
Kafe Agape tampak meremang. Sebagian besar lampu telah dimatikan, menyisakan tiga lampu yang masih menyala; dua di bar dan satu di meja Arman dan Jessica. Keduanya duduk dalam hening, hanya alunan instrumen yang bernada lirih merambati ruangan. Arman memejam mata, seakan alunan nada itu tengah memeluk dirinya. Seakan ia mengerti kesedihannya.
“Jess,” Arman memulai percakapan. Suaranya terasa parau dan lelah. Jessica mengangguk, sebagai respon ucapan Arman. Melihat Arman seberantakan ini, Jessica sudah menduga ia akan berbicara tentang Kania. Lebih tepatnya perasaannya tentang Kania.
“Gue sayang sama dia Jess,” suara Arman terasa dalam. Wajahnya ia tundukan, seolah badannya terasa sangat lunglai.
Jessica memejam mata. Detik seakan berhenti, memberi ruang untuk Jessica mencerna semuanya. Ingin Jessica meledek Arman, namun sepertinya pikirannya konyolnya masih bisa terkontrol. Jessica menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan.
“Gue bingung Man mau ngomong apa. Kalau gua bilang kan udah gua ingatkan, nanti jangan baper,” Jessica menahan ucapannya, menunggu Arman yang sedari tadi menunduk untuk merespon dirinya. Arman mengangkat kepala dan menatap Jessica, menunggu lanjutan kata yang keluar dari mulut Jessica dengan enggan. Ya namanya rasa, kalau dia udah datang mau bagaimana lagi.”
“Maafin gua ya, udah bawa Kania ke hidup lu,” Jessica menggenggam tangan Arman erat. Suaranya terasa lemah, layaknya orang memelas. Mata Jessica tampak berkaca menatap Arman.
Arman menatap sepupunya ini sangat merasa bersalah kepadanya. Arman membalas pegangan sepupunya, seolah mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja sekarang. Arman memahami penyesalan Jessica. Jessica pasti merasa dia telah membuka kembali luka yang sebelumnya sudah sembuh. Jessica sangat tahu betapa ia sebelumnya pernah jatuh teramat pedih di kisah cinta sebelumnya. Jessica yang terus menghibur Arman dengan tingkahnya yang konyol.
“Caa udah, lo gak salah. Lo kan juga tadi bilang, namanya rasa kalau dia datang mau bagaimama lagi. Harusnya gua malah terima kasih sama lo karena udah membawa Kania ke dalam hidup gua dan mewarnai hari gua,” suara Arman terasa tegas meyakinkan Jessica, sekaligus dirinya sendiri. Meyakinkan bahwa kehadiran Kania bukanlah suatu kesalahan.
Mata Arman masih menyorot pada lukisan Cupid. Matanya tajam, seolah menantang peringatan Cupid. Arman sudah mengambil keputusan. Memutuskan melangkah pada nasib yang sama seperti kisah cinta yang ia rasakan sebelumnya. Namun dengan tekad baru, tidak dengan kelemahan seperti sebelumnya.
“Gue mutusin maju Jess,” suara Arman terasa sangat jelas dan tegas. Jessica tersentak begitu mendengar Arman mengambil keputusan seperti itu. Ia ingin sekali menahan langkah Arman, namun melihat matanya yang bening, rasanya keputusannya sudah tidak bisa lagi dibantah.
“Tapi tolong, jangan pernah memaksa Kania. Kasian dia lagi skripsi Man,” pinta Jessica yang terasa seperti peringatan.
“Ya gue juga sadar Caa, tapi gue juga nggak akan bersikap kayak dahulu. Yang Cuma diam dan nunggu,” ucap Arman sambil memperlihatkan layar ponselnya ke Jessica.
Di layar ponsel tersebut tampak percakapan terakhir Arman dengan Kania.
Kapan kita ketemu, aku tagih hutang kamu.
Oh iya Mas, ayuk ketemu yuk. Aku juga mau cerita banyak sama Mas.