
Kania yang diantar oleh Dino tiba di kampus. Pesan Saras membuatnya segera berangkat – menghadap Pak Bambang dan memberikan bab terakhir skripsinya untuk diperiksa. Begitu turun dari lapangan parkir, Kania dan Dino berpisah. Kania langsung menuju ruangan kerja Pak Bambang, sedangkan Dino menunggunya di kantin.
Suasana kantin sore itu sangat ramai. Para mahasiswa itu tengah melepas penat setelah seharian tadi belajar. Di sebuah meja tampak sekumpulan mahasiswa pria tengah duduk melingkar. Mereka membicarakan situasi politik dan sosial sekarang, raut wajah mereka terlihat tegang mencerminkan betapa seriusnya topik pembicaraan mereka. Dino mengambil duduk dua meja tidak jauh dari mereka, sehingga pembicaraan mereka masih bisa ia dengar. Bukan karena Dino senang dengan topik pembicaraan seperti itu, ia hanya senang melihat masih ada rutinitas mahasiswa yang seperti ini, yang tidak akan pernah ia rasakan. Ia berharap semoga diskusian itu tidak hanya berakhir sebagai obrolan, tetapi terrefleksi juga dalam tindakan.
Dari kejauhan, datang sekumpulan mahasiswa pria datang ke arahnya. Wajah mereka sangat antusias ketika melihat Dino.
“Eh Mas Dino,” sapa seorang mahasiswa yang menghampiri Dino. Dino tersenyum ketika disapa. Ia berdiri dari mejanya, lalu menyalami mereka satu per satu.
“Sudah lama Mas?” tanya seorang mahasiswa lain.
“Baru datang kok,” jawab Dino dengan nada yang ceria dan mengesankan keakraban.
“Bagaimana Mas Kalimantan?” tanya seorang mahasiswa lain dengan antusiasnya. “Saya ingin sekali berangkat ke sana,” sambungnya lebih lanjut.
Dino memberitahukan kondisi terakhir kegiatan penanaman pohon kembali. Sebagian besar daerah Kalimantan Barat sudah ditanami bibit pohon baru. Tersisa beberapa wilayah bekas titik api yang perlu ditanami. Diperkirakan dua bulan lagi seluruh wilayah Kalimantan Barat akan selesai ditanami bibit pohon baru. Sekedar info, Basecamp hanya salah satu komunitas relawan dari puluhan komunitas relawan lain yang berpartisipasi pada kegiatan penanaman pohon kembali di Kalimantan ini dan lokasi penyebaran tiap-tiap relawan diatur oleh Pemerintah setempat.
“Kalau Kalimantan Barat sudah selesai, pindah lagi Mas ke wilayah Kalimantan lain?” tanya seorang mahasiswa yang antusias mendengar cerita Dino.
“Kabari Mas, sehabis ujian saya siap berangkat,” sahut mahasiswa lain.
“Iya gue juga Mas.”
“Gue juga.”
Melihat antusias mereka, Dino sangat senang masih banyak remaja seusianya yang peduli dan semangat berbuat kebaikan.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dino menyalakan ponselnya lalu membuka pesan dari seorang wanita bernama Arinta – rekan tim Dino yang saat ini masih bertugas di Kalimantan Barat.
Di, Pak Abdul drop. Sebenarnya sudah beberapa kali dia drop. Pas enggak ada lo dia memforsir banget pekerjaan Di. Maaf gue baru kasih tahu lo, gue diminta dia Pak Abdul jangan kasih tahu lo. Tapi kondisinya makin buruk, gue takut Pak Abdul kenapa-napa. Tolong kembali ke sini Di. Tolong lo bujuk dia supaya pulang ya.
Dino berkeringat. Perasaannya seperti tertumbuk sesuatu. Rasa gelisah dan khawatir merayapi sekujur tubuhnya. Salah seorang yang ia sayangi tengah kesakitan dan Pak Abdul meminta supaya dia tidak boleh tahu. Mengapa? batinnya berteriak. Apakah Pak Abdul takut ia segera menyusul ke Kalimantan jika dia tahu kondisinya. Lalu adakah yang salah dengan itu?