Question

Question
Detak Hati yang Masih terasa



Ibu pemilik warung selesai menyiapkan pesanan Kania; sebungkus nasi beserta lauk-pauknya, seikat teh manis hangat, dan air mineral botol berukuran besar. Kania menyerahkan satu lembar masing-masing uang nominal dua puluh ribu dan lima ribu rupiah, lalu pamit kepada Ibu pemilik warung. Di sepanjang jalan ia menghela napas, baru pertama kali ia rasakan begitu beratnya mengeluarkan uang yang biasanya tidak seberapa. Ia harus memikirkan secara matang anggaran belanjanya, terlebih sekarang ketika ia belum mendapat pekerjaan.


Begitu ia sampai kamar kosnya, ia bingung melihat sepasang sepatu converse berwarna abu kusam terpampang di depan pintunya. Sepatu yang biasa dikenakan Dino, tapi apakah mungkin benar Dino. Pasalnya ia belum mengatakan ke Dino jika sekarang ia mengekos. Pintu terbuka, tampak Dino tengah sibuk menyapu kamar kosnya.


“Kamu kalau mau keluar, biasakan kunci pintunya Ni,” tegur Dino sambil menyapukan kotoran keluar ruangan.


Mata Kania membelalak, masih tidak percaya di hadapannya ada Dino. Dino melihat Kania membawa bungkusan makanan.


“Yah, aku telat yah. Aku juga sudah beli makanan,” keluh Dino sambil tersenyum dengan hangat.


Dada Kania berdetak dengan cepat. Sosok di depannya membawa seperti membawa sesuatu yang memenuhi Kania. Rindu Kania yang entah sudah ia lupakan menyeruak dan terasa lega karena sudah terbayar. Kata-kata Saras menggema di hatinya.


Kania yakin. Dino masih bersarang di hatinya.


***


“Kok Dino tahu kalau Kania sekarang ngekos?” tanya Kania masih tidak percaya Dino secara ajaib bisa ada di kamar kosnya.


“Karena sayang Ni,” canda Dino sambil menyiapkan piring dan gelas untuk mereka makan.


Kania mendengus. Matanya menatap tajam ke Dino. “Sejak kapan Dino jadi sok romantis, suka godain cewek ya di sana?” cecar Kania dengan jengkel.


Dino tertawa mendengar pertanyaan Kania. “Ya enggaklah Ni, orang di sana aku saja dijuluki senior kejam.”


“Enggak percaya!” sergah Kania. Wajahnya memerah dan cemberut.


Wajah Dino seketika sudah ada di depannya. Sedetik kemudian, bibir Dino sudah terpatri di bibirnya. Kania tersentak karena diserang secara tiba-tiba. Namun tak lama, ia membuka bibirnya dan melumat lidah Dino.


“Aku kangen Ni,” ucap Dino terasa sangat dalam. Mata lelah dan sendu Dino menatap lekat Kania. Kania tidak tahan dengan tatapan semenggemaskan itu, ia memeluk tubuh Dino sampai mereka terjerembab di lantai. Lidah mereka kembali bertautan membentuk suatu simpul yang lekat dan hangat.


“Kania juga Di,” ucap Kania dengan lembut. Lalu kembali ia menyerang bibir Dino.


Dino menyambutnya, tapi hanya sebentar. Ia mendorong pelan bahu Kania.


“Ni kita makan dulu,” pinta Dino.


“Engak mau,” rengek Kania sambil mendekatkan kembali wajahnya ke Dino. Mencoba menggoda Dino.


“Nanti makanannya enggak enak Ni,” pinta kembali Dino.


Tiba-tiba pintu dibuka.


“Kania gue bawa makanan nih,” teriak Jessica.


“Eh,” Ia terpaku melihat Kania dan Dino yang masih berpelukan di lantai. Begitupun Kania dan Dino sama terkejutnya.


“Sorry-sorry, dan selamat melanjutkan,” ucap Jessica sambil tersenyum lalu menutup pintu.


“Jess, lo mau kemana?” cegah Kania.


“Mau melapor Ibu Kos biar lo diusir,” canda Jessica. Kania dan Dino tertawa mendengar ledekan Jessica.