Question

Question
Jessica



Jessica duduk sendiri di kampus. Matanya tampak kosong, tatapannya seolah jauh berada di mana. Keputusan Arman yang bersikukuh tetap mendekati Kania masih menyentak kepalanya. Pikiran-pikiran buruk yang akan dialami nanti oleh Arman atau Kania selalu terbayang dalam benak, seolah mereka adalah hantu yang tengah mengutuknya. Jessica takut kedua orang itu tidak kuat menahan luka yang mendera nanti, lalu jatuh terperosok ke dalam duka. Terlebih untuk Arman, Jessica sangat khawatir Arman hidup Arman hancur lagi jika mengalami pahitnya cinta. Jessica tahu, Arman belum sembuh seutuhnya. Kesendirian yang dijalani Arman membuat hatinya rapuh, ia tidak akan kuat mengalami pahit.


Dalam hatinya, Jessica berharap kedua orang itu bisa dapat saling mencintai, ia yakin Arman dapat memenuhi semua yang Kania harapkan, meski ia meragukan Arman dapat membuat Kania jatuh cinta dengan dalam sedalam cinta Kania kepada Dino. Cinta Kania yang dalam itu juga yang membuatnya tidak terlalu mendukung keputusan Arman. Jessica tidak mau sahabatnya kehilangan cinta sejatinya, seorang yang membuat Kania begitu hidup, begitu utuh, begitu kuat, yang membuatnya selalu merasa dilindungi dan dibangun oleh Kania. Jessica tidak mau kehilangan Kania yang seperti ini. Ia sangat sadar, Dinolah yang membentuk Kania sampai tampak seperti seorang malaikat. Jessica seperti di antara dua pilihan, kebahagiaan Arman atau Kania. Ia seolah dipaksa memilih dan merelakan salah satunya. Pikirannya buntu, sangat tidak mungkin ia memilih. Jessica menjengut rambutnya, ia sangat menyesali idenya meminta bantuan Arman untuk menghibur Kania.


***


Dari kejauhan, seorang pria menatap Jessica yang tengah melamun. Wajah Jessica yang sedih membuatnya tahu bahwa Jessica tengah dilanda masalah. Timbul keinginan dalam hatinya untuk menghampiri dan menghibur Jessica. Minimal bisa menemani kesedihannya. Pria itu menatap dirinya – kemeja polos berlengan pendek, kacamata bulat dan besar, dan rambut pendek tampak seperti seorang tampilan seorang dosen. Tampilannya membuatnya menahan diri, ia merasa tidak pantas duduk di samping Jessica.


“Eh ada Jessica, mampir ke kosan gue yuk,” celetuk seorang pria yang dengan santainya berjalan melewati Jessica.


“Masa seorang Jessica mainnya di kosan, pasti apartemen lah, sama gua aja yuk Jess gua punya unit di apartemen A,” celetuk teman pria itu, matanya menatap Jessica yang saat itu mengenakan kaus tipis dan celana legging hitam dengan sepatu kets berwarna abu-abu dengan tatapan nakal.


Gigi pria itu bergemeretak, tangannya dikepal sehingga memperlihatkan urat-uratnya. Melihat perlakuan buruk yang Jessica alami menyulut amarahnya. Emosinya terasa menggumpal nyaris hendak meledak. Pikirannya saja yang masih dingin yang bisa membuatnya duduk memikirkan rencana tanpa harus ada perkelahian. Ia berpikir agak lama, sambil berusaha menahan geram melihat Jessica yang sudah diam tidak tahu harus berbuat apa terus dibullying. Akhirnya ia menemukan solusi, dengan segera ia menghampiri Jessica.


“Kak Jessica,” panggil pria itu yang berdiri kaku di samping Jessica.


Jessica mengangkat kepala, di hadapannya ada seorang pria yang sudah dikenal baik olehnya. Salah satu dari sedikit orang yang baik terhadapnya, yang selalu mau membantu mengerjakan tugas kuliahnya.


“Eh Yoga, ada apa?” Jessica melemparkan senyum ke arah Yoga. Yoga terpana melihat senyuman yang baginya begitu indah. Namun, hatinya tersayat melihat mata Jessica yang berkaca.


“Ikut saya Kak Jessica, ada urusan,” tangannya menarik Jessica dari duduknya. Jessica mengalir saja membiarkan tangan itu menuntunnya.