
Dino bersama rekan volunteer lain dan beberapa volunteer baru tengah sibuk mencicil mengemas perlengkapan yang mereka bawa. Mereka tengah menunggu Arinta dan rombongan lain menjemput mereka. Sebenarnya Dino dan lainnya sudah tiba di Pontianak lusa kemarin, namun mereka harus menunggu rombongan yang akan menjemput mereka sekitar tiga hari lagi. Ditambah perjalanan dari Ketapang ke Pontianak memakan waktu sekitar sembilan jam, begitupun sebaliknya. Dan Arinta harus mampir sebentar ke PMI Pontianak untuk meminta stok perlengkapan medis. Jadi baru malam nanti rombongan jemputan itu baru tiba dan besok ia baru bisa berangkat.
Selama beberapa hari ini, Dino disibukan oleh kegiatan penyuluhan dan pelatihan sebagai bekal persiapan para volunteer baru baik secara fisik maupun mental. Sikap Dino sangat serius ketika memberikan penyuluhan dan pelatihan, bahkan cenderung tidak ramah. Bagi volunteer baru tersebut, Dino seperti seorang senior kejam yang suka mengerjai mereka. Sampai-sampai kemarin ada volunteer wanita yang menangis ditegur Dino karena bercanda ketika sedang pelatihan fisik. Namun, rekan volunteer lain yang mengenal Dino, tahu Dino jarang sekali bersikap sekaku ini, biasanya ia asik dan humble. Dino seolah tergesa oleh sesuatu, entah apa.
Saat malam, tiga mini van datang ke penginapan Dino dan kawan-kawan. Mereka adalah rombongan jemputan. Dino yang tengah duduk di teras langsung menghampiri rombongan tersebut dan menyalami mereka satu per satu-satu.
“Gue denger lo membully volunteer baru Di,” tegur Arinta ketika turun dari mini van. “Anak-anak ngadu ke gue katanya lu kejam banget dari kemarin.”
“Santai aja kali Di, kegiatan ini masih lama kok selesainya. Kayak biasa aja.”
“Gue enggak mau ada yang kenapa-napa lagi dan nanti gua bisa tertahan di sini. Gue ingin buru-buru jemput Pak Abdul terus balik ke Jakarta,” balas Dino. Suaranya tegas seakan ia jengkel oleh teguran Arinta.
Arinta mendengus begitu nama Pak Abdul disebut.
“Nanti gue mau ngomongin masalah Pak Abdul Di,” ucapnya sambil berlalu menuju penginapan.
***
Malam sudah begitu larut, Dino dan Arinta masih terjaga di teras depan. Wajah mereka terlihat lelah, namun tatapan mereka masih segar. Mereka yang biasa begadang seperti Dino dan Arinta ini memang sulit sekali mengantuk ketika malam. Dino meletakan satu cangkir kopi hitam dan satu cangkir susu coklat panas di meja guna menghangatkan tubuh mereka, terlebih untuk Arinta yang memang masih belum bisa beradaptasi dengan dinginnya malam Kalimantan.
“Pasti Pak Abdul enggak mau pulang ya,” tebak Dino sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu di sebelah Arinta.
Arinta mengangguk pelan, wajahnya langsung terlihat muram.
“Kita tahu ya Di, kalau untuk berbuat baik, Pak Abdul itu bukan main keras kepalanya. Sekali ia berkata ia ingin, itu tidak bisa ditahan. Pak Bos saja kesulitan menghadapi keras kepalanya Pak Abdul.”
“Dan tebakan lo benar Di. Ia bersikukuh tidak mau pulang ke Jakarta. Tapi..,” Arinta menahan ucapannya. Wajahnya tampak semakin muram.
Dino menoleh ke Arinta yang terpaku. Ia menunggu lanjutan ucapan Arinta dengan tidak sabar. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
“Tapi apa Rin?” tanya Dino tidak sabar.
“Gimana ya, gue takut ngomongnya,” ucap Arinta dengan terbata.
“Rin, apa?” Dino menekan suaranya, memaksa Arinta bercerita.
“Gue..”
“Gue..”
Detik seakan berhenti berdetak.
“Gue rasa Pak Abdul mau meninggal No.”