
"Haloo Dino,” sapa Jessica dengan nada ceria yang kesannya dipaksakan.
“Maaf ya baru diangkat ya, habis dari toilet gue. Ada apa ya Di?" ucap Jessica dengan cepat. Ia masih belum bisa melenyapkan rasa gugupnya.
“Halo Jess,” balas Dino, suara Dino terdengar sangat lelah di telinga Jessica.
Jessica diam sejenak, fokus mendengar ucapan Dino. Arman menunjuk ponselnya, mengisyaratkan meminta Jessica meloudspeaker panggilan Dino. Ia penasaran dengan pembicaraan ini. Namun, Jessica mengangkat tangannya, isyarat menolak permintaan Dino.
“Gue juga enggak bisa hubungi dia Di. Gue juga udah ke rumahnya tapi dia enggak mau ditemui.”
“Mama bilang sama gue kalau Kania perlu waktu sendiri,” ucap Dino.
“Iya Mama juga bilang begitu ke gua, si Kania lagi butuh sendiri,” balas Jessica sambil mempertahankan nada suaranya agar Dino tidak curiga kepadanya.
Jessica diam kembali, fokus menyimak ucapan Dino. Seketika wajahnya gelisah, Arman semakin penasaran mengapa wajah Jessica menjadi gelisah, namun percuma ia meminta Jessica meloudspeaker percakapan mereka. Ia harus menunggu. Sesuatu yang sangat menyebalkan.
“Hmm, gu-gue enggak tahu Di, Kania ada masalah apa,” pertanyaan Dino menyentak Jessica, reflek ia menjawabnya dengan terbata.
Sedetik kemudian Jessica kembali berbicara dengan nada santai. “Soalnya belakangan ini dia enggak cerita sama gue. Gue aja enggak tahu kalau lo ke Kalimantan lagi, biasanya kan dia yang kasih tahu gue sambil bete.”
“Eh iya Di. Lo bisa datang kan ke wisudanya Kania?” tanya Jessica basa-basi. Lucu juga jika ia tidak bertanya sama sekali. Bisa-bisa Dino malah curiga kepadanya.
Pertanyaan Jessica menyentak Dino. Dino diam sejenak, menimbang sesuatu dalam pikirannya. “Mungkin Jess,” jawabnya lemah.
“Hmm usahain ya Di, kasihan Kania kalau sampai lo enggak bisa datang,” balas Jessica klise. Ia hanya ingin mengakhiri topik ini. Sebenarnya ia ingin bertanya lebih lanjut, namun sekali lagi ia takut Dino curiga kepadanya. Ia merasa kasihan dengan dirinya sendiri yang entah mengapa ikut terseret dalam masalah hubungan mereka.
“Iya Jess, terima kasih ya infonya. Sudah dulu ya. Bye,” ucap Dino lalu menutup panggilannya.
Jessica menghembuskan napas, lega percakapannya dengan Dino berakhir.
“Si Dino ngapain Jess?” tanya Arman tergesa.
Jessica diam sejenak. Enggan sebenarnya ia untuk berbicara dengan Arman. Ia masih kesal dengan saudaranya ini. Namun, akhirnya ia mengalah. Mau bagaimanapun Arman adalah saudaranya. Dan juga ia dan Armanlah penyebab utama masalah yang dialami Kania. Mau tidak mau mereka harus mencari solusi bersama.
Arman henyak mendengar penjelasan Jessica. Dirinya semakin dihantui rasa bersalah. Tetapi entah mengapa ia tidak merasa menyesal telah mengungkapkan perasaannya. Benar, mencintai bukanlah dosa.
Tetapi Jessica benar, ia harus bertanggung jawab terhadap Kania.
“Jess, gue datang ke wisudanya Kania ya,” dahi Jessica berkerut ketika mendengar ucapan Arman. Amarahnya seketika kembali bergejolak. Arman mungkin perlu diberi tamparan agar tidak lagi bertindak semaunya.
Melihat gelagat Jessica yang seakan hendak memangsanya. Arman meneruskan ucapannya. “Gue enggak langsung temuin Kania Jess. Gue lihat dulu situasinya. Kalau seumpama Dino datang, gua enggak akan menghampiri Kania. Tetapi kalau Dini tidak datang, jangan halangi gue ya.”
“Gue ingin ada di sampingnya ketika dia jatuh.”