Question

Question
Mereka akan Selalu Hidup dalam Hati Kita



Arinta perlahan membuka matanya, ia menatap sekelilingnya – tenda kemahnya yang terasa sangat familiar. Wajahnya terlihat berantakan, dengan rambut pendeknya yang sudah tampak berantakan. Tubuhnya terasa sangat lemas. Hatinya terasa sangat kosong. Dengan langkah lemah, ia beranjak dari tenda.


Malam tampak menggelap pekat. Langit seakan tidak merestui rembulan dan bintang berpendar menyeramakan malam. Udara begitu senyap, suasana tenda begitu hening, tidak terasa ada kehidupan di perkemahan ini. Arinta menyapu pandangannya pada api unggun yang menyala dengan besar. Dino tengah duduk di sana. Tangannya dilipat bersisian, memeluk kedua kakinya. Pakaiannya tampak lembab, dengan beberapa bulir air masih terlihat hinggap di rambut ikalnya. Matanya terasa sangat lelah, terasa sangat sendu. Air air mukanya tampak suram. Melihat Dino seduka ini, mengingatkan Arinta kembali dengan rasa kehilangan yang menderanya.


“Dino,” sapa Arinta lemah. Kemudian ia duduk di samping Dino. Kedua tangannya dilipat bersisian, memeluk kedua kakinya persis seperti Dino. Dengan tatapan kosong ia menatap perapian di depannya.


Waktu berhenti berdetak. Memberi ruang untuk kedua orang ini sibuk dengan alam pikirannya. Mengenang kembali semua makna ketika bersama dengan Pak Abdul.


“Lo tahu Rin,” ucap Dino memecah sunyi. Pandangannta masih lurus ke perapian. Kepalanya turun, disandarkan pada kedua lututnya.


“Sedari bayi gue tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Mereka sudah menitipkan gue di Panti dan sampai detik ini mereka tidak pernah mencari keberadaan gue. Bertanya kabar saja rasanya tidak mungkin.”


“Tapi gue tidak merasa kehilangan atau iri. Bagi gue, mungkin mereka memang benar-benar tidak ada. Dan peran mereka sudah tergantikan oleh Bunda. Kasih sayang Bunda sangat membekas dan berarti dalam hidup gue. Ia sudah gue anggap sebagai orang tua sendiri. Menganggapnya sebagai ibu.”


“Dia sudah gue anggap sebagai bapak gue sendiri. Dan sekarang ia sudah pergi. Gue kembali kehilangan orang tuaku,” ratap Dino dengan tangis berlinangan di sekujur wajahnya. Arinta memeluk Dino, Dino pasrah menyandarkan diri dalam pelukan Arinta.


Mereka terdiam cukup lama. Arinta mengelus rambut ikal Dino secara perlahan. Ia tetap bergeming meski tahu pakaiannya sudah basah terkena tangis Dino. Arinta juga merasakan kehilangan Pak Abdul, banyak penyesalan ia karena selalu bersikap ketus kepadanya, padahal ia tahu kalau ucapan Pak Abdul merupakan bentuk kepedulian untuknya. Tetapi, ia tahu kalau rasa kehilangan yang diderita Dino lebih besar darinya. Arinta menyaksikan sendiri kedekatan mereka yang sudah seperti orang tua dan anak. Duka yang Dino luapkan ini persis seperti dirinya dahulu ketika ia kehilangan bapaknya.


“Dino,” ucap Arinta pelan setelah tangis Dino mulai mereda. Suara Arinta berbisik menenangkan Dino. “Gue mengerti apa yang lo rasakan. Gue pernah kehilangan sosok seorang bapak. Tetapi Dino, orang tua tidak benar-benar pergi dalam hidup kita,” Dino tersedu, namun ia menyimak ucapan Arinta.


“Segala pelajaran mereka, tuntunan mereka, dan kehidupan mereka adalah warisan yang sudah diberikan untuk kita. Kita simpan semua hal tersebut dalam lubuk hati kita dan hidupkan ia di sana. Gue percaya Dino, Pak Abdul akan terus menatap, menasihati, atau membimbing kita dari sana.”


“Yang berpisah adalah raganya, bukan cintanya.”