Question

Question
Pasar Malam



Ni, tahu enggak kita dari tadi dilihatin orang-orang,” bisik Arman perlahan sambil berjalan.


“Hah serius?” Kania terperangah mendengar ucapan Arman. Ia menunduk menahan malu.


“Iya.”


“Mas kok enggak cegah sih,” Kania meradang namun dengan suara yang berbisik dan ekspresi yang ia paksa untuk datar.


“Ya karena seru aja dilihatin,” bisik Arman dengan santainya.


Tangan Kania memegang erat tangan Arman. Ingin sekali ia mencubit perut Arman.


***


Kegusaran Kania seketika hilang setelah melihat gemerlap wahana dan keriuhan para pengunjung. Ia mendengar teriakan pengunjung yang sedang menaiki wahana ombak – sebuah wahana semi automatis yang membuat pengunjung berputar secara bergelombang. Dengan kekanakan, Kania menyeret Arman ke wahana ombak. Setelah mengantri beberapa menit, mereka akhirnya menaiki wahana tersebut. Wahana mulai berputar dengan tempo yang lambat. Arman melihat mata Kania berbinar, lalu tersenyum puas. Ia berhasil menghapus kesedihan dari raut wajah Kania. Senyuman itu masih mengembang dengan tatapannya yang tidak mau ia alihkan dari wajah Kania yang tidak sadar karena begitu larut terbawa keseruan wahana.


Lalu mereka menaiki wahana helikopter putar. Agak janggal sebenarnya Arman menuruti permintaan Kania yang satu ini. Wahana ini biasanya dinaiki oleh anak-anak. Dan benar saja, hanya mereka dua orang dewasa yang mengantri. Beberapa ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya tersenyum-senyum geli melihat mereka.


“Dasar anak kecil,” ejek Arman.


“Biarin,” balas Kania sambil menjulurkan lidahnya.


“Mas mau main apa?” tanya Kania antusias. Rasa jengkelnya sudah lemyap entah ke mana.


“Enggak tahu Ni, kamu saja yang pilih. Aku yang penting bisa menatap tawa dan senyuman kamu,” jawab Arman santai sambil terus menatap Kania yang tengah dalam keriangan.


“Hmm Mas tuh,” gumam Kania. Wajahnya menunduk tersipu mendengar ucapan Arman.


“Hmm tapi sepertinya seru jika melihat ekspresi takut kamu. Ke rumah hantu yuk.”


“Gak!”


Arman tertawa begitu lepasnya.


Kania terus menyeret Arman semaunya. Dan Arman tampak tidak keberatan. Seperti ketika Kania meminta Arman memenangi sebuah boneka dalam permainan memasukan ring ke dalam botol yang berpuluh kali dicoba Arman tetap tidak berhasil. Dan diakhiri dengan ejekan Kania, namun Kania tetap senang dan menikmatinya. Atau ketika ia diminta Arman berfoto di samping badut yang menjajakan balon. Arman menuruti semua hal yang diinginkan Kania, yang dapat membuatnya tertawa lepas, membuatnya ceria dan begitu hidup. Baginya tidak ada yang lebih menggairahkan selain melihat Kania yang ceria dan segar. Dan malam ini ia sangat bersyukur bisa menikmatinya.


Dan terakhir Kania menyeret Arman ke wahana bianglala. Wahana yang selalu ia naiki ketika masih kecil. Meski tidak sebagus dan sebagus bianglala yang ada di taman-taman bermain, namun bianglala pasar malam tetap memiliki tempat yang spesial di hati Kania. Sehabis membeli gulali yang akan dimakannya nanti ketika ada di bianglala, Kania dan Arman membeli tiket. Setelah mengantri beberapa menit, Kania dan Arman menaiki bianglala.


Dan perasaan Arman yang sudah ditahannya lama, melesak ingin keluar.