Question

Question
Malam sebelum Wisuda



Suara derik jangkrik menemani malam Kania yang tergolek lemah pada kursi dipan di halaman belakang. Sambil terlentang, matanya sibuk menatapi layar ponsel yang terlampau banyak panggilan masuk, ia menatapi satu persatu daftar orang yang meneleponnya. Dari sekian banyak panggilan, Dinolah yang paling banyak menelepon dirinya, setelah itu Jessica dan Arman. Ia termenung menatapi daftar panggilan ini. Rasa bersalah merayapi tubuhnya, ia merasa dirinya sangat kenakakan karena melarikan diri dari masalah dan pergulatan batin yang tengah ia alami, namun ia merasa tidak menyesal. Di tengah pengasingan diri ini, ia menemukan jawaban dari segala masalah dan pergulatan batin yang menderanya. Tinggal bagaimana menyiapkan dirinya untuk menghadapi masalah dan pergulatan batin tersebut.


Ia kemudian mengaktifkan kembali jaringan internet ponselnya, setelah hampir seminggu tidak ia aktifkan. Dering notifikasi pesan masuk terus berbunyi, tanda banyak sekali pesan yang masuk, Kania meletakan ponselnya sejenak menunggu dering ponselnya berhenti. Beberapa detik kemudian, dering ponselnya berakhir juga. Ia kembali mengambil ponselnya, lalu menatapi puluhan pesan yang masuk.


Kania membuka pesan dari Jessica. Pesan Jessica berisi kekhawatiran dan rasa bersalah kepada dirinya. Jessica memohon maaf karena secara tidak langsung menggiring dirinya ke dalam hubungan rumit dengan Arman. Jessica meratap dan memohon jangan membenci dan memutus ikatan dengannya. Ia juga menawarkan bantuan jika Kania berniat mengakhiri hubungannya dengan Arman. Kania tersenyum membaca pesan Jessica. Pesan tersebut tampak sangat tulus, benar-benar mencerminkan kebaikan hati Jessica yang sudah ia kenal lama. Ia membalas pesan tersebut. Balasannya berisi permohonan maaf karena sudah membuat khawatir dan pernyataan ia tidak marah, benci, apalagi berniat memutus hubungan dengannya.


Semenit setelah dikirim, ponsel Kania berdering tanda panggilan masuk. Kania melihat Jessica meneleponnya. Ia menjawab panggilan tersebut.


“Kania, maafin gue. Gue banyak salah sama lo. Jangan tinggalin gue,” ratap Jessica. Isak tangisnya terdengar pilu di telinga Kania. Mata Kania berkaca larut dalam isak tangis Jessica.


“Gue enggak marah Jessica, mana bisa sih gue marah sama lo,” balas Kania pelan, ia berusaha menjaga dirinya untuk tidak menangis.


“Jangan menghilang kayak gitu lagi, gue benar-benar takut kehilangan lo,” ratap kembali Jessica. Nada permohonannya ini terdengar sangat tulus. Kania terharu. Masih memiliki orang-orang yang menghargai dan mementingkan dirinya. Air mata Kania mengalir deras, tidak bisa lagi ia bendung.


“Iya Jessica, lagian gue juga gak mau ditinggal sama lo. Bisa berkurang daftar orang yang besok ngasih bunga ke gue kalau lo enggak ada,” canda Kania diiringi suara isak tangis yang sebisa mungkin ia tahan.


“Ni, biar gue bantu ya menyelesaikan hubungan lo sama Arman,” pinta Jessica dengan memaksa. Isak tangisnya sudah berhenti.


“Enggak usah Jess, biar gue sendiri aja. Ini sehabis ngobrol sama lo gue juga mau menghubungi Arman,” tanggap Kania dengan tenang. Isak tangisnya juga telah berhenti.


“Lagian kenapa gue harus memutuskan hubungan?” lanjut Kania.


“What,” Jessica tersentak. “Berarti lo mau terima dia, terus Dino bagaimana Ni?” sergah Jessica lebih lanjut.


“Bukannya kayak gitu. Gue udah tahu harus bagaimana, tanpa perlu memutuskan hubungan gue sama Arman. Tapi nanti terserah dia sih tanggapannya bagaimana.”


Jessica berdeham, tidak dapat memprediksi niatan Kania. Ia terkejut melihat Kania bersikap dewasa.