Question

Question
Dilema



“Terima kasih banyak Ma. Tapi tidak ada Om justru membuat saya makin tidak enak untuk menginap. Saya pamit pulang saja,” raut wajah Kania berubah kecewa mendengar keputusan Dino.


“Tapi mama hubungi saya saja, jika ada apa-apa, saya standby,” lanjut Dino sambil beruluk salam lalu melangkah pulang.


Kania dan mamanya mengantar Dino sampai depan pintu rumah. Mereka masih sempat membalas lambaian Dino dari kejauhan.


“Lelaki yang teguh dengan prinsipnya,” ucap mama Kania. Ucapannya terasa dalam.


“Dan kamu, sudahkah teguh dengan pilihanmu?” tanyanya tiba-tiba ke Kania, lalu ia berlalu. Kania terdiam. Mencoba menerka maksud pilihan yang mamanya ucapkan.


***


Mereka masih saling berhubungan. Kania masih membalas pesan yang ia kirim, namun Arman harus menunggu lama, tidak seperti sebelumnya di mana Kania merespon pesannya dengan cepat. Balasan Kania juga terasa dingin, seolah Kania membalas pesan hanya sebatas menanggapi dirinya, tidak begitu menikmati percakapan mereka. Perasaan Arman menjadi tidak karuan, ia cukup tersinggung dengan sikap Kania yang seolah datang dan pergi seenaknya. Harga dirinya memaksa untuk segera meninggalkan Kania, lagipula jika hanya sekedar butuh teman wanita, Arman sangat mudah mendapatkannya. Wanita mana di jaman sekarang yang tidak mau didekati pria tampan, dewasa, dan memiliki latar belakang yang bagus sepertinya. Namun, dirinya sulit sekali mengiyakan harga dirinya. Kania seolah bernyanyi di dalam hatinya. Membasuhnya dengan ketenangan. Wanita bermata sipit, berambut lurus, hidung kecil, bibir tipis, dan memiliki tubuh yang kecil itu telah bersarang di relung jiwanya. Tingkahnya yang kekakanakan dengan ekspresi-ekspresinya yang lucu membuatnya lebih bergairah. Membuat Arman hidup.


Arman menghembuskan asap rokoknya, menumpahkan segala kegelisahan. Asap rokok itu terbang terbawa angin dengan cepat. Kepalanya disandarkan pada kepala kursi, matanya menyorot langit, seolah hendak protes pada sang nasib yang merangkai cintanya selalu seperti ini, seolah ingin memperolok-olok dirinya.


Arman memang sudah tahu Kania memiliki kekasih. Pertemuan pertamanya dengan Kania memanh sudah direncanakan. Jessica meminta tolong kepadanya untuk menghibur Kania, Jessica khawatir skripsi Kania berantakan karena terlalu depresi memikirkan Dino. Dan tentu Jessica memberitahu Arman latar belakang Kania seperti apa. Yang menyebalkan adalah Arman sadar bahwa ia tidak boleh sampai terbawa perasaan. Namun nasib sudah mengetuk palunya. Cupid seolah melayang di hadapannya, menembakkan panah cinta yang menjelma menjadi sosok Kania. Arman rebah dalam pelukannya. Sambil lenyap, suara Cupid menggema, dalam cinta, selalu terselip duka di setiap bahagianya.


Arman tahu. Arman sadar. Karena ia sudah pernah mengalami betapa pedihnya mencintai. Yang ia kecewakan mengapa nasib menggariskan kejadian cintanya harus berulang, apakah ia harus mengalami kembali dibunuh oleh pedihnya cinta di akhir perjalanan nanti.


Mengapa?! Hati Arman menjerit.