Question

Question
Quality Time? (3)



Dino kembali menelepon Kania yang sudah kesekian kali tidak ia angkat. Rasa khawatir mendera sekujur tubuhnya. Dino takut terjadi apa-apa kepada Kania. Percakapannya yang tadi cair seketika berhenti empat jam yang lalu. Pesan terakhir Kania adalah dia sedang menunggu seorang teman di kafe Agape. Dino pikir yang ditunggunya adalah Jessica, namun tadi ia tanya Jessica hari ini ia tidak ada janji dengan Kania. Siapa yang Kania tunggu? hatinya bergumam.


Dino kembali mengetik pesan, meminta ijin kepada Kania untuk menyusul ke ka kafe Agape. Beberapa lama ia tunggu, Kania tidak membalas. Sempat terbesit dalam benaknya untuk langsung menemui Kania ke sana. Namun, pikirannya membantah keputusan tersebut. Sebelum memperoleh izin, sangat tidak etis tiba-tiba ia menyusul ke sana. Setiap orang membutuhkan waktunya pribadi, diapun juga tidak suka diganggu jika sedang fokus mengerjakan sesuatu. Namun, firasatnya mengakui, ada sesuatu yang tidak benar.


***


Matahari mulai turun dari puncaknya, nyaris terbenam. Warna senja mengudara di cakrawala, menberi pesan hangat bagi semesta yang dinaunginya. Kafe Agape mulai dipenuhi pengunjung, mereka yang hendak beristirahat menikmati suasana sore, baik sendiri atau dengan pasangan seperti yang terlihat dari Arman dan Kania.


“Dino tuh orangnya sangat peduli sama orang lain. Sampai pernah dia ngomong kayak gini ke aku, ruang di hatiku bukan hanya ada namamu Ni, ruang di hatiku terisi oleh banyak orang yang aku kasihi. Berat ya omongannya, Kania juga gak terlalu nangkep maksudnya apa, tapi yang jelas pasti itu prinsipnya.”


“Dino juga selalu membuat aku merasa diprioritaskan, selalu membuat aku merasa penting. Dia benar-benar tidak pernah sengaja melakukan hal-hal yang membuat Kania sedih. Bagi Kania, Dino tuh malaikat yang dikirim Tuhan untuk manusia. Untuk aku,” tutup Kania.


“Kamu beruntung Ni, kamu dapat menemukan dan menjalani cinta yang indah. Kamu beruntung menemukan pasangan yang kau inginkan. Dan kamu tidak perlu berjuang mati-matian untuk bisa bersamanya. Kisah cintamu sungguh indah, seolah Cupid sendiri yang hadir merangkul kalian,” ucap Arman dan parau dan serak. Ucapannya terasa berat. Ucapannya membawa kesedihan yang dapat dirasakan juga oleh Kania.


“Kebanyakan orang harus jatuh, bahkan terbunuh sepi dan kubangan derita hanya untuk mencintai. Kebanyakan orang mati-matian mempertahankan atau memperjuangkan rasa cintanya,” sambung Arman, kali ini suaranya sangat emosional. Kesedihan sudah menggema dalam balutan kata-katanya.


“Mas,” Kania kembali memegang tangan Arman. Matanya menatap Arman dengan sendu. Arman merasakan simpatik dari Kania. Ia tidak tersinggung atau merasa dikasihani. Ia malah seolah diajak bersandar melepaskan beban yang menghimpitnya.


“Mas gantian cerita, selama ini selalu aku yang cerita. Ucapan Mas tadi terasa sedih Mas, kalau boleh aku mau dengar Mas,” sambung Kania dengan nada yang penuh perhatian.


Arman mengangkat cangkir espresso coffe dengan double shot. Ia menghirupnya perlahan. Pikirannya tengah mengorek ingatan-ingatan masa silam yang sudah lama ia tampikan.