Question

Question
Selamat Hidup Mandiri (3)



Kania, Jessica, dan Saras mulai menurunkan barang-barang Kania dari mobil Jessica. Mata Saras membelalak melihat Kania hanya membawa pakaian, kosmetik beserta peralatan mandi dan kecantikan, dan berkas-berkasnya saja. Saras mempertanyakan Kania benar-benar disuruh hidup mandiri atau diusir dari rumah. Untuk hidup sendiri, perlengkapan yang dibawa Kania ini terbilang ekstrim.


“Aduh Ni, saya tidak habis pikir ya sama hidup kamu, kok seru sekali ya,” gerutu Saras sambil membantu memilah pakaian Kania.


“Moso ada orang mau hidup mandiri cuma membawa yang beginian,” ucap Saras lebih lanjut sambil menghempaskan sebuah dress hitam selutut yang tadi ia lipat.


Kania hanya tersenyum nyengir diomeli oleh Saras. Memang, setelah melihat barang-barang Saras, ia merasa salah hanya membawa segelintir barang seperti ini. Pikirnya nanti ia bisa kembali ke rumah dan mengambil perlengkapan lainnya.


“Kan yang penting cantik Sar,” ucap Kania santai.


“Gemblung,” Saras memukul pelan dahi Kania. Jessica tertawa melihat kebiasaan Saras ketika memarahi mereka. Matanya berkaca. Momen seperti ini pasti nanti akan ia sangat rindukan.


“Sudah kamu pakai saja barang saya. Saya warisi ke kamu. Rencananya besok saya baru mau sewa mobil untuk mengangkut barang-barang ini. Eh kamu kena sial seperti ini. Ya rejeki kamu lah,” ucap Saras sambil nada ketus namun tidak menyakiti telinga Kania.


“Nanti saya bicara sama Ibu Kos. Saya bilang kamu gantikan saya. Sewa saya kan masih sisa sepuluh hari,” Kania tertegun mendengar suara ketus Saras. Temannya satu ini memang sifatnya serius dan sinis, tapi dia memang sangat baik.


“Ahh Sar kamu malaikat banget sih, peluk sini peluk,” Kania memeluk erat Saras dengan begitu bahagia.


“Lebay,” balas Saras. Mendengar keketusan Saras, Jessica ikut-ikutan memeluk Saras. Senyum tersimpul di bibir Saras. Ia pasti akan merindukan kedua sahabat yang menjengkelkan sekaligus membahagiakan dirinya ini. Kedua orang yang berarti dalam hidupnya.


Mereka berpelukan cukup lama. Sampai badan Saras teras nyeri karena terus didekap.


“Sudah ah,” ucap Saras memberontak yang malah dipeluk semakin erat sama Kania dan Jessica.


***


Senja mulai memendarkan warna kuning berbalut kemerahan di langit. Langit kian hangat sekaligus melenakan mata yang menatapnya. Gerombolan burung terbang berkelempok menuju cakrawala, menuju sebuah ujung dan kemungkinan baru di hadapannya.


Ketiga sahabat itu tengah bersantai sehabis merapikan barang-barang Kania. Kania tengah terlentang di kasur Saras yang sekarang sah menjadi miliknya. Di bawahnya ada Jessica yang juga tengah terlentang, kepalanya bersandar di paha Kania, mata dan jarinya sudah sepenuhnya terpaku pada ponselnya. Dan Saras yang tadi baru selesai menanak nasi, beruntung ia masih memiliki beras untuk ditanak.


“Ni kamu kan sekarang sudah hidup sendiri ya. Kamu harus bisa hemat. Jangan boros Ni,” nasihat Saras.


Kania menoleh kepada Saras. Pantas saja Mama tertarik merekrutnya, bawelnya sama, gumamnya.


Tiba-tiba Jessica yang tadi sangat fokus dengan ponselnya berdiri lalu seperti bersiap untuk pergi.


“Mau ke mana lo?” tanya Kania yang heran dengan tingkah Jessica.


“Mau ke kampus,” jawab Jessica sambil tersenyum.


“Hah ngapain, masa masih ada kelas sih jam segini?” tanya Kania semakin heran.


“Mau ketemuan sama Yoga Ni,” Saras ikut menimpali. Aksennya dibuat seperti orang sinis.


Mulut Kania menganga. Tidak percaya dengan ucapan Saras.