
Tubuh Kania bersandar di dada Dino. Sofa berukuran double size itu tampak sesak diisi sepasang remaja yang tengah memadu kasih. Tangan Kania tengah sibuk menyusuri leher, telinga dan pipi Dino. Matanya menatap dalam Dino yang sedang fokus bercerita tentang Kalimantan. Suara Dino menjelma musik yang membasuh hati Kania. Ia sudah sangat lama merindukan momen seperti ini.
“Aku baru tahu Ni, kalau suku Dayak itu ramahnya bukan main ke pendatang. Bahkan mereka akan merasa sangat terhina jika tidak menyambut tamu dengan baik. Anggapan mereka suku yang seram dan penuh mistis seketika itu juga lenyap dari pikiranku. Ketika kami sampai, kami disambut dengan upacara penyambutan. Disambut dengan hidangan-hidangan tradisional dan khas Kami terasa menjadi pahlawan di sana. Kepala suku menggenggam tangan Pak Abdul, raut wajahnya sangat sedih, lalu, ” cerita Dino terhenti. Ia menatap Kania yang sedang asik memainkan bibirnya.
“Kamu dari tadi enggak dengerin ya,” keluh Dino. Bibirnya menyungging membentuk wajah cemberut.
“Ihh gemes,” Kania langsung menyerang bibir itu. Bibir Kania mulai memagut bagian bawah bibir Dino. Dinopun merespon dengan memagut juga bibir Kania. Lidah mereka saling memasuki bibir masing-masing, membentuk semacam simpul yang erat. Mengalirkan kehangatan dan kesenangan yang menerbangkan mereka.
“Udah Ni, bibir aku bengkak, nanti aku diledekin,” keluh Dino nakal.
“Biarin, habisnya Dino jahat udah bikin Kania sedih,” ucap Kania dengan memasang wajah cemberut. "Kania kira Dino tuh udah kepincut sama gadis Dayak dan gak bisa pulang.”
“Hmm, iya maaf ya Nia,” ucap Dino dengan nada yang terkesan meledek.
“Gak mau denger, minta maafnya gak tulus,” Kania bangkit dari sandarannya. Ia membelakangi Dino sambil memasang wajah yang cemberut.
Tangan Dino memegang erat kedua bahu Kania, ia membalikan Kania ke hadapannya. Kania dengan lemah menuruti keimginan Dino. Matanya menatap Dino yang memasang wajah memelas, wajah yang penuh penyesalan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Kania dan Dino seketika melepas pelukan mereka. Mereka tergesa merapihkan pakaian mereka yang berkerut. Kania bergegas membuka pintu rumahnya. Tampak di depannya seorang wanita dewasa dengan raut wajah yang segar, membuat wanita ini tampak muda.
“Pantas lama buka pintunya, rupanya ada Dino,” ledek wanita itu yang tidak lain adalah ibu Kania.
“Apasih ma,” jawab Kania, menahan malu seakan ibunya mengetahui tadi mereka sedang asik bermesraan.
“Malam tante,” Dino menghampiri ibu Kania, lalu beruluk salam mencium tangan dengan penuh hormat.
Ibu Kania memeluk erat Dino.”Syukur kamu baik-baik saja ya Di, kalau kenapa-napa di Kalimantan bisa bunuh diri kali dia,” mata mama Kania melirik ke arah Kania yang wajah memerah menahan malu. “Gak kamu kabarin aja udah kayak mayat hidup.”
“Mamaaa,” teriak Kania sambil menutup mulut ibunya agar tidak lagi berkata yang membuatnya malu.
Tingkah Kania membuat Dino dan ibunya tertawa terpingkal-pingkal.