Question

Question
Masa Lalu Arman (5)



Aku menjalani hubungan sebagai orang ketiga dalam hidupnya. Aku menjadi sebuah tempat di mana ia bisa berlari melepaskan gumpalan beban yang menghimpit hidupnya. Agar ia bisa menemukan bahagia.


Aku memperlakukan dirinya layaknya kekasihku dan ia tidak keberatan dengan perlakuan tersebut, meski ia juga tetap menolak pernyataan cintaku. Aku juga tidak mau memaksa, biar waktu yang merangkai semuanya menjadi indah. Harapanku. Kami sering menghabiskan waktu di kafe yang aku rekomendasikan untuk kita kunjungi, kebetulan ia sangat menyukai kopi, sesekali kami juga menonton film atau pergi ke museum atau taman bermain.


Raut wajahnya mulai segar, mulai memberikan pandangan dan senyum yang menggemaskan khas wanita, sesuatu yang tidak akan muncul dalam dunianya yang gelap. Larisa merasakan hidup. Merasakan warna-warni indahnya dicintai. Ia juga memberikan segalanya kepadaku, meski segala yang ia berikan sudah ia berikan juga kepada Radit atau mantan kekasihnya yang lain. Kadang ia meminta maaf karena hal tersebut yang segera aku tampik. Aku tidak peduli. Segala yang aku rasakan dengannya terasa sangat baru dalam hidupku. Segalanya sangat spesial.


Beberapa kali aku hampir berkelahi dengan Radit. Yang selalu dapat dilerai oleh Larisa, terkadang Larisa membawa Radit pergi atau tidak sering juga aku ditarik Larisa menjauh dari Radit.


“Buang harapanmu untuk bisa memiliki Larisa. Ia tidak akan pernah bisa pergi dariku,” ucap Radit suatu ketika menghampiri diriku.


“Mengapa Larisa tidak bisa pergi darimu?” tanyaku dengan nada menekan menahan geram yang menggumpal di dada. Ini memang yang sampai sekarang aku tidak tahu, mengapa Larisa tidak pergi Radit.


Jika aku tanya Larisa masih adakah yang ia sembunyikan dariku. Ia hanya diam, terkadang ia mengangguk dan memohon padaku untuk mengabaikan ucapan Radit. Jika sudah seperti ini, aku tidak berani memaksanya untuk cerita, takut menambah luka dalam hidupnya.


“Kau terlalu baik Man. Aku wanita yang tidak pantas mendampingimu,” ucapnya kepadaku, sebuah ucapan yang selalu membuat aku gusar mendengarnya.


Dan akhirnya kisah cintaku dengan Larisa menguap begitu saja. Pada saat semester akhir kuliah kami, di saat kami sedang skripsi, Larisa menghilang. Ia tidak pernah lagi datang ke kampus. Teman-temannya juga tidak tahu Larisa ada di mana. Desas-desus yang aku dengar dari mereka adalah Larisa hamil dan akan segera menikah. Tubuhku nyaris rubuh begitu mendengarnya, jiwaku seakan terhempas dari raga. Pikiranku tercekat masih tidak percaya dengan yang aku dengar. Bagaimana bisa? batinku menjerit.


Sampai aku pergi ke rumah Larisa untuk mengecek kebenarannya. Papa Larisa yang menemuiku, wajahnya terlihat tidak bersahabat ketika menatapku. “Larisa sudah menikah dan tidak tinggal di sini,” ucapnya kepadaku, nadanya sangat menekan terkesan ia marah kepadaku. Aku menanyakan keberadaan Larisa sekarang, namun ia menggeleng tidak memberitahukan kepadaku, lalu menutup pintu.


Beberapa hari aku mengurung diri di dalam kamar. Menangis, meraung, menyesali kepergian Larisa. Seandainya saja aku bisa membawanya lebih jauh dari dunianya yang gelap. Sandainya saja aku bisa lebih diandalkan. Aku merasa menjadi manusia bodoh yang terpana oleh cinta Larisa kepadaku, sampai melupakan apa yang harusnya aku perjuangkan untuknya.