
.
Arinta duduk menatap perapian. Kedua tangannya didekatkan ke api unggun yang nyalanya tidak terlalu besar. Jaket gunung yang ia kenakan yang terkenal tebal dan menghangatkan itu belum mampu mengusir dinginnya udara malam. Udara malam seakan menelusup menyelimuti kulitnya yang kuning. Sesekali udara malam bertiup menerpa tengkuknya yang telanjang dan membuatnya bergidik. Terkadang ia menyesal memiliki rambut pendek.
Kepala Arinta terasa pening memikirkan kondisi kesehatan Pak Abdul yang masih memburuk. Ia yang bertugas merawat dan mengecek kesehatan volunteer dalam kegiatan ini merasa gagal karena tidak mampu memulihkan kesehatan Pak Abdul. Beruntung, ia tadi dikabari Dino ia akan segera tiba ke Ketapang. Sebuah kabar baik. Ia berharap kehadiran Dino dapat membuat kesehatan Pak Abdul membaik.
Pak Abdul menghampiri Arinta yang sedang melawan dingin tersebut. Arinta langsung membetulkan duduknya. Ia memasang wajah cemberut, jengkel melihat Pak Abdul yang belum beristirahat juga padahal kondisi kesehatannya sedang buruk.
Pak Abdul duduk di samping Arinta. Bibirnya tampak pucat, pipinya juga terlihat tirus, ia benar-benar sakit. Namun, senyumnya mengembang dengan hangat tidak mengesankan layaknya orang sakit. Dengan napas yang terengah-engah, Pak Abdul mengambil rokok dari saku kemeja, menyulutnya, sedetik kemudian asap rokok mengepul berpadu dengan asap api unggun.
“Merokok saja terus Pak, merokok terus sampai mati” sindir Arinta sinis. Ia jengkel melihat Pak Abdul yang masih membandel juga, padahal ia sudah peringati berulang-ulang untuk berhenti merokok, setidaknya sampai kesehatannya membaik.
Pak Abdul tertawa mendengar sindiran tajam Arinta. Ia tidak merasa tersinggung karena tahu, wanita itu peduli kepadanya.
“Kalau saya merokok, berarti tandanya saya sehat dan baik-baik saja Arinta,” balas Pak Abdul sambil tertawa.
“Loh kok begitu?” respon Arinta, tidak terima dengan ucapam Pak Abdul.
“Iya, jika saya merokok berarti saya sedang sehat. Kalau saya sakit mana bisa saya saya merokok,” canda Pak Abdul.
“Bodo!” ucap Arinta dengan ketus dengan wajah yang memerah sebal. Pak Abdul tertawa puas karena menggoda Arinta.
“Tadi saya ditelpon Dino, lusa dia berangkat,” ucap Arinta memecah keheningan. Tatapan tetap terhenyak pada perapian di depannya.
Mendengar kabar Dino akan di sini, Pak Abdul tersenyum tipis. Ekspresinya tidak terlihat senang.
“Hmm,” balas Pak Abdul dengan datar.
Melihat respon Pak Abdul yang datar, Arinta menatap Pak Abdul. “Loh tumben dengar Dino biasa saja. Biasanya kalau dengar kabar anaknya langsung senang.”
Pak Abdul tertawa kecil. Ia terkenang kedekatannya dengan Dino yang sampai-sampai dijuluki orang tua dan anak oleh para volunteer.
“Karena seharusnya dia tidak ke sini. Pilihan yang ia punya tidak hanya di sini. Ada kebahagiaan yang menyapanya juga di Jakarta. Dan menurut saya, kebahagiaan di Jakarta lebih besar dibanding di sini,” ucap Pak Abdul dengan suara parau dan serak.
Arinta mengangguk-angguk, tidak mengerti dengan maksud ucapan Pak Abdul.
“Sama sepertimu juga Rin. Kamu juga masih memiliki pilihan lain selain di sini. Kebahagiaan yang lebih besar yang dapat kau rasakan bukan ada di sini. Terlebih, kamu tidak seperti saya dan Dino yang memang merasa volunteer sudah seperti jalan kami.”
“Kalau begitu, semua orang juga masih memiliki pilihan lain Pak. Termasuk Bapak,” balas Arinta sengit.
“Kalau saya sepertinya tidak Rin.”