
Kania baru selesai membuat akun kafe Agape yang sudah bergantu nama di media sosial Instagram, Facebook, Zomato, dan pelbagai media sosial lainnya. Sembari menunggu chief dan barista menata menu-menu yang akan ia foto dan posting di pelbagai media sosial tersebut, Kania mengecek ukiran papan nama kedai kopi baru yang dipesan Arman.
Di langit atap, tertambat frasa Bicara Rasa berwarna silver yang sedang dipoles agar lebih berkilau. Kania tersenyum, ia merasa tengah menjadi seorang pemilik kafe.
Sebuah mobil terpakir di halaman kedai. Kania menoleh, dan langsung menghela napas melihat mobil yanh ia kenali pemiliknya itu. Jessica. Jessica turun dari mobil, lalu segera menghampiri Kania.
“Jess, gue lagi kerja. Bahasnya nanti saja ya,” ucap Kania, lalu kembali menatap pekerja. Jessica mengangguk. Dan duduk diam di samping Kania.
Setelah papan nama baru selesai, Kania masuk ke dalam kedai. Jessica mengekor Kania masih terdiam. Di meja bar, terhidang makanan dan minuman yang disusun tampak sangat cantik dan menggiurkan. Kania meletakan piring berisi waffle with vanilla cream di meja, lalu menggesernya mencari sudut yang pas untuk difoto. Piring satu selesai, lalu mengambil piring lain, begitu seterusnya.
Jessica menatap Kania dengan diam. Tadinya ia ingin meminta Kania tidak menyetujui permintaan Arman. Jessica tidak enak dengan orang tua Kania jika mereka tahu kalau saudaranya telah membantu Kania. Padahal ia sudah berjanji. Ia juga khawatir hubungan Kania dengan Dino akan menjadi renggang, jika Dino tahu Kania bekerja dengan Arman.
Tetapi, melihat Kania seperti ini yang biasanya malas dan santai, tampak sangat serius menjalani pekerjaan. Kania sudah sepenuhnya tenggelam. Mungkin keputusan Arman yang satu ini benar dan baik untuk Kania. Niatnya sudah surut meminta Kania tidak bekerja dengan Arman.
***
Matahari mulai terbenam. Pengunjung mulai berdatangan ke kafe. Beberapa dari mereka bertanya kepada pramusaji mengapa berganti nama kafe. Pramusaji menjawab untuk lebih segar dan ceria mengikuti perkembangan jaman, sesuai arahan Kania tadi. Beberapa pengunjung setuju dengan alasan tersebut. Mereka berpendapat nama sekarang lebih bagus dibanding sebelumnya.
Kania meregangkan lehernya yang kaku. Akhirnya pekerjaannya selesai. Di hadapannya, Jessica masih diam menunggu diizinkan berbicara.
“Jess, gue tahu lo enggak enak sama Papa-mama gue. Tapi ini keputusan gue. Tanggung jawab gue, jadi lo tenang saja Jess,” jelas Kania.
“Iya cantik,” goda Kania sambil menjulurkan lidah, senang melihat wajah depresi sahabatnya.
“Serius Ni,” keluh Jessica jengkel.
“Kita jangan serius-serius, yang boleh serius cuma Saras,” canda Kania. Jessica tertawa mendengar guyonan Kania.
Rasa yang mengganjal di antara mereka tadi sudah lenyap entah ke mana.
Terus Dino udah tau Ni?” Jessica kembali memasang wajah serius. Ini ketakutan kedua Jessica apabila Kania bekerja dengan Arman.
“Sudah kok,” jawab Kania ringan.
“Dia enggak masalah?” Jessica menekan suaranya. Seakan tidak percaya Kania menjawab pertanyaan ini dengan santai.
“Ya enggak,” Kania kembali menjawab sekenanya.
“Dia enggak masalah lo kerja sama Arman?” tegas Jessica memastikan.
Kania diam mendengar pertanyaan Jessica. Bingung mau menjawab seperti apa. Matanya menunduk ke bawah, menatap kosong meja di hadapannya.