
Waktu masih menunjukkan pukul 10.00, tetapi Kania tengah sibuk mengobrak-abrik isi lemarinya. Biasanya di waktu ini, terlebih sekarang sekarang adalah akhir pekan, ia masih terlelap di ranjangnya. Kania baru bangun nanti ketika cahaya matahari siang yang panas merayapi wajahnya. Membuat wajahnya memerah seperti udang rebus.
Namun pagi ini bangun dengan begitu semangat.
Tempo hari Arman mengajaknya pergi akhir pekan ini. Kania dengan cepat mengiyakan ajakan Arman. Dirinya sudah lama tidak berlibur. Skripshit sudah banyak menyita akhir pekannya. Ditambah perasaannya makin tak karuan karena Dino belum juga memberi kabar. Pesan terakhir yang ia kirim ke Dino telah menumpahkan segala rasa kecewa yang menggumpal dalam dadanya.
Kania mengambil sebuah pakaian, menyetelkannya pada tubuhnya yang sedari tadi hanya terbalut handuk, lalu melemparkannya sembarang – tanda tidak cocok, terus berulang sampai isi lemarinya nyaris habis.
Wajah Kania tampak bingung setelah kehabisan pakaian untuk ia setel dan lempar. Ditambah kepalanya menjadi pening melihat ruangan kamarnya menjadi sangat berantakan, seolah habis terjadi perang di ruangan ini. Akhirnya Kania mengambil sebuah kaus terusan berwarna hitam yang berdesain menyerupai dress selutut dan sebuah kardigan coklat yang berlengan batwing dengan nuansa pastel. Senyum puas tergambar dalam wajahnya, namun sedetik kemudian wajahnya kembali lesu. Penampilannya nanti akan terlihat santai bahkan cenderung kekanakan. Kania akan mati malu jika nanti Arman berpenampilan casual dan dewasa. Namun, ia tidak memiliki pakaian yang dapat mengesankan dirinya menjadi elegan, mungkin ada, tetapi pakaian itu merupakan pakaian formal yang ia biasa gunakan untuk pesta atau undangan pernikahan.
Ponselnya berbunyi. Tanda notifikasi pesan yang masuk. Kania membuka ponselnya, terpampang nama Arman di layar ponselnya.
Aku tunggu di kafe ya, tulis Arman.
Melihat pesan itu, Kania menjadi panik. Akhirnya Kania membulatkan diri dengan pilihan awalnya. Ia akan memasang wajah cemberut jika nanti Arman meledeknya kekanakan. Biar Arman tidak enak sendiri.
***
Sepuluh mobil pick up tiba di posko penginapan Dino. Mobil tersebut membawa bibit pohon-pohon kayu dan buah yang siap untuk ditanam. Melihat kedatangan mobil-mobil tersebut, para volunteer menghampiri. Sedetik kemudian, mereka mulai sibuk menurunkan bibit tanaman, lalu ditaruh dengan rapih di samping posko penginapan. Salah seorang pengemudi menghampiri Dino yang tengah sibuk menurunkan bibit tanaman. Ia kemudian memberikan sebuah ponsel kepada Dino.
Dino sumringah mendapati kembali ponselnya. Akhirnya usai sudah statusnya sebagak manusia purba yang sedari kemarin disematkan teman-temannya. Ia segera mencolokan charger ke ponselnya sudah habis daya. Baru beberapa detik terisi, Dino sudah menyalakan ponselnya.
Dering ponselnya terus berbunyi, tanda banyaknya notifikasi pesan yang masuk. Ia membuka aplikasi Whastapp nya. Ada puluhan pesan yang masuk, paling banyak sudah pasti Kania, kedua adalah seorang wanita yang dinamai Bunda. Dino segera membuka pesan dari Kania dan mulai membaca pesannya satu per satu.
Awalnya Dino tersenyum-senyum sendiri membaca pesan tersebut, lalu wajahnya gelisah menandakan dirinya khawatir. Sampai akhirnya wajah itu berubah menjadi sedih. Bagian-bagian terakhir pesan Kania seolah menumpahkan segala amarah, kecewa, frustasi yang bercampur jadi satu. Ada beberapa baris pesan yang sudah dihapus.
Dino bergetar membaca pesan terakhir Kania. Firasat buruknya benar terjadi.
Aku lelah, tulis Kania.