasa terlindungi,” ucap Larisa. Suaranya serak dan parau. Matanya terlihat berkaca, ia tengah berusaha menahan tangis yang sepertinya sudah sangat ingin pecah.
“Yang tadi menyapa adalah Papaku. Sudah dari dulu ia menjadi pengguna, bahkan sekarang sudah menjadi penjual narkoba yang tingkatnya cukup besar. Tidak pernah ada pendidikan atau perlindungan yang ia lakukan untukku sebagai layaknya seorang ayah. Yang ia bisa hanya memberikanku uang, uang yang berasal dari barang haram tersebut,” bahu Larisa bergetar ketika bercerita. Aku diam, tidak tahu harus berkata atau bersikap apa. Ingin rasanya tangan ini menggenggam kedua bahunya, lalu memeluknya sambil mengucapkan kata-kata yang dapat menenangkan. Namun, aku tidak bisa. Masalah hidupnya terlampau besar untuk aku rangkul. Aku belum pernah mengalami penderitaan sepertinya. Lantas bagaimana aku bisa menenangkan dirinya.
Larisa kembali menghisap rokoknya dalam, menahan asap itu sekuat yang ia mampu, lalu menghembuskan dengan perlahan. “Hidupku selama ini selalu berlari. Kemanapun langkah membawaku yang penting aku bisa terbebas dari rumah. Sampai akhirnya aku bertemu Radit, pacarku. Pria yang memiliki kehidupan yang sama gelapnya dengan hidupku. Pria yang persis seperti Papaku. Beruntungnya ia tidak pernah melakukan sesuatu yang kasar kepadaku,” rasa panas mendera tubuhku, begitu nama Radit – pacarnya disebut. Pantas Larisa bergidik ketika bersamanya. Harapan Larisa untuk bebas justru malah memerosokannya ke jurang baru yang sama gelapnya.
“Pernahkah kamu merasa nasib seolah tengah tertawa mempermainkan kita?”
ucapannya ini begitu lirih. Larisa benar-benar menunjukkan dirinya kepadaku. Dirinya yang kuat dan misterius yang selalu terlihat dari luar adalah palsu. Dirinya yang asli tengah di hadapanku. Dirinya yang lemah dan rapuh.
“Larisa, biarkan aku menjadi tempat pelarianmu yang baru. Aku akan membuat pelarianmu bahagja. Aku mencintaimu Sa,” ucapku dengan segala kesungguhan yang aku miliki.
Larisa diam, bahunya kembali bergetas. Air mata mulai mengalir keluar membasahi wajahnya.
Detik seakan berhenti, menyisakan kami dengan keheningan dan kesepian, namun terasa menenangkan.
“Aku memberitahu hidupku bukan agar kau mencintaiku, tetapi agar kau menjauhiku. Kau orang baik Man, kau layak mendapatkan wanita yang baik juga. Aku sudah memberikan tubuhku kepada Radit, sehingga aku tidak bisa pergi darinya,” ucapnya kepadaku. Ucapannya ini terasa sangat menyakitkan.
“Aku tidak peduli. Aku tetap mencintaimu,” ucapku dengan tegas, takut untuk kehilangan dirinya.
“Akan ada banyak duri jika kau mencintaiku.”