
Mata Dino terpejam sepanjang perjalanan. Ia tidak tidur, ia hanya tidak ingin diganggu oleh sapaan-sapaan rekan-rekannya. Pikirannya semakin buntu, jawaban yang ia harapkan tidak muncul juga. Niat Dino semakin surut untuk membawa kembali Pak Abdul ke Jakarta, ia malah ingin Pak Abdul tetap di Kalimantan. Jika memang ajalnya ada di sini, ia berharap Pak Abdul dapat meninggal di tempat dan dunia yang ia inginkan. Namun, ia juga ingin kembali ke Jakarta, menemani Kania sampai wisudanya, lalu menjadi orang yang pertama memberikan bunga selamat kepada Kania.
Pertanyaan adalah bisakah, atau lebih tepatnya sudikah ia meninggalkan Pak Abdul. Terlebih, jika memang benar Pak Abdul akan meninggal harusnya ia menghabiskan waktu-waktu terakhir ini bersamanya. Orang tua dan guru yang ia hormati.
Senja telah mengoranye ketika rombongan Dino tiba di perkemahan. Pak Abdul segera menghampiri dan menyambut mereka. Dino menatap Pak Abdul yang sekujur tubuhnya penuh dengan noda tanah. Tubuhnya semakin terlihat kurus dan ringkih. Bibirnya juga terlihat pucat, namun senyum yang tersimpul di bibirnya justru menandakan kondisi Pak Abdul baik-baik saja. Seolah Pak Abdul bermandikan ketenangan. Wajah lelah Pak Abdul hilang, wajahnya tampak dipenuhi kedamaian. Seolah beban yang selama ini menghimpit hidupnya telah lenyap entah ke mana.
Dino semakin yakin bahwa kabar yang dibawa Arinta benar. Dan ia semakin yakin bahwa ia tidak akan bisa membawa Pak Abdul kembali ke Jakarta.
***
Mata Dino seketika terbuka mendengar suara Pak Abdul tengah melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Nada suaranya bagai nyanyian merdu di telinga Dino. Ia tidak mengerti apa yang dibaca Pak Abdul, namun ia merasakan kedamaian saat mendengarnya.
Dino menghampir tenda Pak Abdul. Ia berhenti tepat di depan tendanya, lalu duduk. Termenung menikmati lantunan Pak Abdul. Dari sini terdengar, ada suara serak dan isak ketika Pak Abdul melantunkan ayat Al-Qur'an. Terasa sangat haru ketika mendengarnya. Dino tidak pernah mendengar tangis atau ratapan Pak Abdul. Ucapannya memang selalu cenderung pesimis, namun ia tidak pernah menangis atau meratapi sesuatu. Apa gerangan yang dapat membuat Pak Abdul sedemikan sedih seperti ini, batinnya berbisik.
Tiba-tiba pintu tenda dibuka oleh Pak Abdul. Dino tersentak dari lamunannya. Ia malu ketahuan mencuri dengar Pak Abdul yang sedang mengaji. Pak Abdul mengajak Dino ke tumpukan kayu bekas api unggun. Ia mengambil kayu lagi untuk dibakar di atas sisa bakaran kayu sebelumnya. Tidak makan waktu lama, api sudah menari di udara, menghantar kehangatan untuk manusia di dekatnya.
Pak Abdul mengambil rokok dari saku celananya. Tangannya tampak gemetar ketika menyulutkan rokok tersebut. Ia menyesapnya dalam, lalu menghembuskan asapnya secara perlahan. Dino terpaku di samping Pak Abdul, menunggu dirinya untuk memulai pembicaraan.
“Saya ini memang makhluk egois Dul. Selama ini saya merasa diri saya sendiri. Baru belakangan ini saya sadar bahwa selalu ada Tuhan yang menemani langkah kita,” ucap Pak Abdul dengan lambat. Suaranya terdengar sangat dalam.
“Saya selalu merasa hidup ini sangat sepi, merasa sendiri. Padahal saya tidak pernah sendiri, jika saya melihat ke dalam hati ini, ada sangat banyak orang di sana. Kau, Arinta, dan rekan-rekan volunteer semua menempati ruang di hati saya. Bahkan jika saya tengok lebih dalam lagi, ada Tuhan di sana.”
“Iya Pak,” jawab Dino sambil terisak. Entah kenapa air matanya mengalir membasahi wajahnya.
“Selama ini bagaimana perlakuan saya kepadamu?”
“Bapak sangat baik, bapak sudah membimbing dan menuntun saya pada jalan hidup ini. Bapak adalah orang tua saya, sesuatu yang tidak pernah saya miliki.”
“Bapak sangat berarti dalam hidup saya,” ucap Dino dengan begitu emosional. Dino sudah tidak bisa lagi mengontrol tangisnya.
Pak Abdul mengangguk-angguk. Ia tersenyum puas.
“Saya beruntung. Dalam ketidakmengertian saya tentang kehidupan, saya bisa memperlakukan orang yang ada di dalam hati saya dengan baik.”
“Di,”
“Kembalilah.”
“Dan temani Kania. Ia yang mengisi hatimu. Membuatmu hidup dan utuh menjadi manusia.”
Dino sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Pak Abdul sudah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Kegelisahannya. Ia sangat bersyukur mengenal orang seperti dirinya.