Question

Question
Pak Abdul



Kilauan senja perlahan lenyap. Awan tebal menyelimuti mega, tidak menyisakan kesempatan pada matahari berbinar menutup hari. Angin bertiup melingkar, menanggalkan sisa-sisa daun dari ranting pepohonan. Hawanya membawa rasa dingin yang janggal, rasa dingin yang tidak menelusup menggetarkan kulit, dingin yang membawa rasa duka di hati. Alam seolah tengah dirundung oleh resah.


Dino dan para volunteer lain tengah berkumpul mengelilingi tenda Pak Abdul. Di dalan tenda itu, tampak Pak Abdul terbaring lemas. Matanya terpejam dengan napas yang tidak beraturan. Tadi siang sewaktu mereka disibukan menanam bibit pohon, Pak Abdul tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri. Reflek, Dino dan yang lain menghentikan aktivitasnya. Mereka langsung membawa tubuh Pak Abdul ke tendanya. Arinta dengan tergesa membawa peralatan medisnya. Dan dengan tangan yang gemetar ia memeriksa kondisi Pak Abdul.


Keringat mengucur deras membasahi wajahnya. Bahunya bergidik. Tidak ada yang genting dengan kondisi Pak Abdul. Kondisinya masih sama seperti kemarin ia periksa, lemah memang tetapi tidak membahayakan. Arinta tidak percaya dengan kejadian janggal yang dialami Pak Abdul ini. Dengan terbata dan takut ia berbisik ke Dino. Alasannya adalah agar tidak terdengar oleh para volunteer lain dan menimbulkan kegaduhan. Dino terkejut mendengar penjelasan Arinta, tetapi ekspresinya cepat kembali normal, tidak seperti Arinta yang masih pucat ketakutan. Dino merasa yakin waktu yang ditunggu Pak Abdul akan segera tiba.


Dari pertama ia lihat Pak Abdul yang tampak damai, lalu tiba-tiba ia melantunkan kitab suci, dan terakhir perbicangannya seminggu kemarin dengannya yang terasa aneh, Dino yakin Pak Abdul sebentar lagi akan meninggalkan dunia. Tidak bisa diuraikan memakai akal sehat memang, tapi nalurinya sangat yakin dengan ini.


Cukup lama Pak Abdul terpejam, bisik-bisik mulai terdengar di antara volunteer. Mereka membicarakan riwayat kehidupan Pak Abdul. Tentang pengabdiannya dalam dunia kerelawanan, yang mereka yakin sangat jarang orang bisa bertahan selama dirinya, bahkan tanpa pernah mendapat penghargaan apapun. Tentang bijaksananya dirinya menyikapi sesuatu yang selalu bisa diambil contoh oleh para volunteer. Tentang pahitnya hidupnya merelakan cinta dan lainnya demi memilih dunia volunteer. Nada suara para volunteer ini begitu getir, seakan tidak siap kehilangan Pak Abdul.


Air mata Dino menitik, membasuh kedua pipinya. Air mata haru, ia bahagia karena mendengar pujian-pujian tersebut. Ia tidak mengira para volunteer menghargai Pak Abdul sama seperti dirinya. Dino menatap Pak Abdul dalam dan penuh hormat. Baginya, pria ringkih yang tengah terbaring ini merupakan contoh seorang yang mulia.


Pak Abdul tersenyum seakan menyalami bulatan cahaya tersebut.


Sadarnya Pak Abdul meriuhkan para volunteer lain. Wajah mereka langsung berubah lega ketika mendengar Pak Abdul sudah sadar. Ada yang jatuh bersimpuh, bersyukur kepada Tuhan. Ada yang bersorak dengan penuh haru, ada yang menangis, semua bahagia dengan kejadian ini.


Sorakan mereka redam ketika Dino keluar dari tenda dan meminta mereka untuk tenang karena Pak Abdul hendak menyampaikan sesuatu. Nada suara Dino terdengar sangat sedih. Kembali ketegangan dan kegelisahan menjalari mereka.


Ini pesan terakhir Pak Abdul kepada kita, ucap Dino pelan.