Question

Question
Angan



Dino merebahkan dirinya. Matanya tengah sibuk menatap foto-foto Kania yang ada di galeri ponsel. Sesekali senyum tersimpul dari bibirnya, mengenang peristiwa yang diceritakan dari foto tersebut. Pikiran Dino masih terganggu oleh ucapan mama Kania tempo lalu. Ucapan mama Kania benar-benar menepuk kesadarannya. Ia merasa sudah mulai dewasa, kehidupannya nantipun harus meningkat dibanding sekarang. Termasuk hubungannya dengan Kania, sudah waktunya hari-hari indah penuh tawa bahagia yang mereka jalani – yang seakan akan berlangsung selamanya – harus berakhir. Hubungannya harus lebih serius, harus naik ke tahap yang matang. Hubungannya harus diisi juga dengan perencaan masa depan yang seksama agar hari-hari indah yang sekarang mereka alami masih dapat berlangsung. Agar tawa mereka masih menggema meriuhkan semesta. Agar ia bisa terus bersama Kania.


Tangan Dino berhenti menggeser foto. Matanya tertambat pada foto dirinya dan Kania sedang berada di sebuah vila di kawasan Puncak. Dino terhenyak masuk ke dalam kenangan di sana. Sewaktu itu, ia dan Kania berandai-andai ketika mereka sudah menikah nanti, mereka ingi memiliki rumah seperti ini. Rumahnya tidak perlu dibangun bertingkat dan tidak perlu terlalu lebar, namun memiliki halaman yang luas di mana akan ia penuhi dengan bermacam tanaman, bunga, dan sekumpulan kelinci yang berhambur mengelilinya. Bunga dan kelinci adalah harapan Kania yang wajahnya sangat sumringah – raut wajahnya terlihat sangat menggemaskan ketika mengkhayalkannya. Dino ingin sekali mewujudkan mimpi tersebut. Ia ingin sekali melihat senyum dan tatapan mata yang menggemaskan Kania melihat hamparan bunga dan sekumpulan kelinci benar-benar ada di depan matanya.


Sekarang senyum Dino mulai lenyap. Kepalanya mulai berdenyut, merencanakan konsep agar impian mereka dapat terwujud. Untuk dapat memiliki rumah seideal itu, Dino harus memiliki uang yang sangat banyak. Estimasi Dino uang yang harus dianggarkan sekitar lima miliar ke atas. Jumlah yang terlampau besar jika Dino hanya mengandalkan upah sebagai volunteer yang hanya berkisar dua juta, belum dikurangi pengeluaran harian dan donasi rutinnya pada sebuah panti asuhan. Rasanya seumur hidup ia bekerja, ia tidak akan bisa memiliki rumah dengan anggaran mencapai lima miliar.


Pikirannya menelurkan sejumlah ide yang banyak ia tampik atau belum ia putuskan. Ada beberapa ide yang sangat rasional namun risiko beban mental yang dihasilkan membuatnya tidak segera mengiyakan. Seperti ide ia mencari pekerjaan lain, bekerja di perusahaan yang biasanya menawarkan gaji dua-tiga kali lebih besar dibanding upahnya, namun dengan risiko ia harus merelakan banyak kegiatan kebaikan karena sudah pasti sebagian besar waktunya tersita oleh rutinitas kerja. Atau ia membuka usaha sampingan untuk menambah penghasilan. Sepertinya kegiatan baik masih bisa dilakukan ketika ia membuka usaha. Mereka bisa berjalan beriringan. Namun dari mana ia memperoleh modal. Jika untuk menyisihkan dari upahnya yang sudah kecil dengan pengeluarannya yang sudah pas, maka jumlah yang ia bisa sisihkan sangat sedikit. Dan ia harus menunggu cukup lama sampai modalnya cukup. Entah usaha apa yang penting ia punya modal yang cukup. Kepalanya makin berdenyut berpikir ide lain, dipecut hati yang riuh tergesa-gesa.


Di tengah pusing yang melandanya, Dino tersenyum. Hatinya seolah bersorak, selamat datang di dunia orang-orang dewasa Dino. Dunia yang lelah akan menantimu.