
Matahari telah terbenam seutuhnya, pamit dari aliran waktu kehidupan. Langit yang gelap berhias pendaran bintang dan bulan yang tidak terselimuti awan. Malam sangat cerah hari ini, namun kecerahannya seakan tidak menjalar ke Arman dan Kania. Arman masih bercerita, setiap kata yang keluar dari mulutnya mengeluarkan pilu. Kania juga belum ingin beranjak dari sana, ia masih ingin mendengar cerita Arman. Sesekali ia melirik ponselnya yang terpampang pesan dan panggilan Dino. Ada perasaan tidak enak karena sudah mengabaikan pesan dan panggilan Dino, namun hanya hari ini, ia ingin membantu Arman mengeluarkan bebannya. Membantu orang yang selalu bisa menghiburnya.
***
Sehabis Larisa menangis di telepon, ia tidak lagi memberi kabar kepadaku. Pesan dan panggilanku tidak dibalasnya. Di kampus pun, ia menjadi sulit untuk ditemui. Larisa seakan lenyap. Sampai suatu ketika, aku berpapasan dengannya di sebuah kedai kopi dekat kampus. Ia tengah bersama seorang temannya. Temannya tengah menunduk dengan matanya yang berkaca, sepertinya teman Larisa sedang menceritakan masalahnya ke Larisa. Aku sangat senang, ia masih seperti biasa. Segera aku menghampiri mereka. Larisa terkejut melihat kedatanganku. Ia sampai reflek berdiri seakan ingin pergi yang buru-buru aku tahan.
“Sehabis ini aku ingin berbicara, tolong jangan menjauh,” aku memohon padanya. Suara tawa yang ditahan terdengar dari pengunjung kedai. Aku cukup malu, baru sadar betapa rendahnya diriku tadi. Namun aku tidak bergemingi, selama Larisa tidak menjauh, aku tidak peduli harus merendah seperti tadi – bahkan aku sudi melakukan yang lebih rendah dari ini. Sedetik kemudian, semuanya terasa sangat jelas, semua ini menyadarkanku. Aku mencintainya.
Larisa menatapku sangat dalam. Aku tidak bisa membaca apa yang ia pikirkan sama sekali. Akhirnya ia menganggukan kepala, lalu kembali duduk. Terdengar tepukan tangan pelan seolah mengejek kami. Namun, Larisa diam saja tidak bereaksi apa-apa. Raut wajahnya juga tidak berubah, ia benar-benar tidak terganggu dengan semua ejekan ini.
Temannya sudah selesai mengeluh kepadanya. Ia pamit meninggalkan kami berdua. Aku masih diam, tidak tahu harus berbicara apa. Larisa juga diam, sibuk menikmati es kopi susunya.
“Antar aku,” ucapnya memecah keheningan, lalu beranjak keluar dari kedai.
Di ruang tamu, tampak beberapa orang tengah duduk melingkar. Di tengah lingkaran tersebut ada sebuah pipet yang merupakan alat penghisap narkoba jenis sabu. Alat tersebut tiba-tiba disembunyikan ketika kami masuk. Bau alkohol menyeruak menyesaki ruangan.
“Hobi sekali bawa cowok ke rumah kamu Sa,” cibir seorang pria tua yang sekilas wajahnya mirip dengan Larisa. Larisa menoleh kepadanya, tatapannya sangat sinis. Lalu pergi berlalu.
Kami menaiki tingkat dan sampai ke kamar Larisa. Jantungku berdegup cepat, pikiranku seakan tercekat, mencerna semua ini yang terasa sangat mendadak. Kamarnya sangat polos, hanya ada kaca yang menghias di dindingnya. Kamar Larisa tidak seperti kamar wanita yang aku khayalkan selama ini.
Ketika aku masih terhenyak menatap isi kamarnya, Larisa mendorongku merapat ke dinding. Bibirnya memagut bibirku yang masih terkejut dengan tingkah Larisa.
Sambil tetap menciumku, mata Larisa terpejam, tampat setitik air mata tergantung di sana.