Question

Question
Pikiran Arman



Pagi masih tampak gelap. Matahari seakan enggan untuk terbit. Namum, jalanan di bawahnya sudah mulai berisik oleh suara lalu-lalang kendaraan. Berangkat menuju rutinitasnya masing-masing.


Mobil Arman terpakir cukup jauh dari kos Kania. Ia turun dari mobil, lalu menyulut rokok sejenak. Orang-orang yang lalu-lalang menoleh ke arah dirinya. Sebuah pemandangan yang jarang mereka saksikan, terlebih di pagi buta seperti ini. Ada yang terkagum melihat tegap dan maskulinnya sosoknya dengan balutan stelan jas hitam formal – jelas mereka yang kagum ini adalah ibu-ibu dan para wanita. Ada juga yang bingung mengapa sosok seekslusif Arman bisa ada di daerah sini.


Semalam, Kania memang tidak mengiyakan permintaan Arman. Ia merasakan Kania masih meyakini dirinya bahwa ia masih milik Dino. Arman akui ia memang terlalu terburu. Masih banyak hal yang belum waktunya ia lakukan. Namun, ia tidak bisa membohongi perasaannya terhadap Kania semakin menggebu. Darahnya semakin berdesir, meminta dirinya untuk merengkuh Kania, menjadikan miliknya seorang.


Arman kembali menyulut rokoknya yang habis terhisap udara karena ia lama termenung. Asap kembali menari-nari di sela tangannya, seakan berusaha menyadarkan Arman yang kembali melamun.


Arman merasa waktunya sudah semakin sedikit. Sudah saatnya ia berhubungan lebih serius. Sindiran-sindiran orang tuanya terngiang dalam kepala, seakan mengutuk dirinya. Orang tuanya berharap Arman segera mencari istri dan memiliki cucu yang bisa menemani hari tua mereka.


“Kamu kurang apa Man. Kamu punya segala yang laki-laki dambakan. Kamu punya semua yang wanita inginkan. Masa mendapatkan satu saja yang sesuai seleramu kamu tidak mampu. Jangan terlalu idealis dan menuruti angan-anganmu Man,” nasihat Bapaknya sewaktu lalu.


Dengan tegas ia membantah ucapan Bapaknya. Ia masih yakin bahwa pasangan ideal adalah yang sesuai dengan hatinya. Ia tidak mau menyerah dengan keadaan lalu sembarang menikahi wanita hanya demi melanjutkan keturunan atau memuaskan harapan orang tuanya.


Rokoknya kembali habis ditelan udara. Ia kembali menyulutkan rokok, menghisapnya sekali, lalu membiarkannya tergantung di sela jemarinya.


Ucapan Bapaknya memang masuk akal. Ia memiliki semua hal yang dapat membuat wanita jatuh hati. Yang ia tidak habis pikir adalah mengapa hati Kania masih tertambat oleh Dino, pria yang menurut kacamatanya biasa saja. Pria yang bahkan sering mengecawakan Kania dengan keputusan-keputusan egoisnya.


Arman dapat membaca wanita yang tertekan dan depresi karena pasangannya, meski tidak diceritakan. Dan Arman juga yakin sekarang ia bisa menyelamatkan wanita-wanita yang bernasib demikian. Toh ia pernah setidaknya membuat hidup Larisa lebih baik, padahal sewaktu itu ia masih polos dan banyak tidak mengerti apapun. Awalnya Arman mengira Kania merupakan salah satu wanita yang bernasib sial seperti demikian, namun ternyata tidak. Kerinduan, kebahagiaan, senyum Kania saat membicarakan Dino terasa sangat jujur. Terasa murni luapan cinta kasih yang ia rasakan oleh hadirnya Dino dalam diri Kania.


Mengapa bisa, apa yang sudah Dino perbuat sampai Kania jatuh hati sekali kepadanya, pikir Arman.


Sampai pagi berpendar dan semakin banyak orang lalu-lalang sembari melirik ke arahnya, Arman masih tidak menemukan jawabannya.


Ya, cinta memang sesuatu yang tidak bisa diukur oleh logika.