Question

Question
Mas Yon



"Mas jangan bikin gosip ya Mas,” mata Arinta mendelik. Sekilas memang seperti orang tersinggung, namun nyatanya ia kesal dirinya bisa terbaca dengan mudah seperti ini.


“Saya hanya basi-basi saja, enggak lebih – enggak kurang.”


“Iya iya,” ucap Mas Didi sambil mengangguk. Namun, tatapannya terasa masih menggoda Arinta.


“Dino dari semalam belum pulang. Sepertinya ia menginap entah di mana,” jelas Mas Didi.


Dahi Arinta berkerut, ia berpikir Dino menginap di mana. Terbesit dalam benaknya ia menginap di rumah Kania, seketika perasaannya terasa sangat sedih. Segera ia tampik pikiran tersebut, mungkin Dino menginap di Panti Asuhan, Arinta mencoba berpikir positif.


“Nanti kalau dia pulang, Mas sampaikan deh kalau Dek Arinta mencarinya,” sergah Mas Didi memecah lamunan Arinta.


“Eh apasih. Enggak usah Mas. Tadi saya kan sudah bilang saya hanya sekedar nanya, enggak lebih – enggak kurang,” cegah Arinta dengan panik.


Mas Didi tertawa lepas, ia senang sekali pagi ini sukses menggoda Arinta.


Tawa Mas Didi berhenti ketika Mas Yon menyapanya. Jantung Arinta berdegup, dua titik keringat membasahi dahinya.


“Pa-pagi Mas Yon,” balas Arinta sambil terbata. “Mas saya masuk duluan ya, mau ngecek alat,” Arinta pamit, lalu bergegas meninggalkan Mas Didi dan Mas Yon.


Dari kejauhan ia masih mendengar ucapan Mas Yon. “Mas, nanti kalau Dino datang, saya minta tolong suruh ke meja saya ya.”


Arinta bertanya-tanya dalam hatinya alasan Mas Yon ingin bertemu Dino.


Sedari kembali dari Kalimantan, Arinta memang selalu menghindari Mas Yon. Ia selalu mencari ide untuk mengakhiri percakapan atau mengalihkan mata ketika Mas Yon mengajaknya berbicara. Ada semacam rasa segan dan takut yang mencekam Arinta jika berhadapan dengan Mas Yon. Rasa itu datang ketika ia seakan tahu kematian Pak Abdul akan segera tiba. Bagaimana ia bisa menerawang sejauh itu dan berhasil, padahal ilmu medis yang ia pelajari saja tidak dapat memprediksi seakurat itu.


Mas Yon memang berbeda dengan volunteer lain yang ia kenal. Jika Pak Abdul dihormati para volunteer lewat pengabdiannya, Mas Yon dihormati dengan cara yang aneh, Mas Yon dihormati karena spiritualitasnya. Para volunteer sering menjuluki Mas Yon yang pendiam dan jarang berkumpul dengan orang banyak dengan julukan sufi. Setiap Mas Yon berbicara mereka akan menundukkan kepala dan fokus menyimak ucapan Mas Yon. Bahkan, Pak Abdul yang lebih tua dari Mas Yon saja lebih sering menjadi pendengar dibanding berbicara ketika bercakap dengan Mas Yon. Padahal tampilannya tidak pernah terlihat religius, tampilannya biasa saja seperti tampilan volunteer tua pada umumnya.


Arinta memang tidak pernah menggubris sesuatu yang berbau mistis dan gaib. Lingkungan dan dunia kota yang selama ini menaunginya tidak pernah akrab dengan konsep berlandaskan batin semacam itu. Lingkungan kota mengandalkan manusianya berpikir rasional dengan logika yang sehat, sehingga konsep spiritualitas tampak asing. Dan kerap kali para penempuhnya terlihat aneh dibanding orang-orang umumnya.


Pandangan dan pengetahuan dengan segala rasionalitas logika dan akal sehat ini dijungkirbalikan dengan kejadian-kejadian aneh yang ia alami di Kalimantan. Terlebih kejadian aneh yang menimpa Pak Abdul. Arinta tidak bisa menjelaskan dengan nalar dan logikanya segala keanehan kejadian Pak Abdul. Tetapi Mas Yon dan Kepala Suku yang hidup berdasarkan spiritualitas bisa dengan mudah mengetahui keanehan tersebut.


Untuk pertama kalinya, Arinta benar-benar percaya adanya mistis, gaib, dan segala spiritualitas dan kebatinan.